Setelah 7 Tahun Berkreasi, Kesenian Sanduk Jadi Kado Istimewa HUT ke-24 Kota Batu

oleh -453 Dilihat
Kesenian Sanduk di Kota Batu saat menerima sertifikat. (Foto: P. Priyono)

KabarBaik.co – Kesenian tradisional Sanduk akhirnya resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Kebudayaan RI pada 7 Oktober 2025. Keberhasilan ini menjadi kado manis bagi Kota Batu yang akan berulang tahun ke-24 pada 17 Oktober mendatang.

Bendahara Sanduk Kota Batu, Siti Maryam, mengungkapkan bahwa penantian panjang selama hampir tujuh tahun akhirnya terbayar tuntas. Sebab, selama kurun waktu tersebut, pengajuan WBTB kesenian Sanduk ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur selalu gagal.

“Kami ingin kesenian Sanduk mendapat pengakuan dari negara seperti halnya kesenian Bantengan dan Jaran Kepang yang sudah lebih dulu meraih WBTB. Sebab Sanduk juga memiliki komunitas yang besar di Kota Batu dan terus berkembang pesat,” ujar Maryam, Senin (13/10).

Maryam menjelaskan, keberhasilan ini tidak lepas dari kegigihan Ketua Sanduk Kota Batu, Katarina Dian, yang membentuk Tim Perumusan Sanduk bersama Dinas Pariwisata Kota Batu. Melalui upaya itu, seluruh persyaratan administrasi, sejarah, dan dokumentasi dapat terpenuhi dengan baik.

“Semua ini karena kesenian Sanduk mampu menjadi penanda identitas dan keberlanjutan budaya yang diwariskan lintas generasi. Sekarang kesenian ini juga mulai diminati generasi muda, padahal dulunya lebih sering dimainkan oleh para sesepuh,” imbuhnya.

Maryam menyebut, saat ini di Kota Batu terdapat 62 grup Sanduk yang tersebar di tiga kecamatan. Masing-masing grup memiliki 30 hingga 50 anggota aktif, menunjukkan besarnya minat masyarakat dalam melestarikan seni tradisional tersebut.

Sementara itu, anggota Tim Perumusan Sanduk, Agus Mardianto, mengungkapkan bahwa perjuangan meraih pengakuan WBTB tidak mudah. Tim harus melengkapi berbagai persyaratan, seperti sejarah Sanduk, foto dan video dokumentasi, jejak maestro, gerak dasar, musik, hingga kostum pertunjukan.

“Beruntung almarhum Ki Iswandi, pemilik Padepokan Gunung Ukir, memiliki banyak dokumen tentang Sanduk sejak tahun 1990-an hingga 2000-an. Berkat arsip dan cerita dari para penerus maestro Sanduk, akhirnya seluruh persyaratan dapat terpenuhi,” jelasnya.

Agus menyatakan, kesenian Sanduk telah ada sejak lama sebelum Kota Batu berdiri. Kesenian ini tumbuh dan berkembang di perkampungan, tepatnya di Lor Brantas, Dusun Kungkuk, Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, serta kerap tampil dalam kegiatan bersih desa dan sedekah bumi.

Dengan ditetapkannya kesenian Sanduk sebagai Warisan Budaya Tak Benda, para pelaku seni berharap tradisi ini semakin dikenal luas dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Kota Batu. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: P. Priyono
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.