Tangis dan Doa di Tanggul Lumpur Lapindo, Seorang Warga Kerasukan Saat Ritual Sambang Buyut

oleh -219 Dilihat
Warga terdampak saat menggelar ritual di pinggir tanggul Lapindo. (Foto: Achmad Adi Nurcahya)
Warga terdampak saat menggelar ritual di pinggir tanggul Lapindo. (Foto: Achmad Adi Nurcahya)

KabarBaik.co, Sidoarjo – Mengenang 20 tahun semburan lumpur Lapindo membawa kembali ingatan akan jerit pilu ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal. Ribuan rumah tenggelam ditelan lumpur panas yang terus menyembur tanpa henti.

Tak hanya permukiman warga, sejumlah tempat ibadah hingga fasilitas pendidikan juga ikut hilang dilahap keganasan lumpur yang mengubah wajah Porong dan sekitarnya.

Dua dekade berlalu, luka itu belum sepenuhnya sembuh. Tragedi yang memaksa warga mengungsi dan hidup berpencar di berbagai daerah masih menyisakan persoalan panjang.

Sebagian korban memang telah menerima ganti rugi, namun tidak sedikit warga yang hingga kini masih mempertanyakan kejelasan hak mereka yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Salah satu warga terdampak, Harwati, mengatakan dalam peringatan 20 tahun lumpur Lapindo puluhan warga terdampak sengaja menggelar ritual budaya bertajuk ’Sambang Buyut’ di atas tanggul Lapindo, Jumat (29/5), sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan pengingat agar warga tidak melupakan tanah asal mereka yang kini hilang tertelan lumpur.

“Kami pengen silaturahmi kepada ahli kubur, ahli waris kita yang babat alas mendirikan desa di sini. Selama 20 tahun kita enggak pernah sambang dengan bentuk ritual Jawa,” ujar Harwati dengan nada haru.

Acara diawali dari Taman Dwarakerta yang berada di sisi utara Polsek Porong. Dari titik tersebut, puluhan warga berjalan kaki menuju titik P21 yang berada di bibir tanggul lumpur Lapindo. Sepanjang perjalanan, suasana berlangsung khidmat dengan iringan tabuhan rebana yang mengiringi langkah para peserta ritual.

Harwati menyebut pendekatan budaya Jawa dipilih dalam peringatan tahun ini karena selama bertahun-tahun warga lebih banyak menggelar doa dan istighosah keagamaan. Menurutnya, ritual Sambang Buyut menjadi cara puluhan warga untuk kembali menyatukan ingatan dan ikatan emosional antar korban yang selama ini hidup berpencar.

Setibanya di lokasi P21, puluhan orang mulai menggelar doa dan ritual kejawen di tepi tanggul lumpur Lapindo. Sesaji dan berbagai perlengkapan adat Jawa diletakkan di tanggul P21 lokasi sebagai simbol penghormatan kepada leluhur dan para pendiri desa yang kini telah hilang tertelan lumpur.

Suasana ritual semakin larut ketika sejumlah warga tampak hanyut dalam doa. Di tengah prosesi tersebut, dua orang peserta ritual mengalami kerasukan.

Di tengah doa dilantunkan seorang pria kerasukan saat ritual di tanggul lumpur Lapindo. (Foto: Achmad Adi Nurcahya)
Di tengah doa dilantunkan seorang pria kerasukan saat ritual di tanggul lumpur Lapindo. (Foto: Achmad Adi Nurcahya)

Seorang pria terlihat menggerang tidak jelas sambil bersujud di tanah dan sempat menyeruduk warga yang berada di sekitarnya. Sementara seorang wanita lainnya terus menangis histeris tanpa henti di tengah lantunan doa bersama.

“Ini bukan sekadar ritual budaya, tapi cara kami mengenang kampung halaman dan leluhur yang sudah hilang karena lumpur. Meski desa kami tenggelam, kami tidak ingin sejarah dan ikatan antar warga ikut hilang,” kata Harwati.

Meski sempat diwarnai suasana mencekam, prosesi ritual tetap berlangsung khidmat. Puluhan warga yang hadir berusaha menenangkan peserta yang mengalami kerasukan sambil terus melanjutkan doa bersama di pinggir tanggul lumpur.

Bagi warga terdampak, Sambang Buyut bukan sekadar ritual tahunan, melainkan simbol bahwa ingatan tentang kampung halaman dan perjuangan korban lumpur Lapindo tidak akan pernah hilang meski dua dekade telah berlalu.(*)

 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Achmad Adi Nurcahya
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.