KabarBaik.co, Surabaya – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menimbulkan efek domino di berbagai sektor, termasuk layanan kesehatan. Kenaikan biaya pengadaan alat medis, suku cadang, hingga sejumlah kebutuhan operasional yang masih bergantung pada impor menjadi tantangan tersendiri bagi rumah sakit.
Meski demikian, National Hospital Surabaya memastikan belum melakukan penyesuaian tarif layanan kepada pasien. Di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan berbagai kalangan, manajemen rumah sakit memilih melakukan efisiensi internal untuk menjaga kualitas pelayanan tetap optimal.
Direktur Utama National Hospital dr Hendera Henderi SpOG mengatakan hingga saat ini tarif layanan masih dipertahankan seperti sebelumnya. Menurutnya, kondisi ekonomi yang sedang berat tidak boleh langsung dibebankan kepada masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan.
“Sampai saat ini belum ada perubahan tarif layanan. Kami memahami kondisi ekonomi masyarakat sedang tidak mudah. Sebagai institusi pelayanan kesehatan, kami juga ikut menanggung beban tersebut,” kata Hendera ditemui di Nasional Hospital, Jumat (12/6).
Ia mengakui pelemahan rupiah memberikan tekanan cukup besar terhadap operasional rumah sakit, terutama pada pengadaan alat kesehatan yang sebagian besar masih berasal dari luar negeri. Namun National Hospital memilih memperkuat efisiensi daripada menaikkan biaya layanan.
“Kami lebih fokus melakukan efisiensi ke dalam. Bagaimana biaya operasional bisa ditekan tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada pasien,” ujarnya.
Berbagai langkah efisiensi pun mulai diterapkan. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mengatur penggunaan energi di lingkungan rumah sakit.
Menurut Hendera, sistem tersebut memungkinkan pendingin ruangan atau AC bekerja lebih efisien. Ketika ruangan tidak digunakan, sistem dapat menyesuaikan konsumsi energi secara otomatis sehingga biaya listrik dapat ditekan.
“Kami mengoptimalkan penggunaan teknologi untuk mengurangi pemborosan energi. Pengaturan suhu dibuat lebih stabil sehingga konsumsi listrik lebih efisien,” jelasnya.
Selain itu, digitalisasi juga terus diperluas untuk mengurangi penggunaan kertas dan meningkatkan efisiensi administrasi. Langkah tersebut dinilai mampu membantu rumah sakit menjaga biaya operasional tetap terkendali di tengah tekanan ekonomi global.
Meski menghadapi tantangan akibat fluktuasi nilai tukar, National Hospital memastikan agenda pengembangan layanan tetap berjalan. Rumah sakit masih berupaya menghadirkan inovasi dan teknologi medis terbaru agar tidak tertinggal dari perkembangan layanan kesehatan internasional.
“Untuk alat kesehatan dan inovasi pelayanan tetap menjadi prioritas. Kami tidak ingin kondisi ini membuat rumah sakit tertinggal. Kami tetap berusaha menghadirkan teknologi terbaru meskipun bebannya cukup berat,” tegas Hendera.
Ia berharap kondisi ekonomi nasional segera membaik sehingga tekanan terhadap sektor kesehatan dapat berangsur mereda.
“Kita berharap badai ini segera berlalu dan kondisi ekonomi kembali normal. Kalau situasi membaik tentu ruang gerak dunia usaha, termasuk sektor kesehatan, akan lebih baik,” tambahnya.
Sementara itu, CEO National Hospital Ang Hoey Tiong menegaskan rumah sakit di Indonesia memiliki daya saing yang tidak kalah dibandingkan rumah sakit di luar negeri. Baik dari sisi tenaga medis, fasilitas, maupun teknologi layanan kesehatan.
“National Hospital hadir untuk membantu masyarakat mendapatkan layanan kesehatan terbaik di dalam negeri,” ujarnya.
Komitmen tersebut juga diperkuat melalui pengembangan layanan digital. CIO National Hospital Alexander Ang mengatakan pihaknya telah menghadirkan National Hospital Apps yang memungkinkan masyarakat dari berbagai daerah terhubung langsung dengan dokter-dokter National Hospital.
Melalui aplikasi tersebut, pasien dapat melakukan konsultasi secara langsung, mengakses rekam medis, hingga memantau hasil pemeriksaan dengan sistem yang terintegrasi dan aman.
“Seluruh data pemeriksaan tersimpan dalam aplikasi sehingga memudahkan pasien mengakses layanan kesehatan secara digital,” kata Alexander.
Komitmen peningkatan layanan itu juga dipaparkan saat National Hospital menerima kunjungan kerja Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI bersama PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo).
Dalam kesempatan tersebut, manajemen National Hospital memperkenalkan berbagai pengembangan layanan, peningkatan kapasitas fasilitas, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan sumber daya manusia kesehatan yang kompeten dan profesional.
Kunjungan tersebut sekaligus menjadi sarana pengawasan terhadap pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan bagi Anggota DPR RI beserta keluarganya. BURT DPR RI meninjau langsung kualitas pelayanan yang diberikan rumah sakit guna memastikan standar layanan tetap terjaga.
National Hospital menegaskan akan terus berinvestasi pada pengembangan fasilitas, teknologi medis, dan kompetensi tenaga kesehatan guna menjawab kebutuhan layanan kesehatan yang semakin kompleks. Langkah itu dilakukan meskipun industri kesehatan tengah menghadapi tekanan akibat pelemahan rupiah dan ketidakpastian ekonomi global.
Di tengah tantangan tersebut, National Hospital memilih mengambil jalan yang tidak mudah: menahan kenaikan tarif, memperkuat efisiensi, dan tetap berinvestasi pada inovasi layanan demi menjaga akses kesehatan masyarakat tetap terjangkau. (*)






