KabarBaik.co, Jember – Tak perlu lagi cemas terkecoh saat membeli durian unopened (belum dibelah). Berkat inovasi terbaru dari Aulia Brilliantina, mahasiswa program doktor Universitas Jember (Unej), tingkat kematangan durian Monthong kini bisa diprediksi secara presisi tanpa perlu merusak kulit buahnya.
Aulia memanfaatkan integrasi teknologi Kecerdasan Buatan (AI) yang menggabungkan tiga komponen utama: sensor gas, kamera termal, dan sensor akustik. Kombinasi instrumen ini bertugas menganalisis aroma volatil, temperatur, hingga frekuensi suara ketukan buah.
“Data dari gabungan sensor tersebut dievaluasi menggunakan machine learning. Hasilnya, sistem dapat memilah kondisi durian ke dalam tiga tingkat kematangan,
mentah, setengah matang, dan matang sempurna,” ungkap Aulia.
Dalam risetnya, pengujian diterapkan pada 90 sampel durian Monthong dengan membandingkan tujuh algoritma klasifikasi. Hasilnya mencatatkan bahwa metode Neural Network menjadi yang paling unggul dengan tingkat akurasi mencapai 96,91 persen.
“Indikator paling dominan dalam membedakan fase matang terletak pada sensor gas dan konsentrasi aroma. Sementara itu, data ketukan dan suhu termal bertindak sebagai parameter pendukung,” terangnya.
Menariknya, teknologi ini tidak sekadar menebak kematangan. AI yang dikembangkan juga sanggup memperkirakan sisa durasi ketahanan simpan durian berdasarkan variasi suhu ruangan. Hal ini dinilai vital untuk efisiensi rantai pasok.
Durian dengan umur simpan pendek diprioritaskan untuk pasar terdekat. Sedangkan Durian dengan daya tahan lebih lama dialokasikan untuk distribusi antardaerrah atau ekspor.
Inovasi ini dirancang untuk mendampingi petani, pedagang, hingga pengelola packing house agar proses sortir tidak lagi bergantung pada asumsi subjektif semata.
Aulia, yang juga aktif sebagai dosen di Politeknik Negeri Jember (Polije), menargetkan agar temuan riset doktoralnya ini bisa ditransformasikan menjadi gadget portabel yang praktis digunakan langsung di area perkebunan.
Riset bertaraf internasional ini disusun di bawah bimbingan tim promotor Prof. Tri Agus Siswoyo, Prof. Yuli Witono, dan Prof. Bayu Taruna Widjaja Putra, serta telah berhasil menembus publikasi jurnal bereputasi global Q1 Nature Portfolio, Scientific Reports.(*)






