KabarBaik.co, Jakarta – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar angkat bicara terkait peristiwa pembubaran kegiatan ibadah yang terjadi di Bantul, Yogyakarta, pada 24 Mei 2026 lalu. Dia menegaskan bahwa praktik seperti itu tidak boleh terulang kembali.
Hal tersebut Menag sampaikan saat menanggapi pertanyaan wartawan di depan Wihara Ekayana Arama, Jakarta Barat. “Itu merupakan tantangan yang harus kita hadapi dan lewati bersama. Harapannya kejadian serupa tidak terulang kembali di masa yang akan datang,” tegasnya dalam rilis resmi Kemenag, Minggu (31/5).
Menurut Menag, Kementerian Agama (Kemenag) terus berupaya memastikan setiap persoalan keagamaan dapat diselesaikan melalui langkah-langkah yang tepat dan cepat, sehingga tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
“Kementerian Agama berupaya agar setiap persoalan yang muncul dapat diselesaikan secara tepat dan cepat. Itulah semangat yang ingin kita bangun saat ini, yaitu tidak membiarkan persoalan tanpa penyelesaian,” ungkapnya.
Menag juga menegaskan bahwa tidak ada pihak yang menginginkan terjadi tindakan anarkisme dalam kehidupan bermasyarakat. “Terkait keributan dan tindakan yang mengarah pada anarkisme dalam peristiwa tersebut, tentu tidak ada pihak yang menyukai hal-hal seperti itu,” tegasnya.
Karena itu, Menag berharap seluruh elemen masyarakat dapat mengedepankan saling pengertian, dialog dan semangat persaudaraan dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebelumnya, peristiwa pembubaran ibadah yang terjadi di Gereja Misa Sejahtera (GMS) Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 24 Mei 2026 lalu, ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah unggahan menyebut adanya aksi pembubaran ibadah jemaat GMS Bantul oleh sekelompok massa. (*)








