KabarBaik.co – Pagi itu seharusnya menjadi momen perpisahan terakhir yang tenang bagi keluarga Choiruddin, 77. Air mata masih membasahi wajah anak-anaknya ketika keranda diangkat perlahan menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Grogol, Tulangan, Sidoarjo. Namun duka yang belum kering justru berubah menjadi pilu ketika langkah mereka terhenti di depan gerbang pemakaman.
Choiruddin, warga Perumahan Surya Kencana, meninggal dunia Selasa (16/12) malam setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Siti Fatimah. Keluarga telah menyiapkan prosesi pemakaman pada Rabu (17/12) pagi. Tak ada yang mereka harapkan selain doa dan makam untuk tempat terakhir sang ayah yang mereka cintai.
Namun harapan itu runtuh seketika. Di saat keranda hendak masuk ke area TPU, sejumlah warga menghadang. Tanpa penjelasan yang jelas, pemakaman ditolak. Anak kedua almarhum, Irwan Dwi Wahyudi (51), hanya bisa terpaku, tak percaya perpisahan terakhir ayahnya harus terhenti di tengah jalan.
“Kami sedang berduka. Kami datang untuk memakamkan orang tua kami, bukan untuk berdebat,” tutur Irwan lirih, menahan emosi Kamis (18/12).
Di tengah isak tangis keluarga, ketegangan pun tak terhindarkan. Adu argumen terjadi antara warga perumahan dan sebagian warga desa. Aparat TNI dan Polri berupaya menenangkan suasana, namun emosi yang terlanjur memanas membuat proses pemakaman mustahil dilanjutkan.
Bagi keluarga, penolakan itu meninggalkan luka yang sulit dijelaskan. Bukan hanya kehilangan sosok ayah, mereka juga harus menerima kenyataan pahit bahwa almarhum tak diterima di tanah yang seharusnya menjadi tempat peristirahatan terakhir.
Dengan hati hancur, keluarga akhirnya memilih mengalah. Keranda diangkat kembali, meninggalkan TPU Grogol. Air mata mengiringi langkah mereka yang terasa semakin berat.
Perjalanan keluar pemakaman pun tak mudah. Akses jalan yang sempit memaksa rombongan mengangkat keranda melewati tembok pembatas makam. Sebuah pemandangan yang kemudian terekam kamera dan menyebar luas di media sosial, menyisakan keheningan dan tanda tanya bagi banyak orang.
Akhirnya, Choiruddin dimakamkan di TPU Praloyo, kawasan Lingkar Timur Sidoarjo. Di tempat itu, doa-doa dipanjatkan dengan penuh keikhlasan, meski luka di hati keluarga belum sepenuhnya sembuh.
“Kami hanya berharap tidak ada keluarga lain yang merasakan duka seperti ini. Kehilangan orang tua saja sudah berat, apalagi harus mengalami penolakan di saat terakhir,” ucap Irwan.
Bagi keluarga Choiruddin, hari itu bukan hanya tentang perpisahan. Ia menjadi kenangan pahit tentang bagaimana duka bisa berlipat, ketika empati tak hadir di tengah kehilangan. (*)






