KabarBaik.co – Tren penyakit jantung di Surabaya selama dan setelah Lebaran tahun ini menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Jordan Bakhriansyah, SpJP, FIHA, mengungkapkan bahwa angka kasus jantung relatif stabil, bahkan cenderung menurun.
“Agak aneh tahun ini, bahkan tidak ada peningkatan rawat inap,” ujar dr. Jordan, yang juga menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Cabang Surabaya, Jumat (18/4).
Sebaliknya, yang justru meningkat adalah kasus infeksi pernapasan, terutama pada anak-anak. Banyak pasien yang datang dengan keluhan sesak napas, namun setelah diperiksa, ditemukan gejala seperti batuk-batuk dan dahak yang sulit dikeluarkan.
“Kalaupun ada pasien dengan gangguan jantung, kebanyakan disebabkan oleh radang paru-paru yang akhirnya membuat kerja jantung lebih berat. Mungkin ini efek dari perubahan cuaca,” jelas dr. Jordan.
Di Rumah Sakit Husada Utama Surabaya, misalnya, pasien dengan keluhan jantung hanya mencakup 10-15 persen dari total pasien rawat inap. “Relatif sama, bahkan saya tidak menerima laporan peningkatan signifikan untuk kasus jantung,” tambahnya.
Jordan menduga kestabilan angka penyakit jantung ini mungkin terkait dengan meningkatnya akses layanan kesehatan melalui BPJS Kesehatan.
“Dengan adanya BPJS, masyarakat lebih rutin melakukan kontrol dan patuh pada pengobatan,” ungkap dokter yang juga menjabat sebagai Kepala Departemen Pelayanan Medik RS Husada Utama tersebut.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tren penyakit jantung dan pembuluh darah secara umum cenderung meningkat tiap tahunnya. Faktor gaya hidup, genetik, serta usia memainkan peranan penting dalam peningkatan ini.
“Pria lebih mudah terkena serangan jantung dibanding perempuan karena perempuan memiliki hormon estrogen yang bersifat melindungi. Tapi, saat perempuan terkena serangan jantung, tingkat kematiannya lebih tinggi,” pungkasnya.
Di tengah tren yang stabil ini, masyarakat tetap diimbau untuk menjaga gaya hidup sehat, mengelola stres, dan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin agar risiko penyakit jantung dapat ditekan.(*)








