KabarBaik.co – Hasil panen padi di Kabupaten Jember mengalami penurunan signifikan pada tahun 2025, kontras dengan program swasembada pangan yang digaungkan pemerintah pusat.
Berdasarkan data dari Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (TPHP) Jember, total hasil panen gabah kering giling (GKG) periode Januari hingga November 2025 tercatat sekitar 934.403,8 ton (atau 934 ribu ton). Angka ini anjlok drastis dibandingkan dengan hasil panen tahun 2024 yang mencapai 988 ribu ton.
Penurunan hasil panen sebanyak 54 ribu ton ini sejalan dengan berkurangnya luasan tanam padi di Jember. Luas tanam pada tahun 2024 adalah 163 ribu hektar, sedangkan pada tahun 2025 menurun menjadi hanya sekitar 139 ribu hektar.
Padahal, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember menargetkan produksi padi sebanyak 1 juta ton untuk menjadikan Jember sebagai lumbung pangan Jawa Timur.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas TPHP Jember, Luhur Prayogo, menjelaskan beberapa faktor penyebab penurunan tersebut.
“Salah satu faktor jelas penurunan hasil panen ini disebabkan oleh cuaca ekstrem, di mana kita ketahui setiap bulan selalu turun hujan,” kata Luhur saat dikonfirmasi pada Jumat (12/12).
Ia menyebut, di beberapa daerah yang digenjot tiga kali tanam, tiba-tiba muncul hama seperti tikus, wereng, dan semacamnya.
“Sehingga padi yang dihasilkan menurun,” katanya.
Pihaknya juga menyebut bahwa sebagian lahan sawah juga beralih fungsi tanaman. Luhur menyebutkan, lahan yang biasanya ditanami padi beralih menjadi tanaman tembakau pada Juni 2025.
“Karena saat itu cuaca panasnya cukup, akhirnya petani beralih tanam tembakau. Jadi luasan tanam kami, dibanding tahun sebelumnya ada sedikit penurunan,” terangnya.
Faktor lain yang memengaruhi adalah semakin sedikitnya anak muda yang mau bertani karena menganggap sektor ini kurang menjanjikan.
Padahal sektor pertanian adalah yang paling kuat dalam berbagai situasi ekonomi. Tetapi mereka beranggapan, dengan luasan lahan terbatas, hasilnya tidak begitu menjanjikan,” ungkap Luhur.
Menanggapi kondisi ini, Ketua Komisi B DPRD Jember, Candra Ary Fianto, menilai penurunan produksi juga tidak lepas dari dugaan alih fungsi lahan pertanian produktif.
“Kami mengindikasikan hari ini di Kabupaten Jember, alih fungsi lahan pertanian produktif banyak terjadi. Sehingga mengakibatkan lahan pertanian produktif berkurang,” tegas Candra.
Candra mengingatkan, meskipun Pemkab harus ramah investasi, hal tersebut tidak boleh mengorbankan lahan pertanian produktif.
“Maka Perda RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) dan RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) harus segera dituntaskan. Selama dua Perda ini tidak selesai, akan ada semacam pertentangan penentuan lokasi pengusaha berinvestasi dan LP2B(Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan),” jelasnya.
Legislator Fraksi PDI Perjuangan ini khawatir, bila masalah pertanian tidak segera ditangani, Pemkab Jember akan gagal mewujudkan cita-cita Presiden Prabowo Subianto dalam mencapai swasembada pangan.
“Kondisi cuaca dan beberapa hal kurang begitu baik, saya rasa itu tidak bisa dijadikan alasan atau kendala dalam mewujudkan Kabupaten Jember sebagai lumbung pangan terdepan,” pungkas Candra. (*)







