KabarBaik.co- Setiap memperingati Isra Mi’raj, umat Islam diajak mengingat pada sebuah perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yang penuh hikmah spiritual dan intelektual. Seperti dijelaskan KH Bahaudin Nur Salim atau Gus Baha, peristiwa ini mengajarkan keteguhan iman, pengasahan akal, dan teladan para nabi terdahulu, sekaligus menjadi pengingat bahwa cahaya Allah SWT akan terus bersinar meski diuji.
Berikut kutipan kajian Gus Baha, tentang asbabun nuzul Alquran Surat Al-Isra’ ayat ke-1:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya:
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Isra’: 1)
Mayoritas ulama berpendapat, peristiwa Isra Mi’raj terjadi sebagai pelipur lara dari Allah SWT kepada Rasulullah SAW setelah beliau mengalami dua kesedihan. Nabi ditinggal seorang paman bernama Abu Thalib, yang menjadi tameng atas serangan-serangan kaum kafir Quraisy. Abu Thalib adalah bangsawan Arab dari klan terhormat Quraisy. Di tahun yang sama, Nabi Muhammad juga ditinggal istri tercinta, Khadijah, seorang penopang finansial dakwah Nabi.
Periode Makkah adalah masa tersulit bagi Nabi Muhammad. Beliau memiliki status sebagai minoritas dan kehidupan sehari-hari dikucilkan. Satu-satunya orang yang bisa menjamin hidup Nabi Muhammad adalah pamannya, Abu Thalib. Secara kasta sosial, kekuatan Nabi ditopang pula oleh istrinya, Khadijah. Dengan ditinggal matinya kedua orang yang menyokong Rasulullah, baik secara moral (Abu Thalib) maupun material (Khadijah), tahun ini dikenal dengan ‘âmul huzn, atau tahun duka.
Secara psikologis, manusia normal akan terguncang atas dua musibah beruntun tersebut. Kegoncangan psikologis Nabi juga bersumber dari masyarakat Arab kala itu yang sudah terlanjur terdikte oleh propaganda ulama Yahudi dan Nasrani. Orang kafir Makkah dianggap mudah dikelabuhi oleh tokoh Yahudi dan Nasrani. Pemuka Yahudi menjadi sumber konsultasi masyarakat Arab, sehingga mereka yakin atas doktrin mitos yang disebarkan.
Apa mitos itu? Mitosnya adalah: tidak mungkin ada Nabi yang lahir di luar garis keturunan Bani Israil. Nabi-nabi sebelumnya kebanyakan berasal dari Palestina. Nabi Ibrahim, Isa, Yahya, Zakariya, Musa, semuanya dari komunitas Masjidil Aqsha. Karena hal ini, ketika Nabi Muhammad menyatakan menerima wahyu dari Tuhan, orang Arab merespons dengan keraguan, sebagaimana dikutip Al-Qur’an:
أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَى طَائْفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ
Artinya:
“(Kami turunkan Al-Qur’an itu) agar kalian (tidak) mengatakan, ‘Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca.’” (QS Al-An’am: 156)
Atas keraguan orang Arab, mereka menelisik lebih dalam kepada Nabi Muhammad, “Hai Muhammad, nabi-nabi itu semua dari Palestina. Kalau kamu memang benar-benar Nabi, apakah kamu tahu ke arah mana masjid itu menghadap, berapa jumlah tiangnya?”
Hakikatnya, Nabi Muhammad SAW sedang diasah intelektualitasnya oleh Tuhan melalui proses Isra’, yang menjadikan beliau mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut: jumlah pintu Masjid al-Aqsha, wajah dan perilaku Nabi Musa, wajah Nabi Ibrahim, sekaligus memberikan pemahaman kepada kita bahwa para nabi diuji tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara intelektual.
Ujian intelektual Nabi Muhammad dimulai dari periode Makkah hingga Madinah. Para rahib Yahudi sering menanyakan hal-hal yang menurut mereka hanya bisa dijawab oleh utusan Tuhan. Jika bukan utusan Tuhan, pasti tidak mampu menjawab. Contohnya: pertanyaan tentang makanan pertama penduduk surga, atau mengapa anak bisa mirip orang tua.
