KabarBaik.co, Batu – Hiruk pikuk wisatawan masih terlihat memenuhi kawasan Pasar Kuliner Alun-alun Kota Batu. Lampu-lampu taman menyala terang, anak-anak bermain, dan pengunjung silih berganti datang menikmati suasana malam.
Namun di balik ramainya keramaian itu, para pedagang kecil justru tengah menghadapi kenyataan pahit, dagangan makin sulit menghasilkan keuntungan.
Kondisi tersebut dirasakan Djumari, pedagang cilok asal Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Sudah lebih dari sepuluh tahun ia menggantungkan hidup dengan berjualan di kawasan Alun-alun Kota Batu. Tetapi, baru dalam dua bulan terakhir ini ia merasakan penurunan pendapatan yang begitu drastis.
“Sebenarnya wisatawan ramai, tapi sekarang orang lebih banyak jalan-jalan saja. Yang beli makanan tidak sebanyak dulu,” ujar Djumari, Rabu (27/5) pagi.
Ia mengaku omzet dagangannya turun lebih dari 50 persen dibanding tahun sebelumnya. Bahkan saat momen libur malam Idul Adha yang biasanya menjadi harapan pedagang untuk meraup keuntungan besar, hasil yang didapat jauh dari harapan.
“Kalau tahun lalu malam Idul Adha bisa dapat lebih dari Rp 1 juta. Sekarang kurang dari Rp 500 ribu,” katanya pelan.
Meski kondisi semakin sulit, Djumari memilih tetap bertahan. Baginya, yang terpenting dagangan masih bisa berputar untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
“Sekarang yang penting bisa makan dan tetap jualan dulu saja sudah syukur,” ungkapnya.
Keluhan serupa juga dirasakan Riyono, pedagang cilok asal Lumajang yang berjualan tak jauh dari lokasi Djumari. Ia menuturkan, hasil penjualan saat ini nyaris tidak menyisakan keuntungan karena biaya modal terus meningkat.
“Kadang dagangan habis, tapi uangnya habis lagi buat belanja bahan. Jadi seperti cuma muter modal,” ujarnya.
Menurut Riyono, kenaikan harga bahan baku semakin memperberat beban pedagang kecil. Di sisi lain, mereka juga tidak bisa sembarangan menaikkan harga jual karena khawatir pembeli semakin berkurang.
“Kalau harga dinaikkan takut pembeli pergi. Tapi kalau tidak naik, keuntungan makin tipis,” tandasnya.
Di tengah ramainya wisata malam Kota Batu, para pedagang kecil kini hanya berharap kondisi ekonomi masyarakat segera membaik agar daya beli wisatawan kembali pulih dan roda usaha mereka bisa kembali bergerak normal.
Meski begitu, kedua pedagang tersebut diringankan dengan titik penjualan yang digratiskan oleh Pemkot Batu. Mereka hanya dikenakan biaya harian untuk sampah Rp 2 ribu dan listrik Rp 5 ribu. (*)







