KabarBaik.co – Desakan buruh agar UMK Sidoarjo naik delapan persen mulai memicu diskusi hangat di dunia industri. Bila tuntutan itu disetujui, angka UMK bakal menembus sekitar Rp 5,3 juta. Kenaikan tersebut langsung menjadi sorotan karena dianggap berpotensi menekan perusahaan yang kini sedang berjibaku menjaga stabilitas usaha.
Di lapangan, sejumlah pelaku industri mengaku situasi bisnis tahun ini belum sepenuhnya pulih. Penjualan melemah, sementara biaya bahan baku naik, membuat ruang gerak perusahaan makin sempit.
Pengurus Kadin Sidoarjo, Muhammad Shofi, mengatakan banyak perusahaan tengah berhitung secara ketat. Menurutnya, kondisi finansial sebagian besar industri sedang tidak leluasa.
“Memaksa perusahaan mengikuti UMK yang terlalu tinggi bisa membuat mereka mengambil langkah ekstrem,” katanya, Selasa (09/12).
Shofi menuturkan dinamika itu juga membuat tren relokasi pabrik ke daerah bergaji lebih rendah semakin terasa. Beberapa perusahaan mulai memilih kawasan selatan Jawa Timur seperti Nganjuk atau Tulungagung yang dinilai lebih ramah biaya.
“Struktur upah di Sidoarjo lebih tinggi, itu yang membuat banyak pabrik ‘geser’,” ujarnya.
Sementara itu, Disnaker Sidoarjo menegaskan proses penetapan UMK 2026 belum masuk tahap pembahasan. Kepala Disnaker Ainun Amalia menyebut pihaknya masih menunggu aturan dari Kementerian Ketenagakerjaan sebagai pijakan hukum.
Meski begitu, Ainun memastikan seluruh proses nantinya tetap mengedepankan musyawarah bersama serikat pekerja dan pelaku usaha. “Yang penting keputusan akhir proporsional dan bisa dijalankan tanpa menimbulkan gejolak,” jelasnya.
Sebagai catatan, UMK Sidoarjo sudah mengalami kenaikan enam persen pada bulan November lalu. Kenaikan berikutnya kini menunggu kesepakatan bersama agar tidak menimbulkan beban baru bagi industri, namun tetap menjaga kesejahteraan pekerja. (*)






