Rupiah Melemah terhadap Riyal, Jemaah Haji Indonesia Terdampak, Daya Beli Ikut Menurun

oleh -98 Dilihat
PASAR KAKKIYAH
Pasar Kakkiyah Makkah (Foto IST)

KabarBaik.co, Arab Saudi — Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) sepanjang 2025 hingga memasuki musim haji 2026, juga dirasakan oleh jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. Karena Riyal Saudi (SAR) dipatok terhadap USD, melemahnya Rupiah terhadap Dolar otomatis membuat nilai tukar Rupiah terhadap Riyal ikut naik.

Berdasarkan pergerakan kurs selama periode haji, nilai tukar Rupiah terhadap Riyal mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya. Pada musim haji 2025, 1 Riyal Saudi berada di kisaran sekitar Rp 4.300–Rp 4.400. Memasuki musim haji 2026, kurs bergerak di kisaran sekitar Rp 4.700–Rp 4.750 per Riyal, atau meningkat sekitar 9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kondisi tersebut menyebabkan pengeluaran pribadi jemaah di Arab Saudi menjadi lebih mahal dalam hitungan Rupiah, terutama untuk kebutuhan di luar paket layanan haji seperti oleh-oleh, makanan tambahan, transportasi lokal, serta kebutuhan harian lainnya.

Seorang jemaah asal Surabaya mengaku harus lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran selama berhaji. “Tahun lalu uang belanja terasa lebih cukup. Sekarang pengeluaran jadi lebih cepat habis karena kurs Rupiah melemah,” ujarnya dihubungi redaksi, Jumat (29/5) .

Tambahan Pengeluaran Jemaah

Dengan asumsi selisih kurs sekitar Rp 400 per Riyal dibanding tahun sebelumnya, maka pengeluaran pribadi sebesar 5.000 Riyal dapat memerlukan tambahan biaya sekitar Rp 2 juta. Sedangkan pengeluaran sebesar 10.000 Riyal dapat bertambah sekitar Rp 4 juta dibanding musim haji sebelumnya.

Pelemahan Rupiah terhadap Riyal juga lebih dirasakan oleh jemaah dari kalangan masyarakat daerah dan pedesaan, yang umumnya menabung dalam waktu lama untuk bisa menunaikan ibadah haji. Dengan kemampuan ekonomi yang terbatas, kenaikan biaya pengeluaran harian dan oleh-oleh selama di Arab Saudi menjadi beban tambahan yang cukup terasa bagi sebagian jemaah..

Baca Juga: Nakhoda di Tengah Badai: Gubernur BI Perry Warjiyo dan Martabat Rupiah yang Sedang Goyah

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan jumlah jemaah haji terbesar di dunia. Dengan kuota sekitar 220.000 jemaah pada musim haji 2026, penurunan daya beli juga diperkirakan dapat memengaruhi perputaran uang dari jemaah Indonesia di Arab Saudi.

Jika diasumsikan rata-rata pengeluaran pribadi jemaah berkurang sekitar Rp 1 juta akibat pelemahan kurs, maka potensi penurunan perputaran uang dapat mencapai sekitar Rp 220 miliar. Meski demikian, angka tersebut masih berupa estimasi kasar karena pola pengeluaran setiap jemaah berbeda-beda.

Yang pasti, penurunan konsumsi tersebut diperkirakan dapat berdampak pada sektor retail, oleh-oleh, makanan, dan transportasi lokal di sekitar Makkah dan Madinah yang selama ini cukup banyak bergantung pada belanja jemaah internasional, termasuk dari Indonesia.

Faktor Global dan Domestik

Pengamat ekonomi menilai tekanan terhadap Rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik, antara lain penguatan Dolar AS, tingginya suku bunga global, tekanan impor energi, arus modal keluar dari negara berkembang, serta dinamika perdagangan internasional.

Baca Juga: Makin Mengkhawatirkan! Rupiah Nyaris Jebol Rp 17.900 per Dolar AS

Karena Riyal Saudi mengikuti pergerakan USD, perubahan kurs Dolar secara langsung memengaruhi biaya yang harus dikeluarkan jemaah Indonesia di Arab Saudi.

Sejumlah petugas kloter juga mengimbau jemaah untuk mengatur anggaran secara lebih bijak dan memprioritaskan kebutuhan utama selama pelaksanaan ibadah haji.

Di tengah tekanan kurs tersebut, semangat beribadah jemaah Indonesia tetap tinggi. Banyak jemaah memilih menyesuaikan pola belanja dan lebih memfokuskan diri pada pelaksanaan ibadah selama berada di Tanah Suci. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.