Diskusi Buku di Museum Tebuireng Kuatkan Jejak Kelahiran Soekarno di Ploso Jombang

oleh -84 Dilihat
WhatsApp Image 2026 02 28 at 4.18.09 PM 1
Suasana diskusi dua buku di Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang (Teguh Setiawan)

KabarBaik.co, Jombang – Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang, menjadi ruang diskusi sejarah dan kebangsaan, Sabtu (28/2) sore, puluhan peserta mengikuti diskusi dua buku yang mengulas jejak awal kehidupan Presiden pertama RI, Soekarno.

Sebanyak 70 peserta hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, santri, pegiat literasi, hingga masyarakat umum.

Diskusi menghadirkan dua penulis, yakni Gus Binhad Nurrohmat dengan bukunya Titik Nol Soekarno 1902 serta Ach. Faisol melalui karya Menemukan Bung Karno di Jombang. Kedua buku sama-sama mengangkat pertanyaan lama dalam historiografi Indonesia terkait lokasi kelahiran Soekarno.

Dalam pemaparannya, Gus Binhad menyampaikan bahwa penelitiannya menunjukkan Soekarno lahir di Ploso, Jombang, tepatnya di Gang Buntu, Desa Rejoagung, pada 6 Juni 1902.

“Kesimpulan ini bukan klaim tanpa dasar. Ada dokumen yang bisa diverifikasi,” kata Gus Binhad.

Ia menjelaskan salah satu bukti penting adalah Buku Induk Soekarno di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang mencantumkan tanggal lahir 6 Juni 1902.

Selain itu, terdapat catatan pribadi ayah Soekarno, Raden Soekarni, yang menuliskan tanggal kelahiran putranya secara langsung.

Pada masa tersebut, Raden Soekarni diketahui bertugas di Ploso sebagai mantri guru di sekolah Ongko Loro milik pemerintah kolonial Belanda.

Hal itu diperkuat dengan dokumen stanboek atau surat keputusan penugasan tertanggal Desember 1901 yang menunjukkan Raden Soekarni sudah berada di Ploso beberapa bulan sebelum kelahiran Soekarno.

Tak hanya mengandalkan arsip, Gus Binhad juga menekankan pentingnya sejarah lisan. Menurutnya, ingatan kolektif warga Ploso tentang masa kecil Soekarno masih hidup dan relevan sebagai bagian dari rekonstruksi sejarah.

Sementara itu, Ach. Faisol menyampaikan bahwa bukunya menelusuri jejak sosial dan kultural Soekarno di Jombang. Ia menilai, penggabungan data arsip dan cerita masyarakat menjadi kunci untuk menghadirkan gambaran sejarah yang lebih utuh.

“Sejarah tidak hanya hidup di dokumen, tetapi juga dalam ingatan masyarakat,” ujar Faisol.

Diskusi berlangsung dinamis hingga menjelang azan Magrib. Acara ditutup dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan buka puasa.

Melalui kegiatan ini, peserta berharap kajian tentang awal kehidupan Soekarno terus berkembang dan mendorong penelitian lanjutan.

Diskusi tersebut juga dinilai memperkuat posisi Jombang dalam narasi sejarah kelahiran Sang Proklamator. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.