Kemarau Diprediksi Lebih Kering, DKPP Bojonegoro Ajak Petani Siaga Dini

oleh -725 Dilihat
IMG 20260425 WA0018
Peta kekeringan wilayah Jawa Timur. (Foto: Shohibul Umam) 

KabarBaik.co, Bojonegoro – Menghadapi potensi musim kemarau tahun ini yang diperkirakan lebih kering, menjadikan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro mengajak seluruh penyuluh, petani, dan pelaku usaha pertanian untuk meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini.

Ajakan tersebut disampaikan melalui Kepala Bidang Sarana, Prasarana dan Perlindungan Tanaman, Yuseriza Anugerah Leksana, dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Persiapan Musim Kemarau yang digelar di Bakorwil Madiun.

Dalam forum itu terungkap bahwa dampak perubahan iklim global semakin nyata dirasakan sektor pertanian terutama di Kabupaten Bojonegoro, mulai dari penurunan produktivitas hingga meningkatnya risiko kekeringan dan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Pejabat yang akrab disapa Riza itu mengatakan, kenaikan suhu udara menjadi salah satu faktor krusial yang perlu diwaspadai. “Kenaikan suhu, bahkan dalam skala kecil, bisa berdampak signifikan terhadap penurunan hasil pertanian,” ujarnya, Sabtu (25/4).

Hasil kajian Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Timur menunjukkan bahwa peningkatan suhu dapat mempercepat penguapan air tanah, memperpendek umur tanaman, serta menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen.

Kondisi ini berpotensi semakin memburuk apabila terjadi anomali iklim ekstrem yang berdampak pada kerusakan sumber daya lahan dan meningkatnya intensitas kekeringan. Selain itu, perubahan pola curah hujan yang tidak menentu juga menjadi tantangan tersendiri.

Pergeseran awal musim hujan, baik maju maupun mundur, membuat pola tanam semakin sulit diprediksi oleh petani. Berdasarkan prediksi, musim kemarau tahun ini berada pada kategori normal hingga bawah normal, dengan potensi kekeringan di sejumlah wilayah Jawa Timur, termasuk Bojonegoro.

Ketersediaan air diperkirakan masih mencukupi hingga pertengahan tahun, namun membutuhkan pengelolaan yang lebih presisi. Karena itu, DKPP Bojonegoro mendorong optimalisasi pemanfaatan berbagai sumber air, seperti bendungan, embung, jaringan irigasi, hingga pompanisasi. Pengelolaan air diharapkan dilakukan secara efisien dan bergiliran sesuai rekomendasi teknis.

Petani juga diimbau menyesuaikan pola serta waktu tanam dengan kondisi ketersediaan air. Di wilayah rawan kekeringan, peralihan ke tanaman palawija atau penggunaan varietas padi tahan kering menjadi langkah strategis. “Kemarau tidak harus identik dengan gagal panen, selama kita mampu menyesuaikan strategi. Kuncinya ada di pola tanam dan pengelolaan air,” tambahnya.

DKPP turut menekankan pentingnya kepatuhan terhadap Rencana Tata Tanam Global (RTTG). Penanaman yang tidak sesuai rencana berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan kebutuhan air dan meningkatkan risiko konflik pemanfaatan sumber daya air.

Selain itu, praktik pengambilan air secara tidak terkontrol dari saluran maupun sungai juga menjadi perhatian serius karena dapat mengurangi pasokan air bagi wilayah lain.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, peran penyuluh pertanian dan Petugas Teknis PU SDA dinilai sangat vital sebagai ujung tombak pendampingan di lapangan.

Mereka diharapkan aktif memberikan edukasi, melakukan pemantauan, serta menawarkan solusi adaptif bagi petani. (*) 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Shohibul Umam
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.