Pesan Sejuk Bupati Mojokerto untuk Umat Buddha di Momen Hari Waisak 2570 BE

oleh -116 Dilihat
Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa saat menghadiri peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Buddhis Era (BE) Tahun 2026 di Maha Vihara Mojopahit, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan.
Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa saat menghadiri peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Buddhis Era (BE) Tahun 2026 di Maha Vihara Mojopahit, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan. (Foto: Ist)

KabarBaik.co, Mojokerto – Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa mengajak umat Buddha dan seluruh masyarakat untuk terus menebarkan nilai-nilai perdamaian, cinta kasih, serta memperkuat kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.

Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Buddhis Era (BE) Tahun 2026 di Maha Vihara Mojopahit, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Minggu (31/5).

Kehadiran Bupati yang akrab disapa Gus Barra itu disambut para Bhikkhu, tokoh agama Buddha, tokoh masyarakat, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Forkopimca Trowulan, serta ratusan umat Buddha yang mengikuti rangkaian perayaan Waisak di kawasan wisata religi yang dikenal dengan ikon Patung Buddha Tidur.

Dalam sambutannya, Gus Barra menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Tri Suci Waisak kepada seluruh umat Buddha. Ia berharap peringatan Waisak tahun ini membawa kedamaian dan keberkahan bagi seluruh masyarakat.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Mojokerto dan seluruh masyarakat Kabupaten Mojokerto, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE Tahun 2026 kepada seluruh umat Buddha. Semoga peringatan Waisak tahun ini membawa kedamaian, kebahagiaan, kebijaksanaan, dan keberkahan bagi kita semua,” tuturnya.

Menurut Gus Barra, Hari Raya Tri Suci Waisak menjadi momentum penting untuk merefleksikan nilai-nilai luhur ajaran Sang Buddha Gautama, mulai dari kebijaksanaan, pengendalian diri, cinta kasih, hingga pengabdian kepada sesama. Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan di tengah berbagai tantangan kehidupan modern.

Mengusung tema “Menebar Cita, Menumbuhkan Perdamaian Dunia”, peringatan Waisak tahun ini mengajak umat menjadikan Dharma sebagai pedoman dalam membangun kehidupan yang berlandaskan moralitas, kebajikan, dan kebijaksanaan.

“Di tengah berbagai tantangan kehidupan saat ini, nilai-nilai Dharma menjadi pelita yang menuntun manusia agar tetap berada pada jalan kebajikan. Dharma tidak hanya dipahami sebagai ajaran spiritual semata, tetapi juga menjadi sumber moral yang membimbing manusia untuk hidup dengan penuh kesadaran, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama,” jelasnya.

Lebih lanjut, Gus Barra menegaskan bahwa Waisak juga menjadi momentum strategis untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan, toleransi, persaudaraan, dan welas asih di tengah keberagaman Indonesia.

Menurut dia, semangat hidup rukun dan saling menghormati antarumat beragama merupakan modal sosial yang sangat penting untuk menjaga persatuan bangsa sekaligus mendukung pembangunan daerah.

Pesan tersebut, lanjutnya, sejalan dengan kehidupan masyarakat Kabupaten Mojokerto yang selama ini dikenal menjunjung tinggi nilai gotong royong, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama.

“Keragaman yang kita miliki harus terus dirawat sebagai kekuatan bersama untuk membangun Kabupaten Mojokerto yang maju, inklusif, dan sejahtera,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Gus Barra juga mengapresiasi berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Waisak.

Ia menilai kegiatan bakti sosial, pelayanan kemasyarakatan, kepedulian terhadap lingkungan, serta berbagai bentuk pengabdian lainnya merupakan implementasi nyata ajaran Dharma yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat luas.

Bagi Gus Barra, penyelenggaraan Waisak di kawasan Trowulan memiliki makna tersendiri. Sebagai wilayah yang menyimpan jejak kejayaan Kerajaan Majapahit, Trowulan dinilai menjadi simbol persatuan dalam keberagaman yang tetap relevan hingga saat ini.

“Warisan sejarah Majapahit mengajarkan kepada kita bahwa kemajuan suatu bangsa hanya dapat terwujud apabila masyarakatnya mampu hidup berdampingan secara damai, saling menghormati perbedaan, dan mengedepankan kepentingan bersama,” ungkapnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Mojokerto untuk terus menjaga kerukunan, memperkuat persaudaraan, serta menjadikan keberagaman sebagai kekuatan dalam membangun daerah.

Sementara itu, Ketua Yayasan Lumbini sekaligus pengelola Maha Vihara Mojopahit, Rudy Budiman, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Bupati Mojokerto dalam perayaan Waisak tahun ini.

Menurut Rudy, dukungan yang diberikan Gus Barra terhadap berbagai kegiatan keagamaan menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Mojokerto.

“Kami mewakili umat Buddha di Mahavihara Mojopahit, kami sekali lagi mengucapkan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pak Bupati Albarraa untuk bisa hadir kembali dalam setiap kegiatan yang ada di Mahavihara Mojopahit khususnya, dan umat Buddha pada umumnya,” ungkap Rudy.

Ia menambahkan, perayaan Waisak tahun ini dihadiri umat Buddha dari berbagai daerah, seperti Mojokerto, Jombang, Kediri, Surabaya, Situbondo, dan sejumlah wilayah lainnya sebagai wujud semangat persaudaraan serta kebersamaan antarumat Buddha.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.