Irina Voronkova: Ketika Panggilan Kedua Indonesia Masih Tetap Menyala

oleh -1275 Dilihat
VORONKOVA
Irina Voronkova bersama skuad Jakarta Pertamina Enduro di Proliga 2026.

KabarBaik.co, Yogyakarta- GOR Amongrogo, bergemuruh. Gold final Proliga 2026 sektor putri leg pertama selesai. Jakarta Pertamina Enduro (JPE) menang 3-1 atas Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia. Di antara yang dapat sorotan bukan sekadar skor itu, melainkan performa seorang perempuan berpostur 190 sentimeter bernama Irina Voronkova.

Empat set, dia mencetak 36 poin malam itu. Jauh lebih banyak dari pemain lain. Seluruh penonton tahu siapa bintangnya. Ya, Voronkova. Namun perjalanannya tidak dimulai dari papan skor. Tapi, kisah tentang seorang anak yang lahir di Istanbul, Turki, dibesarkan di Rusia, dan saat ini menemukan panggilan kedua di Indonesia.

Voronkova lahir pada 20 Oktober 1995. Bakal menginjak 31 tahun. Ayahnya, Andrei Voronkov, adalah mantan pemain sekaligus pelatih tim nasional voli Rusia. Ibunya juga mantan pemain voli, begitu pula kakak perempuannya. Dengan kata lain, darah voli mengalir begitu kental.

Tapi masa kecilnya tidak biasa. Hidup sebagai anak pelatih tim nasional berarti tuntutan selalu lebih tinggi. Dalam wawancara dengan sebuah media luar, ia menceritakan bahwa sebagai kapten timnas Rusia, sering dimarahi ayahnya karena kebiasaannya yang tidak melapor ke ruang ganti dan cenderung bersikap seenaknya demi membela rekan setim.

Sang ayah pun tidak tinggal diam. Teguran demi teguran dilontarkan untuk pendisiplinan. Namun dari situlah karakter besarnya terbentuk. Keras kepala, tapi loyal; ceplas-ceplos, tapi bertanggung jawab.

Dari Dinamo Kazan ke Dunia: Pengembara Profesional

Karier profesional Irina dimulai pada 2010 bersama Dinamo Moscow-2. Setahun kemudian, ia bergabung dengan raksasa Dinamo Kazan. Di sana ia langsung merasakan gelar: Piala Rusia 2012, FIVB Club World Championship 2014.

Dari Kazan, ia pindah ke Zarechie Odintsovo, lalu kembali ke Kazan, hingga akhirnya berlabuh di Lokomotiv Kaliningrad. Pada 2020, ia mencoba peruntungan di Liga Turki bersama Eczacıbaşı Dynavit. Lalu petualangan sebenarnya dimulai: Vietnam, China, dan Indonesia.

Mengapa terus berpindah? Bukan karena tidak betah, melainkan karena satu keyakinan yang dipegang teguh. “Saya tidak bisa beristirahat terlalu lama. Saya sudah lama menyadari bahwa istirahat panjang tidak baik untuk tubuh saya. Saya lebih suka menjaga kebugaran dan kondisi fisik yang baik.”

Kalimat itu pernah diucapkan ke awak media, dan menjadi kunci memahami etos kerjanya. Dia pun bukan sekadar pemain bayaran, melainkan atlet yang takut kehilangan ritme.

Musim 2025-2026, Voronkova bergabung dengan Shanghai Bright di Liga Voli China. Di sana ia menghadapi tantangan terberat dalam kariernya. Intensitas latihan yang luar biasa.

Dalam wawancara pada Maret 2026, dia mengakui, “Dua bulan pertama sangat berat. Latihan lebih banyak, istirahat lebih sedikit. Kami latihan fisik hingga lima kali seminggu.”

Dia membandingkan metode pelatihan China dengan gaya legendaris pelatih Rusia, Nikolai Karpol. “Latihan di China mengingatkan saya pada metode Karpol. Keduanya sama-sama membentuk pemain dengan karakter gigih.”

Bergabung Popsivo Polwan

Namun sebelum semua itu, Indonesia sudah lebih dulu merasakan keganasannya. Pada Proliga 2024, Irina memperkuat Jakarta Popsivo Polwan. Saat itu, ia baru bergabung dengan tim hanya seminggu sebelum kompetisi dimulai, sebuah kejutan yang membuat pelatih takjub. Adaptasinya terhadap cuaca, lingkungan, dan rekan setim berlangsung secepat kilat.

Hasilnya? Ia menjadi Top Skor Seri Reguler dengan 275 poin (data resmi PBVSI), sekaligus mencatatkan 31 poin dari service ace (terbanyak) dan 16 poin dari blok.