Pertanyaan-pertanyaan ini berlandaskan motif politis, yaitu mendelegitimasi kenabian Rasulullah. Namun, fakta menunjukkan Nabi Muhammad tetap memiliki garis keturunan yang dekat dengan Bani Israil. Israil dalam Alquran menunjukkan anak keturunan Ya’qub, bukan negara Israel modern. Di antara keturunan Nabi Ya’qub ada Yahuda, cikal bakal Bani Israil. Nabi Muhammad juga merupakan keturunan Nabi Ibrahim melalui Ismail.
Nabi Ibrahim memiliki dua anak, salah satunya Ismail, yang ditinggal Ibrahim saat masih bayi di dekat Kakbah:
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Artinya:
“Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati, agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezeki mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim: 37)
Dari Nabi Ismail lahirlah generasi-generasi berikutnya hingga Nabi Muhammad SAW, sebagaimana tercatat dalam kitab Al-Barzanji:
وَعَدْنَانُ بِلَا رَيْبٍ عِنْدَ ذَوِي الْعُلُوْمِ النَّسَبِيَّةِ إِلَى الذَّبِيْحِ إِسْمَاعِيْلَ نِسْبَتُهُ وَمُنْتَهَاهُ
Artinya:
“Tanpa diragukan, Adnan mempunyai nasab secara genetik kepada Nabi yang pernah disembelih bernama Ismail.”
Para pemuka Yahudi dan Nasrani mengetahui garis keturunan Nabi Muhammad, namun mereka berusaha menggagalkan kepercayaan masyarakat dengan memanggil Nabi Muhammad “Muhammad bin Abi Kabsyah,” yang berarti anak penggembala kambing, meskipun beliau adalah keturunan bangsawan Quraisy.
Allah berfirman:
يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Artinya:
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.” (QS At-Taubah: 32)
Propaganda semacam ini bahkan membuat beberapa sahabat menjadi murtad (Tarîkhus Suyûthî: وَمِنْ ذَلِكَ اِرْتَدَّ جَمْعٌ مِنَ الصَّحَابَةِ).
Mengenai kiblat, awalnya shalat Nabi menghadap Baitul Maqdis, sesuai Nabi Musa. Setelah 16 bulan di Madinah, Allah memalingkan kiblat ke Masjidil Haram:
فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
Artinya:
“Maka sungguh Aku palingkan mukamu ke arah kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.” (QS Al-Baqarah: 144)
Dengan demikian, kiblat umat Islam ke Makkah bukan mitos atau kultus, tetapi berdasar sejarah dan bukti ilmiah yang dapat diterima akal.
Dalam perjalanan Isra, Nabi Muhammad juga mengasah intelektualitasnya. Beliau bertemu dan berdiskusi dengan nabi-nabi terdahulu, sehingga karakter dan metode kenabiannya selaras dengan mereka (mushaddiqan limâ baina yadaih). Kisah ini penting untuk mencontoh metode guru dalam pendidikan: istiqamah dan meniru guru dalam integritas dan keteladanan.
Adapun Mi’raj, perjalanan Nabi dari Masjidil Aqsha ke Sidratil Muntaha, para ulama berbeda pendapat: ada yang mengatakan hanya secara ruh, ada yang badan dan ruh. Orang yang mengingkari Isra’ dianggap kafir karena bertentangan dengan nash Alquran. Sementara yang tidak percaya pada Mi’raj secara jasad tidak sampai kafir, karena tidak bertentangan dengan konsensus ulama.
Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah (Muktamar Jombang), kita mengikuti pendapat dalam kitab Al-Kawakibu al-Lama’ah karya Kiai Fadlol, Sendang, Senori, Tuban. Mi’raj bukan semata “ilmiah” seperti terbang dengan kecepatan tertentu, karena agama tidak bisa diukur secara ilmiah sepenuhnya. Data pendukung kebenaran Mi’raj adalah hadits-hadits sahih yang menyatakan Nabi bertemu nabi-nabi terdahulu. (*/NU Online)






