Agar Tak Ketergantungan Pupuk Kimia, Petani Banyuwangi Diajari Buat Pupuk Organik Pakai Bakteri Endofit

oleh -103 Dilihat
IMG 20260814 WA0021
Petani Sumberjo saat membuat pupuk organik. (Foto: Muhammad Ikhwan) 

KabarBaik.co, Banyuwangi – Petani buahnaga di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, didorong mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. Caranya melalui pemanfaatan mesin produksi pupuk organik dan bakteri endofit.

Inovasi tersebut diperkenalkan tim peneliti yang terdiri dari Adi Mulyadi, Anas Mukhtar, dan Hasyim Asy’ari. Mereka adalah akademisi dari Fakultas Teknik Universitas PGRI Banyuwangi melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).

Adi Mulyadi mengatakan, teknologi tersebut tidak hanya ditujukan untuk menyediakan pupuk dengan biaya lebih rendah, tetapi juga mendorong petani memiliki kemampuan mengelola teknologi dan kebutuhan pemupukan secara mandiri.

Menurutnya, program ini diarahkan untuk menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan produktivitas dan kualitas buah naga. Teknologi yang diperkenalkan diharapkan dapat membantu petani menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan produktivitas buah naga.

“Yang terpenting petani tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengoperasikan dan mengembangkan teknologi tersebut secara mandiri,” kata Adi, Jumat (14/8).

Selain mesin pupuk organik, petani diperkenalkan dengan pemanfaatan bakteri endofit. Mikroorganisme tersebut dapat membantu penyerapan unsur hara, merangsang pertumbuhan akar, serta meningkatkan ketahanan tanaman terhadap tekanan lingkungan.

Kombinasi pupuk organik dan bakteri endofit diharapkan mampu memperbaiki manajemen pemupukan tanaman buah naga. Produksi pun ditargetkan dapat meningkat, baik pada musim maupun di luar musim, dengan kualitas yang mampu memenuhi permintaan pasar sekitar 50-75 persen.

“Kami secara kontinyu memberikan pelatihan serta pendampingan kepada petani agar mampu mengolah bahan organik di sekitar lingkungan menjadi pupuk secara mandiri,” tandasnya.

Ketua Kelompok Tani Sumberjo, Sugiran, menyambut baik pendampingan tersebut. Menurutnya, teknologi produksi pupuk organik memberikan peluang bagi petani untuk mengurangi biaya usaha tani sekaligus memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

“Kami berharap teknologi ini bisa benar-benar diterapkan secara mandiri oleh kelompok tani. Selain mengurangi biaya pupuk, kami juga ingin produksi buah naga lebih baik dan kualitasnya sesuai dengan kebutuhan pasar,” ujar Sugiran.

Untuk diketahui, program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian petani melalui hilirisasi hasil penelitian perguruan tinggi. Petani tidak hanya diberikan peralatan, tetapi juga dibekali pelatihan dan pendampingan dalam pemanfaatan teknologi.

Kegiatan PKM ini dibiayai Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun Anggaran 2026. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Muhammad Ikhwan
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.