KabarBaik.co, Surabaya — Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya mengingatkan seluruh jemaah haji asal Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem di Tanah Suci yang mencapai hingga 45 derajat celsius. Kondisi udara panas dan kering dinilai menjadi tantangan serius bagi kesehatan jemaah selama menjalankan rangkaian ibadah haji.
Ketua PPIH Embarkasi Surabaya, Mohammad As’adul Anam, mengatakan suhu di Kota Mekkah pada musim haji tahun ini diperkirakan tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 42 hingga 45 derajat celsius. Karena itu, jemaah diminta disiplin mengikuti seluruh arahan petugas demi menjaga kondisi tubuh tetap prima.
Menurutnya, cuaca panas di Arab Saudi dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan tanpa disadari karena tingginya proses penguapan. Kondisi tersebut membuat jemaah rentan mengalami dehidrasi dan kelelahan.
“Di Mekkah itu cuacanya tahun kemarin paling rendah 42 sampai 45 derajat. Kami berharap jemaah tetap mengikuti anjuran petugas, memakai masker, dan rutin minum air meski belum merasa haus karena cuaca di sana sangat kering,” ujar Anam, Jumat (15/5).
Ia menambahkan, jemaah juga harus menjaga pola makan dan tidak mengabaikan kebutuhan asupan tubuh, termasuk bagi mereka yang sedang kurang fit.
Menurutnya, suhu panas yang ekstrem dapat menguras energi lebih cepat selama menjalankan ibadah.
“Harapan kami jemaah mematuhi anjuran petugas. Makan dan minum harus tetap dijaga meskipun terkadang harus dipaksakan. Faktor cuaca ini cukup menyita energi,” katanya.
Di tengah pelaksanaan ibadah haji, PPIH Embarkasi Surabaya juga menyampaikan kabar duka. Hingga saat ini tercatat enam jemaah haji asal Embarkasi Surabaya wafat di Arab Saudi.
Mereka masing-masing Kamariyah Dul Tayib, 85, dari Kloter 8 Kabupaten Pasuruan, Abd Wachid, 71, dari Kloter 7 Kabupaten Pasuruan, Fajar Puja Sasmita, 53, dari Kloter 11 Kota Malang, Sibiatun Saji, 72, dari Kloter 33 Kabupaten Lamongan, Mustika Rajim Diman, 75, dari Kloter 47 Kabupaten Gresik, serta Suyono Reso, 58, dari Kloter 62 Kabupaten Jombang.
Selain itu, satu jemaah lainnya meninggal dunia di Embarkasi Surabaya, yakni Tini Atmin, 56, dari Kloter 43 Kabupaten Gresik. Jemaah tersebut wafat akibat sakit jantung saat menjalani perawatan di RSUD Haji Surabaya.
Atas peristiwa tersebut, Mohammad As’adul Anam menyampaikan belasungkawa mendalam kepada seluruh keluarga jemaah yang ditinggalkan.
“Kami menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya para jemaah haji. Semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” tuturnya.
Sementara itu, hingga Kamis (14/5), tercatat masih ada delapan calon jemaah haji yang mengalami penundaan keberangkatan di Asrama Haji Embarkasi Surabaya. Mereka terdiri atas lima jemaah sakit, satu pendamping, serta dua jemaah lain yang berkaitan dengan proses Mecca Route.
Pada hari yang sama, Embarkasi Surabaya juga menerima kedatangan jemaah dari kloter 87 hingga 91 yang berasal dari Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Situbondo, dan Kabupaten Jember.








