KabarBaik.co, Blitar – Kreativitas mengolah limbah menjadi barang bernilai ekonomi ditunjukkan Ahmad Redam Sunalis, warga Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Melalui Rumah Daur Ulang Petruk Punokawan miliknya, Sunalis mengubah sampah anorganik berupa pecahan kaca menjadi gantungan kunci resin art yang memiliki nilai jual.
Kerajinan tersebut kini mulai diminati masyarakat karena memiliki bentuk unik dan estetik. Salah satu desain yang paling banyak dicari yakni miniatur Candi Penataran yang menjadi ikon budaya Kabupaten Blitar.
Sunalis mengaku ide tersebut muncul dari kebiasaannya mengelola sampah rumah tangga di lingkungan desa sejak beberapa tahun terakhir. Dari aktivitas itu, dirinya mencoba memanfaatkan limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna menjadi produk kreatif.
“Awalnya saya melihat banyak pecahan kaca terbuang begitu saja. Akhirnya saya coba olah menjadi kerajinan resin art supaya punya nilai ekonomi,” ujarnya, Minggu (24/5).
Selain gantungan kunci, Sunalis sebelumnya juga pernah membuat berbagai karya dari limbah, seperti batako dari sisa pembakaran sampah hingga lambang Garuda Pancasila berbahan bekas popok bayi.
Untuk membuat gantungan kunci tersebut, pecahan kaca terlebih dahulu dibersihkan, dihaluskan, lalu diayak hingga menjadi butiran lembut. Setelah itu, material dimasukkan ke cetakan silikon dan dicampur resin berwarna sesuai desain yang diinginkan.
“Setelah dicetak tinggal menunggu sekitar 15 menit sampai mengering. Kalau sudah jadi, bagian tepinya dihaluskan lalu dipasang gantungan,” jelasnya.
Keunikan produk tersebut terletak pada efek kilauan yang muncul saat terkena cahaya matahari maupun lampu. Pantulan warna dari serpihan kaca membuat gantungan kunci terlihat berubah-ubah dan menarik perhatian. “Kalau kena cahaya hasilnya berkilau dan warnanya bisa berubah sesuai pantulan sinar,” katanya.
Saat ini pemasaran produk dilakukan melalui media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook. Sunalis berharap kerajinan bertema Candi Penataran itu dapat menjadi suvenir khas bagi wisatawan yang datang ke Blitar. “Saya ingin produk ini bukan hanya kerajinan, tapi juga cara mengenalkan Candi Penataran sebagai identitas budaya Blitar,” pungkasnya. (*)








