KabarBaik.co, Surabaya — Isu kebangsaan yang kerap terasa berat dan formal, di tangan mahasiswa justru dikemas hangat dan membumi. Lewat forum Sapa Akar Bangsa, ratusan mahasiswa di Surabaya mengubah diskusi tentang moderasi beragama dan bela negara menjadi gerakan kolektif yang nyata. Dimulai dari ruang sederhana hingga komitmen bersama lintas sektor.
Forum bertajuk Sarapan Afirmasi Akar Moderasi Beragama dan Bela Negara yang digelar oleh PW PMMBN Jawa Timur 1 ini tak sekadar menjadi ruang diskusi. Di tengah meningkatnya tantangan seperti polarisasi sosial, derasnya arus informasi digital, hingga ancaman intoleransi, mahasiswa didorong tampil sebagai garda depan dalam menjaga persatuan bangsa.
Direktur Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama (Kemenag) RI Dr M. Munir MA menegaskan bahwa kekuatan Indonesia bertumpu pada dua pilar utama. Yakni, komitmen kebangsaan dan pemahaman keagamaan yang moderat. Menurutnya, keduanya harus berjalan beriringan untuk menjaga keutuhan bangsa.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Bakesbangpol Jawa Timur Eddy Supriyanto, yang menekankan peran strategis generasi muda sebagai aktor preventif. Ia menyebut mahasiswa memiliki posisi penting dalam merawat moderasi melalui tindakan nyata di tengah masyarakat.
Sementara itu, pendekatan humanis dalam bela negara turut disoroti aparat keamanan. Direktur Binmas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Eko Santoso, menilai bahwa menumbuhkan rasa cinta tanah air di kalangan pemuda perlu dilakukan melalui pembinaan berkelanjutan dan metode edukatif, bukan semata pendekatan militeristik.
Puncak kegiatan ditandai dengan pembacaan deklarasi kebangsaan yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, aparat keamanan, hingga mahasiswa. Ketua PW PMMBN Jawa Timur 1, Cindi Romantika Oktaviani, hadir sebagai representasi generasi muda dalam penandatanganan komitmen tersebut.
Tak berhenti pada wacana, forum ini juga membuka peluang kolaborasi konkret. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Timur Dr H Adi Wawan Guntoro, menyatakan kesiapan pihaknya untuk memfasilitasi ide-ide kreatif mahasiswa agar dapat diwujudkan dalam aksi nyata yang terintegrasi dengan nilai bela negara.
Dukungan juga datang dari Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Dr H. Akhmad Sruji Bahtiar, yang menegaskan pentingnya implementasi moderasi beragama dalam konteks kewilayahan agar benar-benar dirasakan masyarakat.
Melalui forum tersebut, mahasiswa tidak hanya diajak berdiskusi, tetapi juga dibekali keterampilan seperti literasi digital dan resolusi konflik sosial. Langkah ini dinilai penting sebagai upaya menghadapi kompleksitas tantangan kebangsaan di era modern.
Di tengah dinamika Kota Surabaya yang terus bergerak, forum Sapa Akar Bangsa menjadi penanda bahwa menjaga Indonesia bisa dimulai dari langkah sederhana—dari ruang diskusi, percakapan, hingga komitmen bersama yang perlahan tumbuh menjadi gerakan nyata. (*)







