Sepak Bola: Agama Tanpa Kitab Suci, Tapi Penuh Keyakinan

oleh -376 Dilihat
HUD

OLEH: M. SHOLAHUDDIN*)

Empat tahun sekali, dunia seperti memiliki kalender suci baru. Orang-orang rela begadang hingga dini hari, berkumpul di ruang keluarga, warung kopi, pos ronda, stadion, hingga layar-layar kecil di genggaman tangan. Mereka mengenakan jersey seperti jubah identitas, menyanyikan lagu kebangsaan dengan mata berkaca-kaca, lalu larut dalam kegembiraan atau kesedihan yang terasa sangat pribadi.

Itulah Piala Dunia.

Ia bukan lagi sekadar turnamen olahraga. Ia telah menjelma menjadi ritual global umat manusia modern.

Di tengah dunia yang semakin terpecah oleh politik, perang, krisis ekonomi, dan algoritma media sosial, sepak bola justru menghadirkan satu hal yang makin langka: rasa kebersamaan. Selama 90 menit, manusia dari berbagai ras, agama, bahasa, dan kelas sosial dapat merasakan detak emosi yang sama.

Seorang anak di Surabaya bisa menangis bersamaan dengan buruh di Buenos Aires. Seorang sopir ojek di Jakarta dapat melompat kegirangan bersama mahasiswa di Paris. Sepak bola menghapus jarak geografis dengan cara yang tidak mampu dilakukan pidato-pidato politik.

Barangkali karena itulah sepak bola perlahan menjadi “agama populer” paling universal di muka bumi.

Ia memiliki ritualnya sendiri. Ada nyanyian kolektif di tribun yang menyerupai kidung. Ada syal dan jersey yang diperlakukan seperti simbol keyakinan. Ada stadion yang berubah menjadi “rumah ibadah modern”, tempat ribuan orang datang membawa harapan, doa, dan keyakinan terhadap kemenangan.

Bahkan para pemainnya telah menjelma menjadi figur mitologis.

Nama-nama seperti Pele, Diego Maradona, Zinedine Zidane, Cristiano Ronaldo, hingga Lionel Messi hidup melampaui batas olahraga. Mereka bukan hanya atlet, melainkan simbol zaman. Anak-anak meniru gaya rambut mereka, cara berlari mereka, bahkan selebrasi mereka. Di gang-gang sempit Indonesia, anak kecil menendang bola plastik sambil berteriak menyebut nama idolanya, seolah sedang memanggil tokoh-tokoh dalam kitab legenda modern.

Namun, sebagaimana agama dalam pengertian budaya, sepak bola juga menghadirkan paradoks.

Ia bisa mempersatukan, tetapi juga memecah. Ia menciptakan solidaritas, namun kadang melahirkan fanatisme berlebihan. Stadion dapat menjadi ruang pelukan massal, tetapi juga arena kemarahan kolektif. Dalam sepak bola, manusia melihat refleksi dirinya sendiri: penuh cinta, penuh gairah, tetapi juga penuh ego dan luka.

Indonesia sangat memahami itu dengan sangat baik pula.

Meski belum pernah tampil di Piala Dunia era modern, bangsa ini memiliki hubungan emosional yang begitu intim dengan sepak bola. Ketika Piala Dunia berlangsung, jalanan kerap mendadak sepi saat pertandingan besar dimulai. Warung kopi penuh hingga dini hari. Obrolan tukang cukur berubah menjadi analisis taktik. Grup WhatsApp keluarga mendadak riuh oleh perdebatan penalti dan offside.

Sepak bola di Indonesia bukan sekadar hiburan. Ia adalah bahasa sosial.

Di negeri yang begitu beragam ini, sepak bola menjadi salah satu sedikit hal yang mampu menyatukan percakapan lintas suku, agama, dan kelas sosial. Orang bisa berbeda pilihan politik, berbeda keyakinan, bahkan berbeda cara hidup, tetapi tetap duduk bersama untuk mendukung tim favorit mereka.

Karena itu, ketika dunia mulai menatap Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, yang ditunggu sebenarnya bukan hanya pertandingan. Dunia sedang menunggu ritual akbar berikutnya—momen ketika umat manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan untuk percaya lagi pada keajaiban sederhana bernama harapan.

Mungkin itulah alasan mengapa sepak bola tidak pernah benar-benar sekadar permainan.

Ia adalah panggung tempat manusia menitipkan mimpi, kesedihan, identitas, bahkan iman kecil tentang kemungkinan-kemungkinan baik dalam hidup. Dan selama bola masih menggelinding, manusia akan selalu menemukan alasan untuk berkumpul, berharap, lalu percaya bahwa keajaiban bisa terjadi kapan saja.

Selain Timnas Indonesia, saya sendiri sejak lama menjadi bagian dari pengidola Timnas Jerman. Barangkali pilihan itu tidak pernah benar-benar lahir dari logika. Tidak ada alasan geografis, tidak pula ikatan darah. Semuanya bermula dari rasa kagum yang tumbuh diam-diam sejak kecil—melihat jersey putih itu, ketenangan mereka bermain, cara mereka bangkit setelah kalah, dan keyakinan bahwa disiplin bisa mengalahkan kekacauan.

Namun begitulah sepak bola bekerja pada manusia. Ia memilih jalannya sendiri menuju hati seseorang.

Kesukaan dalam sepak bola sering kali menyerupai cinta. Sulit dijelaskan, kadang tidak masuk akal, tetapi bertahan sangat lama. Orang bisa jatuh hati pada sebuah tim hanya karena satu pertandingan di masa kecil, satu gol di menit akhir, satu pemain yang tampak gagah di layar televisi tabung, atau bahkan karena kenangan sederhana begadang bersama ayah pada suatu malam yang dingin.

Sejak saat itu, sebuah negara yang letaknya ribuan kilometer mendadak terasa dekat. Kekalahan mereka bisa merusak suasana hati seharian penuh, bahkan terkadang sulit memejamkan mata. Sebaliknya, kemenangan kecil mampu menghadirkan kegembiraan yang sulit diterangkan dengan kata-kata.

Di situlah sepak bola menjadi sesuatu yang melampaui olahraga. Ia tidak hanya mempertemukan manusia dengan permainan, tetapi juga dengan kenangan, identitas, dan bagian paling personal dari dirinya sendiri.

Mungkin karena hidup manusia terlalu rumit untuk selalu dijalani secara rasional. Kita butuh sesuatu untuk dipercaya, meski kadang tanpa alasan yang sepenuhnya jelas. Sebagian orang menemukannya dalam musik, sebagian dalam sastra, dan jutaan lainnya menemukannya pada suara peluit panjang di lapangan hijau.

Dan selama itu masih membuat manusia merasa hidup, barangkali tidak ada yang salah dengan jatuh cinta pada sebuah tim sepak bola, walaupun sejatinya fana. (*)

*) M. SHOLAHUDDIN, penulis tinggal di Kabupaten Gresik Jawa Timur

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.