Sugeng Tindak Prof Ir Johan Silas: Sang Arsitek Hati Kota Surabaya

oleh -89 Dilihat
JOHAN SILAS 1
Prof Johan Silas (Antara)

SENIN (8/6) dini hari, pukul 03.24 WIB, Kota Surabaya kehilangan salah satu putra terbaiknya di bidang arsitektur dan perencanaan kota. Prof Dr I. Johan Silas, guru besar yang legendaris, berpulang ke Sang Pencipta dalam usia 90 tahun di Rumah Sakit Kemenkes Surabaya.

Lahir pada 24 Mei 1936 di Samarinda, Kalimantan Timur, Johan Silas bukan sekadar akademisi biasa. Ia sosok yang begitu konsisten mendarmabaktikan ilmu dan seluruh hidupnya untuk Surabaya, kota yang ia cintai sejak muda.

Dari mendirikan Jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada 1965, hingga menjadi penasihat tujuh Wali Kota Surabaya selama lebih dari lima dekade, pemikirannya mengalir deras dan ringan, seperti air sungai yang tak pernah berhenti membasahi tanah kampung-kampung.

Sang Pembela Kampung

Nama Prof Johan Silas tak terpisahkan dari Kampung Improvement Program (KIP), program perbaikan kampung yang menjadi model dunia untuk pemukiman layak bagi masyarakat miskin kota. Ia percaya bahwa kekhasan sebuah kota justru terletak pada kampung-kampungnya. “Kalau kampung hilang, kebudayaan juga hilang,” ujarnya suatu kali.

Bagi beliau, pembangunan bukanlah soal gedung pencakar langit semata, melainkan menghadirkan perubahan hingga ke depan pintu rumah warga.

Kontribusinya yang mendalam di bidang perumahan, permukiman, dan lingkungan perkotaan diakui dunia melalui Habitat Scroll of Honour Award dari UN-Habitat pada 2005—penghargaan tertinggi PBB untuk mereka yang memberi tempat bernaung bagi kaum miskin. Beliau juga terlibat dalam rehabilitasi pasca-tsunami Aceh dan Nias, serta menulis berbagai buku penting, termasuk Kampung Surabaya Menuju Metropolitan.

Sebagai pendiri Jurusan Arsitektur ITS, Prof Silas telah mendidik ribuan mahasiswa yang kini menjadi arsitek, perencana kota, dan pemimpin di berbagai bidang. Pemikirannya tentang kota yang manusiawi, yang berpihak pada warga kampung dan keberlanjutan budaya, terus menjadi fondasi bagi pembangunan Surabaya modern.

Berbagai gagasannya menjadi rujukan utama dalam perencanaan kota hingga saat ini, dari penataan kawasan kumuh hingga pelestarian cagar budaya.

Yang membuat Prof Silas juga begitu istimewa bukan hanya pemikirannya yang visioner, melainkan kepribadiannya yang humanis. Mahasiswa dan rekan-rekannya mengenang beliau sebagai sosok yang kalem, penuh kesabaran, dan selalu tersenyum khas. Senyum yang mampu menenangkan sekaligus menginspirasi.

Ketika diajak berdiskusi tentang Surabaya, langkahnya ringan, pikirannya mengalir deras tanpa pretensi. Dia tak pernah lelah berbagi, bahkan setelah purna tugas sebagai guru besar pada 2006. Hingga usia senja, beliau tetap menjadi penasihat, dosen tidak tetap, dan teladan bagi generasi muda arsitek dan urbanis.

Di kalangan awak media, Prof.Johan Silas juga dikenal sebagai salah seorang guru besar yang menjadi “media darling”. Sangat mudah dan enak untuk dimintai pendapatnya kapan saja dan di mana saja. Seperti yang dikisahkan oleh M. Sholahuddin, salah seorang wartawan yang kerap berinteraksi dengan mendiang, “Berdiskusi dan wawancara dengan beliau itu sama dengan kita kuliah 6 SKS. Banyak ilmu, terutama tentang visi tata kota.”

Wawancara dengannya bukan sekadar rutinitas jurnalistik, melainkan pengalaman mendalam yang memperkaya perspektif tentang masa depan kota.

Salah satu hubungan yang paling dekat dan penuh kenangan adalah dengan Tri Rismaharini, mantan Wali Kota Surabaya. Risma mengaku memiliki banyak kenangan bersama dosennya tersebut. Salah satunya saat menjalani penelitian tugas akhir di kawasan lokalisasi.

Ketika itu, Prof Johan sempat memarahinya karena meninggalkan titik pengamatan yang telah ditentukan. Meski sering berdebat di kelas, hubungan keduanya tetap dekat. Risma bahkan mengingat ucapan almarhum yang menyebut dirinya sebagai salah satu mahasiswa kesayangan.

Hubungan itu terus berlanjut setelah Risma lulus kuliah. Saat bertugas di Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) hingga menjabat wali kota, ia masih kerap meminta masukan Pro. Johan dalam berbagai penyusunan kebijakan pembangunan.

“Beliau bantu saya untuk menerjemahkan perencanaan-perencanaan itu. Saat itu juga membuat Surabaya Urban Development Policy 2018, beliau jadi salah satu yang membantu,” tuturnya.

Kisah tersebut mencerminkan bagaimana Prof Johan Silas tidak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga mendampingi generasi penerusnya dalam menerapkan ilmu di lapangan.

Debat-debat yang kerap terjadi bukanlah tanda ketidakharmonisan, melainkan bukti kedalaman diskusi dan komitmen bersama untuk Surabaya yang lebih baik. Senyum khasnya tetap hadir di tengah kritik dan masukan yang tegas, menjadikannya sosok guru yang tak terlupakan.

Warisan yang Abadi dan Prosesi Pamitan

Melalui ribuan mahasiswa yang ia didik, program-program perbaikan kampung yang terus menginspirasi, dan pemikiran-pemikiran yang tertulis serta tertutur, Prof. Johan Silas telah menjadikan Surabaya bukan hanya lebih baik, tetapi juga lebih bermakna. Ia konsisten membela kota yang manusiawi—kota yang tidak melupakan akar kampungnya, yang peduli pada warga sederhana, dan yang berkelanjutan untuk generasi mendatang.

Berdasarkan informasi keluarga, jenazah Prof. Johan akan disemayamkan di Adi Jasa Surabaya mulai Rabu (10/6). Misa requiem dijadwalkan berlangsung di Gereja Katedral Surabaya pada Sabtu (13/6/2026) sebelum prosesi kremasi dan pemakaman yang akan dilaksanakan pada Minggu (14/6).

Di tengah hiruk-pikuk pembangunan kota modern yang sering melupakan akarnya, Prof Johan Silas mengingatkan bahwa kota yang baik adalah kota yang manusiawi—yang peduli pada kampung, pada warganya yang sederhana, dan pada keberlanjutan budaya.

Dedikasinya selama puluhan tahun, mulai dari era wali kota pertama yang  didampingi hingga era modern, menunjukkan betapa langkanya sosok akademisi yang begitu total mendarmabaktikan hidupnya untuk satu kota.

Terima kasih, Prof Johan Silas. Surabaya akan selalu mengingat senyum kalem dan langkah ringan Bapak yang penuh dedikasi. Semoga ilmu dan amal Bapak terus mengalir, menjadi berkah bagi generasi mendatang. Selamat jalan, Sang Arsitek Hati Kota Pahlawan. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.