KabarBaik.co, Nganjuk – Hari Raya Idul Adha selalu identik dengan momen kebersamaan dan tradisi “pesta” daging, baik kambing maupun sapi. Berbagai hidangan lezat mulai dari sate, gulai, krengsengan, hingga rendang siap memanjakan lidah keluarga.
Namun, di balik kelezatannya, konsumsi daging merah secara berlebihan dalam waktu singkat menyimpan risiko kesehatan yang cukup serius.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk, dr. Tien Farida Yani, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan selama momen lebaran kurban ini.
“Konsumsi daging merah secara berlebihan dalam waktu singkat menyimpan risiko kesehatan, terutama lonjakan kadar kolesterol dan tekanan darah,” ujarnya pada Rabu (27/5).
Agar momen Iduladha tetap nikmat tanpa harus berakhir di ruang dokter, langkah pencegahan terbaik sebenarnya bisa dimulai sejak dari dapur. Saat memotong daging, sebisa mungkin pisahkan bagian lemak yang menempel (gajih).
Untuk daging sapi, pilihlah bagian yang cenderung bebas lemak seperti bagian paha atau gandik karena meminimalkan lemak sebelum dimasak akan mengurangi kadar kolesterol jahat secara signifikan.
Lebih lanjut, dr. Tien Farida Yani mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam memilih metode memasak hidangan kurban.
“Gulai dan tongseng memang menggoda, namun kuah santan kental yang dimasak lama akan melipatgandakan kadar lemak jenuh. Cobalah mengombinasikan menu dengan metode memasak yang lebih sehat,” tuturnya.
Ia menyarankan alternatif lain seperti dipanggang menjadi sate tanpa lemak, dibuat sup bening yang segar, atau ditumis dengan sedikit minyak zaitun.
Langkah penting lainnya yang tidak boleh terlewatkan adalah mendampingi hidangan daging dengan sayur dan buah “penawar”.
Serat adalah musuh alami kolesterol karena membantu mengikat lemak di dalam pencernaan dan membuangnya dari tubuh. Oleh karena itu, pastikan menyantap daging bersama sayuran segar serta buah-buahan seperti semangka, nanas, atau jeruk setelah makan.
Terkait porsi, dr. Tien Farida Yani kembali menegaskan bahwa kunci utama dari tubuh yang sehat adalah moderasi atau tidak berlebihan.
“Batasi porsi makan daging harian Anda. Selain itu, hindari mengonsumsi makanan berat berbahan dasar daging merah menjelang waktu tidur malam,” jelasnya.
Masyarakat diimbau memberikan jeda minimal 2 hingga 3 jam sebelum tidur agar sistem pencernaan tidak bekerja terlalu keras.
Terakhir, imbangi momen perayaan ini dengan konsumsi air putih yang cukup dan olahraga ringan. Godaan menutup makan besar dengan es sirup atau minuman manis sebaiknya diganti dengan air putih hangat atau teh hijau tawar yang kaya antioksidan.
Luangkan juga waktu 15–30 menit untuk berjalan kaki santai guna membantu membakar kalori ekstra.
Idul Adha adalah momen penuh berkah dan kebahagiaan. Menjaga pola makan bukan berarti tidak boleh menikmati hidangan, melainkan bentuk ikhtiar agar tubuh tetap sehat untuk beraktivitas dan beribadah pasca lebaran.







