Menenun Persatuan di Museum Marsinah: Prabowo Sebut Bung Karno Bukan Milik Satu Partai

oleh -118 Dilihat
WhatsApp Image 2026 05 16 at 3.00.02 PM
Saat Prabowo menyapa warga Nganjuk dari atas mobil (Agus Karyono)

KabarBaik.co, Nganjuk – Suasana Desa Nglundo, Sukomoro, Nganjuk mendadak riuh pada Sabtu (16/5). Ribuan warga memadati tepi jalan raya, tak sabar menyapa Presiden Prabowo Subianto yang hadir untuk meresmikan Museum Marsinah dan Rumah Singgah.

Di tengah atmosfer penghormatan terhadap pahlawan buruh tersebut, Presiden ke-8 RI ini justru membawa pesan kebangsaan yang mendalam, mengingatkan kembali bahwa ingatan kolektif bangsa tidak boleh dikotak-kotakkan oleh syahwat politik praktis.

Di hadapan para tamu undangan dan perwakilan buruh yang hadir, Prabowo menegaskan bahwa fondasi pemikirannya berakar kuat pada gagasan para leluhur bangsa, terutama Sang Proklamator.

“Percayalah kaum buruh, percayalah semuanya, paham saya adalah paham Soekarno pendiri bangsa kita,” ujar Prabowo dengan nada mantap.

Langkah kaki Prabowo di museum tersebut seolah menjadi simbol jembatan masa lalu dan masa depan. Ia blak-blakan mengakui bahwa arah perjuangannya selama ini banyak dipandu oleh pemikiran Presiden pertama RI tersebut. Baginya, warisan pemikiran Soekarno terlalu besar jika hanya diklaim oleh satu golongan semata.

“Jadi saudara-saudara, sebetulnya saya yang banyak belajar dari ajaran-ajarannya Bung Karno. Jadi maaf, Bung Karno bukan milik satu partai, Bung Karno adalah milik seluruh Bangsa Indonesia,” kata Prabowo, yang langsung disambut gemuruh tepuk tangan riuh dari para hadirin.

Di Nganjuk, narasi yang dibangun bukan lagi soal rivalitas politik, melainkan rekonsiliasi sejarah. Prabowo tidak hanya mengagungkan satu nama. Ia merajut kembali rajutan sejarah dengan menyebut tokoh-tokoh dari spektrum ideologi yang berbeda di masa lalu, menegaskan bahwa keragaman pemikiran adalah modal utama kekuatan Indonesia.

“Bung Karno, Bung Hatta milik seluruh rakyat, semuanya. Sutan Sjahrir, kalau kita mau maju harus belajar dari pendiri bangsa.” tutur Prabowo.

Peresmian museum yang turut dihadiri oleh jajaran menteri dan pejabat tinggi seperti Menaker Yassierli, Mentan Andi Amran Sulaiman, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, hingga Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ini pada akhirnya menjadi panggung diplomasi sejuk.

Di akhir pidatonya, Prabowo mengingatkan pentingnya persatuan domestik dan keharmonisan global demi membawa Indonesia menjadi bangsa yang besar.

“Seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Kita hormati semua,” pungkasnya.

Dari museum yang didedikasikan untuk mengenang keberanian seorang buruh bernama Marsinah, sebuah pesan besar digaungkan, bahwa Indonesia hanya akan melangkah jauh jika mau berjalan bersama, tanpa menyekat para pahlawannya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Agus Karyono
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.