KabarBaik.co, Blitar – Pasar helm lawas ternyata masih bergairah. Kolektor dari berbagai daerah terus memburu helm-helm jadul yang telah direstorasi. Tingginya permintaan itu dirasakan Arik Agung Prasetyo Budi, 35, warga Desa Kalipucung, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, yang mampu menjual rata-rata 30 unit helm setiap bulan.
Usaha restorasi helm lawas yang dirintis sejak 2016 itu kini menjadi mata pencaharian utama Arik. Awalnya ia hanya menjual koleksi pribadi melalui media sosial. Respons positif dari para kolektor membuatnya yakin bahwa barang lawas masih memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Dulu saya coba jual helm koleksi pribadi lewat media sosial dan ternyata laku. Dari situ saya melihat ternyata ada pasarnya,” ujarnya
Kini rumah orang tuanya disulap menjadi tempat restorasi sekaligus showroom. Ratusan helm berbagai model tersusun rapi di rak ruang tamu, sementara sebagian lainnya masih menunggu proses perbaikan sebelum dipasarkan kembali.
Arik memperoleh bahan helm dari komunitas pecinta barang lawas hingga pengepul barang bekas. Helm yang dibeli dengan harga sekitar Rp 75 ribu per unit kemudian direstorasi dan dijual kembali dengan harga Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu, tergantung jenis, kondisi, serta tingkat orisinalitasnya.
Menurutnya, helm jenis chips menjadi salah satu yang paling banyak dicari kolektor. Apabila kondisi cat dan stikernya masih asli, nilai jualnya bisa mencapai Rp 350 ribu per unit. “Kalau yang masih orisinal harganya memang lebih tinggi. Kolektor biasanya mencari helm dengan kondisi asli atau hasil restorasi yang rapi,” katanya.
Mayoritas pembeli justru berasal dari luar Jawa Timur, seperti Jakarta, Jawa Barat, dan Bali. Arik mengaku pemasaran melalui komunitas pecinta motor dan media sosial menjadi kunci usahanya tetap berkembang. “Dalam sebulan rata-rata bisa terjual sekitar 30 unit. Paling banyak pembeli dari Jakarta, Jawa Barat, dan Bali karena komunitas motornya cukup besar,” pungkasnya. (*)







