Belajar di Kelas Tak Layak, Semangat Anak-Anak MI Silahul Muslimin Bojonegoro Tak Pernah Luntur

oleh -93 Dilihat
IMG 20251127 WA0054
Proses belajar mengajar di MI Silahul Muslimin Bojonegoro. (Foto: Shohibul Umam)

KabarBaik.co – Di Dusun Koripan, Desa Napis, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro, berdiri sebuah bangunan sederhana yang lebih mirip gudang ketimbang ruang belajar. Dinding kayu yang mulai lapuk, lantai tanah, serta tiga bilik kecil yang disekat ala kadarnya menjadi ruang bagi 16 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Silahul Muslimin menimba ilmu setiap hari.

Meski fasilitas jauh dari kata layak, semangat para siswa untuk tetap bersekolah tidak pernah padam. Di tengah terpaan angin yang masuk dari dinding yang bolong, hingga atap yang kerap menetes saat hujan, mereka tetap duduk rapi, memandangi papan tulis sambil berharap masa depan yang lebih cerah.

Imam, Kepala MI Silahul Muslimin, menceritakan bahwa bangunan berukuran 3×10 meter itu murni berdiri dari hasil swadaya warga Dusun Koripan. Tidak ada bantuan pemerintah, tidak juga bantuan lembaga pendidikan formal.

“Bangunan ini dari kayu semua, pakai tenaga warga. Mulai tanahnya yang diwakafkan sampai bangunan didirikan warga sekitar,” ujarnya, Kamis (27/11).

Bangunan sederhana itu menampung tiga kelas mulai dari Kelas 1:l dengan 3 siswa, Kelas 2 dengan 4 siswa dan Kelas 3 dengan 9 siswa. Bagi warga Koripan, keberadaan sekolah ini adalah kebutuhan mendesak. Selain wilayah yang cukup luas, akses menuju sekolah lain terhalang sungai tanpa jembatan. Anak-anak harus menyeberangi sungai atau menempuh jarak jauh jika harus bersekolah di desa tetangga.

“Siswa merasa senang sekolah di sini karena dekat dari rumah. Aksesnya memang sulit kalau harus ke sekolah lain,” jelas Imam.

Himah, salah satu siswi kelas 3, mengaku kerap terganggu saat hujan turun karena angin dan air masuk dari celah dinding. Namun hal itu tidak pernah menyurutkan niatnya untuk terus belajar.

“Kalau hujan, dindingnya bocor-bocor. Tapi tetap semangat sekolah. Senang mas sekolah di sini,” ucapnya sambil tersenyum. Setiap hari, Himah harus menyeberangi sungai kecil tanpa jembatan untuk mencapai sekolah.

Di MI Silahul Muslimin, hanya ada dua guru yang mengajar. Salah satunya adalah Juli, yang sudah mengabdi sejak bangunan sekolah itu berdiri.

Perjalanan menuju sekolah pun bukan perkara mudah. Jalan berlumpur ketika musim hujan membuatnya harus ekstra hati-hati. Belum lagi sebagian siswa yang tidak bisa hadir ketika sungai meluap. Juli mengaku tidak pernah memikirkan materi ketika memutuskan menjadi guru di tempat terpencil itu.

“Insentif ada, tapi jauh dari layak. Tiga bulan sekali, paling Rp300 ribu sampai Rp500 ribu. Tapi saya mengajar untuk mencerdaskan anak-anak di Dusun Koripan,” tegasnya.

Meski penuh keterbatasan, harapan besar tetap tumbuh di bangunan kayu itu. Imam, Juli, dan seluruh siswa mendambakan ruang kelas yang layak. Ruang belajar yang tidak bocor, tidak bersekat kayu tipis, dan tidak berlantai tanah.

Harapan sederhana yang bagi sekolah lain mungkin hal biasa, tapi bagi MI Silahul Muslimin adalah mimpi besar. “Kami berharap ada ruang kelas yang layak agar proses belajar mengajar bisa maksimal,” ujar Imam. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Shohibul Umam
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.