KabarBaik.co, Blitar – Persoalan obesitas masih menjadi tantangan kesehatan di Kota Blitar. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar mencatat sebanyak 12.848 warga mengalami obesitas berdasarkan data tahun 2025 hingga pertengahan 2026.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Blitar Silvia Dewi Kusumawati mengatakan, sebagian besar kasus ditemukan pada kelompok usia dewasa, terutama perempuan berusia 18 tahun ke atas.
“Berdasarkan data yang kami miliki, terdapat 12.848 warga yang masuk kategori obesitas atau mengalami penumpukan lemak berlebih,” ujarnya, Jumat (5/6).
Menurut Silvia, obesitas ditentukan melalui pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT), yakni perbandingan antara berat badan dan tinggi badan seseorang. Seseorang dinyatakan mengalami obesitas apabila memiliki nilai IMT di atas 27,5.
Pengukuran tersebut dapat dilakukan secara mandiri maupun melalui layanan kesehatan di puskesmas. Pemeriksaan IMT dinilai penting untuk mendeteksi risiko penyakit sejak dini.
“IMT menjadi salah satu indikator awal untuk mengetahui kondisi tubuh sehingga masyarakat dapat segera melakukan perubahan pola hidup sebelum muncul komplikasi,” jelasnya.
Silvia menambahkan, tingginya angka obesitas dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pola makan tidak sehat, konsumsi makanan instan, minuman tinggi gula, hingga rendahnya aktivitas fisik sehari-hari.
Menurutnya, obesitas bukan hanya persoalan kelebihan berat badan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, hipertensi, hingga penyakit jantung.
“Obesitas sering dianggap masalah penampilan, padahal dampaknya jauh lebih serius karena menjadi faktor risiko berbagai penyakit kronis,” katanya.
Karena itu, Dinkes Kota Blitar mengimbau masyarakat mulai menerapkan pola hidup sehat dengan mengurangi konsumsi gula, memperbanyak sayur dan buah, serta rutin berolahraga minimal 30 menit setiap hari.
“Pencegahan paling efektif tetap dimulai dari perubahan gaya hidup. Semakin cepat disadari, semakin besar peluang untuk menghindari komplikasi penyakit,” pungkasnya. (*)






