Kasus Pelecehan Seksual Grup WA di Unesa, Motif Pelaku Iseng hingga Kepuasan Pribadi

oleh -84 Dilihat
WhatsApp Image 2026 07 19 at 9.57.50 AM
Gedung Unesa

KabarBaik.co, Surabaya — Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengungkap hasil asesmen terhadap enam mahasiswa yang menjadi terduga pelaku dalam kasus dugaan kekerasan seksual melalui grup percakapan WhatsApp. Berdasarkan hasil pendalaman yang dilakukan tim kampus, tindakan para terduga pelaku diduga dilatarbelakangi motif keisengan, fantasi, hingga kepuasan pribadi.

Direktur Humas, Informasi Publik, Protokoler Unesa, Vinda Maya Setianingrum mengatakan kesimpulan tersebut diperoleh dari proses asesmen yang dilakukan terhadap enam mahasiswa yang diduga terlibat dalam percakapan bermuatan pelecehan seksual.

“Jadi untuk iseng, untuk kepuasan sendiri, untuk imajinasi, dan berbagai alasan lainnya. Hasil asesmen sementara menunjukkan motifnya mengarah ke sana,” kata Vinda saat dikonfirmasi KabarBaik.co, Selasa (28/7).

Menurut Vinda, grup WhatsApp tersebut pada awalnya dibentuk sebagai ruang komunikasi enam mahasiswa yang kerap berdiskusi dan berinteraksi. Para mahasiswa itu dikenal memiliki prestasi akademik dan menggunakan grup tersebut sebagai wadah bertukar pikiran maupun menyalurkan ide.

Namun, dalam perkembangannya, percakapan di dalam grup diduga bergeser menjadi pembahasan yang tidak pantas dengan menjadikan sejumlah mahasiswa maupun dosen sebagai objek pembicaraan.

“Awalnya mereka membutuhkan ruang untuk berinteraksi dan mengaktualisasikan diri. Di sela-sela keisengan itu kemudian muncul percakapan yang akhirnya mengarah pada konten yang tidak semestinya,” katanya.

Pihak kampus menjelaskan percakapan tersebut semula hanya berlangsung di dalam grup yang beranggotakan enam orang dan tidak dimaksudkan untuk disebarluaskan.

Kasus itu akhirnya terungkap ketika salah seorang korban menggunakan telepon genggam milik salah satu terduga pelaku untuk menghubungi rekannya. Saat itulah korban melihat notifikasi percakapan yang berisi kalimat tidak pantas.

Korban kemudian membuka isi percakapan tersebut, mendokumentasikannya sebagai barang bukti, lalu melaporkannya kepada bagian advokasi Himpunan Mahasiswa Program Studi. Laporan tersebut selanjutnya diteruskan kepada Pusat Pencegahan dan Penanganan Intoleransi serta Kekerasan Seksual (PPIS) Unesa untuk diproses sesuai mekanisme yang berlaku.

Dalam proses penanganan, kata Vinda, para terduga pelaku juga mengaku menyesali perbuatannya. Mereka disebut mengalami tekanan psikologis akibat sanksi sosial setelah kasus tersebut mencuat ke publik.

Menurutnya, penyesalan juga dirasakan oleh keluarga para terduga pelaku. Orang tua mereka disebut berharap anak-anaknya dapat mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut dan memperbaiki perilaku di masa mendatang.

“Para terduga pelaku mengaku tidak menyangka percakapan di grup WhatsApp yang bersifat tertutup dapat berdampak luas dan menimbulkan luka bagi pihak yang menjadi objek pembicaraan,” ujarnya.

Sementara itu, proses penanganan kasus masih terus berlangsung di lingkungan kampus. Unesa menegaskan penyelesaian perkara dilakukan sesuai prosedur yang berlaku dengan tetap mengedepankan perlindungan terhadap korban, pendampingan psikologis, serta asas keadilan bagi seluruh pihak.

Sebelumnya, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Vokasi Unesa menyampaikan jumlah korban dalam kasus dugaan pelecehan seksual melalui grup percakapan tersebut bertambah dari 19 menjadi 26 orang. Dari jumlah itu, korban terdiri atas 22 mahasiswa dan empat dosen. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Irma Hari Trisiawardani
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.