KabarBaik.co, Sidoarjo – Suasana haru dan penuh kehangatan terasa di halaman Masjid Nurul Azhar, Rabu (27/5). Sejak pagi, ratusan warga nampak berbondong-bondong memadati area masjid untuk melaksanakan salat Id sekaligus bersilaturahmi dengan sesama warga korban Lumpur Lapindo.
Masjid yang berada tepat di depan pusat semburan lumpur itu kembali menjadi tempat berkumpul warga lama yang kini telah berpindah tempat tinggal ke berbagai daerah. Banyak di antara mereka datang bersama keluarga untuk melepas rindu dan mengenang kampung halaman yang telah hilang akibat bencana.
Ketua Yayasan Nurul Azhar, Muhammad Masruk mengatakan tradisi pelaksanaan salat Id di masjid tersebut sengaja terus dipertahankan agar warga eks-Lapindo tetap memiliki ruang untuk berkumpul dan bersilaturahmi. Menurutnya, momen ini selalu dinanti warga yang dulu tinggal di kawasan terdampak lumpur.
“Ternyata kita tetap melaksanakan salat Id ini adalah sebagai ajang reuni bagi warga Lumpur Lapindo yang dulu tinggal di sini. Mereka sudah terbiasa salat di sini, kemudian di sini adalah ajang untuk ketemu,” ujarnya.
Di halaman masjid, beberapa ekor sapi yang akan dikurbankan juga terlihat berjajar. Hewan kurban tersebut disiapkan untuk dibagikan kepada warga eks-korban Lumpur Lapindo serta masyarakat sekitar Porong.
Perlu diketahui, bencana Lumpur Lapindo telah berlangsung hampir 20 tahun sejak pertama kali menyembur pada 29 Mei 2006 silam. Dampaknya mengubur 16 desa di tiga kecamatan dan mengubah peta wilayah Porong secara drastis.
“Selain salat Id, kami juga terus menjalankan kegiatan sosial dan penyaluran hewan kurban untuk warga terdampak Lumpur Lapindo, baik yang masih tinggal di sekitar Porong maupun yang sudah pindah ke daerah lain,” tambah Muhammad Masruk.
Di tengah perubahan lingkungan akibat semburan lumpur, Masjid Nurul Azhar tetap berdiri kokoh dan menjadi saksi bisu perjuangan warga terdampak. Keberadaan masjid tersebut kini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga menjadi pengikat kenangan dan kebersamaan warga eks-Lapindo yang kampung halamannya telah berubah menjadi lautan lumpur. (*)