Dalam laga puncak klasemen melawan Bandung BJB Tandamata, saat itu Irina memimpin Popsivo meraih kemenangan 3-0. Di perebutan peringkat ketiga melawan Jakarta Pertamina Enduro, yang kelak akan dibelanya dua tahun kemudian, smash-smash mematikannya membantu tim mengamankan podium.

Namun, Proliga 2024 bukan milik Popsivo. Gelar juara saat itu diraih oleh Jakarta BIN setelah mengalahkan Jakarta Electric PLN di final. Popsivo sendiri finis di peringkat ketiga, mengalahkan JPE di laga perebutan juara 3. Dan gelar MVP putri jatuh kepada Megawati Hangestri Pertiwi, yang kemudian kini justru menjadi tandem Voronkova di JPE.

Irina mengaku takjub dengan atmosfer Proliga. “Luar biasa,” katanya. Tapi di balik kesuksesannya di Indonesia, ada kabar duka dari tanah airnya yang jauh di sana. Sejak Februari 2022, dunia voli internasional menjatuhkan sanksi kepada Rusia. FIVB dan CEV melarang semua timnas, klub, dan ofisial Rusia berpartisipasi dalam kejuaraan resmi.

Rusia kehilangan hak menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Voli Putra 2022. Klub-klub Rusia yang masih tersisa di kompetisi Eropa harus bermain di tempat netral. Semua pejabat Rusia dicopot dari jabatannya di berbagai badan voli. Namun, belakangan sejak 1 Januari 2026, FIVB memberikan izin terbatas bagi tim junior Rusia dan Belarus untuk kembali bertanding, namun tim senior masih dilarang total.

Akibatnya, timnas voli putri Rusia – yang pernah meraih medali emas Olimpiade 2012 – absen dari Olimpiade 2024, Kejuaraan Dunia, dan berbagai turnamen bergengsi lainnya. Para atlet muda kehilangan kesempatan tampil di panggung internasional.

Irina Voronkova, yang pernah menjadi kapten timnas Rusia, tidak bisa berbuat banyak. Dalam wawancara dengan Sports Daily Rusia pada September 2025, ia menyatakan kerinduannya untuk bisa kembali membela tim nasional di pentas internasional. Ia optimistis Rusia bisa menembus lima besar dunia jika diberi kesempatan.

Namun sambil menunggu, ia memilih untuk terus bergerak. Bisa jadi justru sanksi itulah yang tanpa sengaja membawanya lebih dekat ke Indonesia, China, Vietnam, liga-liga yang selama ini mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya. Dia memang tidak bisa membela negaranya di Olimpiade, tapi bisa membela klub-klub di Asia. Tidak bisa mengenakan seragam merah-putih Rusia, tapi bisa menghibur penonton di GOR Amongrogo dan tanah air.

Lalu, berapa sebenarnya nilai kontraknya? Tidak ada angka resmi. Tapi standar pemain asing di Proliga biasanya berkisar Rp 3–4 miliar per musim. Dengan status eks Olimpiade, juara Chinese National Championship, dan top skor Proliga 2024, logikanya Voronkova berada di jajaran premium.

Meski sudah menjadi warga dunia, Voronkova tidak pernah melupakan tanah airnya. Sanksi yang membelenggu negaranya tidak pernah membuatnya membenci voli. Sebaliknya, semakin mencintai olahraga yang memungkinkannya bertahan – bahkan ketika negaranya tidak diizinkan bertanding.

Dan Indonesia, pada gilirannya, telah memberinya ruang untuk terus bermain, terus mencetak poin, dan terus menjadi dirinya sendiri. Dari Popsivo Polwan di 2024 hingga Pertamina Enduro di 2026, semuanya adalah potongan dari seorang perempuan yang menolak untuk berhenti.

Tetap Tidak Sempurna

Namun, tidak ada pemain yang sempurna. Diakui atau tidak, Voronkova pun memiliki kelemahan dalam reception, efisiensi serangan yang naik turun, dan kontrol emosi yang pernah ditegur ayahnya sendiri. Dan, justru ketidaksempurnaan itulah yang membuat seseorang manusiawi.

Maka ketika ia melompat dan menyulut 36 poin di grand final Proliga 2026 leg pertama, jangan tanya apakah itu sempurna. Tanyakan, apakah ada orang di GOR Amongrogo yang tidak tertegun?

Hanya, performa Irina Voronkova masih akan kembali diuji pada leg kedua gold final melawan Gresik Phonska Plus hari ini (25/4). Masihkah layak mendapat julukan ”Ibu Komisaris”? (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.