OJK: Sektor Jasa Keuangan Tetap Solid di Tengah Tekanan Inflasi Global dan Gejolak Pasar

oleh -154 Dilihat
IMG 20260608 WA0011
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi. (Foto: Istimewa) 

KabarBaik.co, Jakarta – Sektor jasa keuangan Indonesia tetap menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya tekanan inflasi global dan volatilitas pasar keuangan internasional. Kondisi tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Mei 2026.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi mengatakan, konflik geopolitik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah telah mendorong harga energi global tetap tinggi. “Dampaknya, tekanan inflasi di berbagai negara meningkat dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga global akan bertahan tinggi lebih lama atau higher for longer,” ujarnya, Senin (8/6).

Kondisi tersebut turut memicu kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah di sejumlah negara dan meningkatkan ketidakpastian arah kebijakan moneter global. Selain itu, volatilitas pasar keuangan juga semakin tinggi, termasuk terhadap aliran modal ke negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Meski demikian, perekonomian global dinilai masih cukup resilien. Aktivitas manufaktur dunia masih berada di zona ekspansi meski pertumbuhannya mulai melambat. Di Amerika Serikat, perekonomian masih ditopang oleh pasar tenaga kerja yang kuat.

Namun, tekanan inflasi mulai memengaruhi tingkat kepercayaan konsumen. Sementara itu, ekonomi Tiongkok menunjukkan tanda-tanda perlambatan karena lemahnya permintaan domestik dan investasi, meskipun sektor ekspornya masih relatif bertahan.

Di dalam negeri, aktivitas ekonomi menunjukkan perkembangan yang beragam. Dari sisi produksi, sektor manufaktur kembali mencatat ekspansi pada Mei 2026. Sementara dari sisi permintaan, aktivitas ekonomi domestik masih terjaga.

Inflasi nasional memang meningkat seiring tingginya harga energi global, namun masih berada dalam batas yang terkendali. Neraca perdagangan Indonesia juga masih mencatat surplus meski nilainya menurun dibandingkan periode sebelumnya.

“Perkembangan tersebut meningkatkan ketidakpastian arah kebijakan moneter global serta volatilitas pasar keuangan, terutama aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia,” ujar Friderica.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, kinerja sektor jasa keuangan nasional tetap solid. Intermediasi keuangan masih tumbuh positif dengan tingkat solvabilitas yang terjaga.

Pada pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami fase konsolidasi sepanjang Mei 2026. IHSG ditutup di level 6.127,38 atau terkoreksi 11,92 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan turun 29,14 persen sejak awal tahun (year to date/ytd).

Meski pasar saham mengalami tekanan, likuiditas pasar tetap terjaga. Rata-rata bid-ask spread tercatat sebesar 1,50 persen, sedikit meningkat dibandingkan April 2026 yang berada di level 1,33 persen.

Di sisi lain, aktivitas perdagangan justru
meningkat. Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) melonjak menjadi Rp 22,86 triliun dari Rp 18,51 triliun pada bulan sebelumnya.

Investor asing masih membukukan aksi jual bersih (net sell) di pasar saham sebesar Rp 4,10 triliun selama Mei 2026. Namun angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan April 2026 yang mencapai Rp 17,02 triliun.

Pada pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup menguat 0,32 persen secara bulanan ke level 437,26. Namun secara tahunan berjalan, indeks tersebut masih terkoreksi 0,81 persen.

Sementara itu, yield Surat Berharga Negara (SBN) rata-rata naik 5,61 basis poin secara bulanan dan meningkat 56,22 basis poin sejak awal tahun. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya persepsi risiko akibat ketidakpastian ekonomi global.

Investor asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp 3,70 triliun di pasar SBN selama Mei 2026. Adapun pada pasar obligasi korporasi, investor asing masih mencatatkan net buy sebesar Rp 0,20 triliun.

Di sektor pengelolaan investasi, kinerja industri juga relatif terjaga. Nilai Asset Under Management (AUM) per 29 Mei 2026 mencapai Rp 1.049,84 triliun. Nilai tersebut turun 1 persen dibandingkan bulan sebelumnya, namun masih tumbuh 0,68 persen sejak awal tahun.

Sementara itu, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp 685,76 triliun atau turun 1,52 persen secara bulanan. Kendati demikian, NAB reksa dana masih mencatat pertumbuhan 1,55 persen secara tahunan berjalan.

OJK juga mencatat adanya net redemption atau penarikan dana bersih oleh investor reksa dana sebesar Rp 1,77 triliun sepanjang Mei 2026. Meski demikian, secara keseluruhan industri jasa keuangan nasional masih menunjukkan daya tahan yang kuat di tengah ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan global. (*) 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.