Jasad Bocah Tenggelam di Sungai Pucang Sidoarjo Ditemukan 3,4 Km dari Lokasi Kejadian

oleh -48 Dilihat
jasaddd
Jenazah korban yang baru ditemukan hendak dievakuasi. (Yudha)

KabarBaik.co – Tim SAR gabungan akhirnya menemukan jasad Fawwas Juliansah, 12, siswa kelas 6 SD yang dilaporkan tenggelam di Sungai Pucang pada Minggu (9/3) sore. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Senin (10/3) siang, sekitar 3,4 kilometer dari lokasi kejadian.

Seorang saksi mata, Yanti, mengungkapkan jenazah korban pertama kali dilihat oleh teman sekolah korban yang kebetulan melintas.

“Tadi ada anak kecil, teman sekolah korban yang sedang pulang sekolah melihat ada tubuh korban yang mengapung dan dia lapor ke ibunya,” ujarnya.

Usai mendapatkan informasi tersebut, sang ibu lantas mengecek kebenaran informasi dari anaknya. Setelah memastikan bahwa yang terlihat adalah tubuh Fawwas, ia segera menghubungi Call Center 112 Sidoarjo untuk melaporkan penemuan tersebut. Warga sekitar yang berada di lokasi penemuan juga langsung berupaya untuk mengangkat tubuh korban ke daratan.

“Barusan ditemukan seorang bocah yang mengapung dengan posisi tengkurap, memakai celana hitam kotak-kotak. Sepertinya kakinya ada luka-luka seperti digigit ikan yang ada di sungai ini, kondisinya memucat,” ujar Yanti lebih lanjut.

Komandan Tim SAR Gabungan, Andy Pamuji, menjelaskan bahwa pencarian hari kedua dilakukan dengan dua metode. Tim pertama melakukan penyisiran manual menggunakan metode rantai manusia dari lokasi kejadian hingga Jembatan Pucang, sementara tim kedua menyisir sungai menggunakan perahu karet.

“Pada pukul 11.30 WIB, kami mendapat informasi dari kedua tim bahwa mereka melihat jenazah mengapung di daerah Bluru. Tim gabungan memastikan kebenarannya dan selanjutnya korban kami evakuasi,” jelas Andy.

Operasi pencarian melibatkan sekitar 86 personel dari berbagai instansi, termasuk tim SAR Surabaya dan Sidoarjo, serta lima perahu karet. Setelah ditemukan, jenazah korban segera dievakuasi dan dibawa ke RS Bhayangkara Porong untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kendala utama dalam pencarian adalah kondisi air sungai yang surut, sehingga metode rantai manusia lebih efektif dibandingkan penggunaan perahu karet. “Kondisi air yang dangkal membuat perahu karet sulit bergerak bebas, jadi kami lebih mengandalkan penyisiran manual dengan berjalan di sepanjang sungai,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Yudha
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.