Berikut Nostalgia Masa Kecil Saat Bulan Ramadan

Reporter: Ibra Prasetyo
Editor: Lilis Dewi
oleh -122 Dilihat
Ilustrasi Freepik

KabarBaik.co- Setiap tahunnya, Ramadan menghadirkan rasa kebersamaan, pengabdian, dan tentu saja makanan lezat yang diperbarui.Namun bagi banyak orang, bulan suci ini juga membangkitkan gelombang nostalgia masa kecil.

Pemandangan, bau, dan suara Ramadan dapat membawa kita kembali ke masa-masa yang lebih sederhana. Gemerincing panci di dapur saat keluarga menyiapkan makanan menjelang fajar, dekorasi yang semarak menerangi jalan-jalan, antisipasi menjelang hari raya berbuka puasa – semua ini adalah pengalaman yang akan terus kita ingat lama setelah kita tumbuh dewasa. Media sosial penuh dengan orang-orang yang berbagi kenangan Ramadan favorit mereka sejak kecil. Mulai dari menguasai seni mengaplikasikan henna hingga berkompetisi dalam lomba pembacaan Al-Qur’an, kisah-kisah ini menyoroti tradisi mengharukan yang diwariskan keluarga dari generasi ke generasi.

Ramadan kali ini, mengapa tidak melakukan perjalanan menyusuri jalan kenangan? Berikut beberapa idenya:

  1. Acara sahur yang menghibur:

Acara sahur memang masih ada sampai sekarang. Namun, acara sahur favorit saya dan mungkin Anda juga pada zaman dulu adalah “Sahur Kita” yang tayang di stasiun televisi SCTV. Acara ini dipandu oleh komedian Eko Patrio dan Ulfa Dwiyanti. Meski hanya berdua, namun duo super kocak itu mampu membuat suasana sahur di rumah menjadi “hidup”. Berbagai segmen yang dihadirkan mampu membuat penonton terpingkal. Berbeda dengan acara sahur belakangan yang ditonton oleh banyak orang di studio, “Sahur Kita” hanya melakukan interaksi dengan penonton di rumah melalui telepon. Pada segmen lomba pantun penonton, kelucuan Eko-Ulfa sebagai pelawak top Tanah Air pada era itu, lolos teruji.

2.  Shalat Subuh berjamaah di masjid bersama teman:

Setelah Imsak, banyak anak-anak yang tumbuh di era 90-an atau 2000-an yang shalat Subuh di masjid. Kebanyakan anak-anak pada zaman itu tidak memiliki HP. Jadi, janji yang dibuat untuk shalat Subuh bersama, biasanya dilakukan sehari sebelumnya. Si A ke rumah si B, si A dan B ke rumah C, begitu seterusnya.

3. Bermain setelah shalat Subuh:

Pada era kepemimpinan Gus Dur tahun 1999, anak-anak sekolah diliburkan selama sebulan penuh saat Ramadan. Saya dan juga pembaca (yang saat itu masih anak-anak), mungkin menghabiskan sebagian masa libur Ramadan ini dengan banyak bermain. Termasuk saya dan teman-teman dulu.Kami bermain setelah shalat Subuh. Entah itu berjalan-jalan pagi di sekitar lingkungan rumah, bermain bola bekel, orang-orangan kertas, hingga monopoli. Libur Ramadan zaman almarhum Gus Dur pasti menjadi salah satu kenangan seru bulan puasa saat kecil.

4. Mengisi buku agenda Ramadan:

Anak-anak sekolah selalu diberi buku agenda Ramadhan. Buku tersebut harus diisi setiap hari. Ada banyak kolom yang harus dicentang atau disilang, mulai dari shalat lima waktu, berpuasa atau tidak, baca Alquran atau tidak, hingga Tarawih atau tidak. Jika si anak Tarawih, maka harus memberikan bukti berupa tanda tangan imam atau penceramah saat Tarawih. Bukan cuma itu, anak-anak pun harus menulis judul ceramah dan isi pokok ceramah. Buku agenda Ramadan itu juga harus ditandatangani oleh orang tua.

5. Bermain petasan:

Pada Ramadan belakangan ini, bunyi ledakan petasan jarang terdengar. Mungkin karena saat ini sudah banyak larangan untuk menyalakan petasan. Ditambah lagi, mobile game kini agaknya lebih menarik anak-anak ketimbang bermain petasan yang membuat bising. Sangat berbeda dengan zaman dulu, di mana Ramadhan menjadi “kesempatan” untuk meledakkan petasan yang suaranya tak jarang membuat telinga sakit. Aneka macam petasan pun banyak dijual. Ada petasan cabe rawit, petasan banting, petasan kentut, petasan air mancur, dan petasan gasing. Semuanya pernah juga saya mainkan. Saat itu, semuanya terasa seru.

Ramadan selalu menjadi bulan istimewa. Istimewa karena pahala yang diberikan oleh Allah SWT dalam setiap kebaikan/ibadah berkali lipat, juga karena di Ramadan ada keseruan masa kecil yang kini hanya bisa dikenang.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News


No More Posts Available.

No more pages to load.