KabarBaik.co, Blitar – Peluang emas bagi masyarakat Bumi Bung Karno yang ingin mengabdi di dunia pendidikan resmi dibuka. Pemerintah pusat menggelar rekrutmen besar-besaran untuk mengisi posisi tenaga pendidik dan kependidikan di Sekolah Rakyat. Menariknya, lowongan ini tidak hanya menyasar lulusan sarjana, melainkan juga membuka kesempatan bagi lulusan minimal SMA/SMK sederajat.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Blitar, Eka Atikah menjelaskan, seluruh proses rekrutmen dan mekanisme pendaftaran dikelola langsung oleh pemerintah pusat. Pendaftaran daring (online) sudah mulai dibuka sejak 8 Juni lalu dan akan resmi ditutup pada hari ini, 14 Juni 2026.
“Masyarakat yang memenuhi syarat bisa langsung memanfaatkan momentum ini. Untuk prosesnya semua tersentralisasi di pusat,” ujar Eka Atikah. Secara nasional, total formasi yang disediakan terbilang sangat besar, yakni mencapai 8.180 kuota. Jumlah tersebut terbagi menjadi 3.053 formasi untuk guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Sekolah Rakyat.
Sementara 5.127 formasi sisanya dialokasikan untuk tenaga pendukung kependidikan yang bertugas menyokong operasional sekolah. Ketika dikonfirmasi mengenai kuota spesifik yang didapatkan untuk wilayah Kota Blitar, Eka masih enggan merinci angka pastinya. Kendati demikian, ia menekankan bahwa seleksi ini menjadi angin segar untuk peningkatan mutu pendidikan di daerah.
Setelah masa pendaftaran ditutup, tahapan seleksi akan langsung bergeser ke verifikasi berkas. Berdasarkan jadwal, hasil seleksi administrasi bakal diumumkan pada 19–20 Juni mendatang. Sedangkan untuk pengumuman hasil akhir kelulusan peserta dijadwalkan komplit pada 9 Juli 2026.
Di sisi lain, Dinsos juga menitipkan pesan mendalam terkait karakter figur yang dicari. Mengingat target sasaran Sekolah Rakyat berkaitan erat dengan isu sosial, para pelamar diharapkan tidak sekadar unggul secara akademis atau kemampuan mengajar semata.
“Pendidik di Sekolah Rakyat harus memiliki empati dan kepedulian yang tinggi. Sebab, anak-anak yang dihadapi nanti memiliki latar belakang yang beragam, termasuk anak putus sekolah dan dari keluarga kurang mampu,” pungkasnya. (*)






