KabarBaik.co – Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) di Sidoarjo selama semester pertama tahun 2024 ini masih saja kerap terjadi. UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sidoarjo mencatat sedikitnya ada 35 kasus yang dilaporkan.
Kepala UPTD PPA Sidoarjo, Prastiwi Trijanti menuturkan, jumlah tersebut merupakan keseluruhan kasus yang dilaporkan ke pihaknya yang kini sudah ditangani. Jika dibandingkan pada tahun lalu, jumlah ini memang masih setengahnya saja.
“Tahun lalu ada 71 kasus dan jumlahnya hampir setengahnya,” jelasnya, Selasa (9/7).
Dari sekian jumlah kasus, ia mencontohkan ada seorang Ibu yang mendatangi kantor PPA untuk melakukan konsultasi, baik konsultasi untuk konseling maupun tindakan hukum jika memang diperlukan.
Lebih lanjut ia juga mengungkapkan, sebagian kasus KDRT dilatarbelakangi faktor ekonomi yang mana sedang tidak baik-baik saja, sehingga merembet pada tindak kekerasan. Lalu sebagian lainnya disebabkan hal sepele seperti beda pendapat dan antar kedua belah pihak tidak ada yang mau menurunkan egonya masing-masing.
“Sebagian mungkin beda pendapat, lalu ada yang tidak mau mengalah, itu ada juga, tapi dominan karena faktor ekonomi,” urainya.
Meski sebagian besar kasus yang terjadi akhirnya berakhir di meja mediasi, Trijanti juga mengakui jika sebagian lainnya harus selesai lewat jalur hukum melalui Pengadilan Agama.
“Ada sekitar 40 sampai 50 persen yang diselesaikan dengan mediasi,” lanjutnya.
Sementara itu, Kasi Perlindungan Hak Perempuan dan Perlindungan Khusus Anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB), Ritz Noor Widiyastutik Antarlina memprediksi bulan Juni hingga Agustus ini akan ada peningkatan laporan KDRT.
Prediksi ini berdasarkan salah satu faktor utama penyebab KDRT, yakni faktor ekonomi. Yang mana dalam kurun waktu tersebut merupakan masa sang anak mendaftar sekolah dengan biaya yang sedikit. Sehingga secara tak langsung berpengaruh pada ekonomi keluarga karena adanya pengeluaran yang signifikan.
“Ada waktunya, kalau tiga bulan ini faktor ekonomi akibat anak sekolah jadi hal yang paling banyak membuat konflik di rumah tangga bahkan berujung KDRT,” tandasnya.(*)






