KabarBaik.co, Jombang – Suasana berbeda terasa di Desa Munungkerep, Kabuh, Jombang, saat gerhana bulan total terjadi pada Selasa (3/3) malam. Di tengah fenomena langit itu, warga berkumpul menjalankan tradisi turun-temurun dari leluhur mereka.
Anak-anak, orang dewasa, hingga lansia terlihat memadati halaman rumah dan sudut-sudut kampung. Mereka tidak sekadar menyaksikan gerhana, tetapi juga melakukan sejumlah ritual yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satu yang paling mencolok adalah tradisi menabuh lesung. Sejumlah perempuan lanjut usia memukul lesung kayu menggunakan alu dengan irama khas. Bunyi tabuhan terdengar bersahut-sahutan, memecah malam yang temaram.
Menurut warga, suara lesung menjadi penanda dimulainya gerhana, baik bulan maupun matahari. Tradisi itu dipercaya sebagai bentuk ikhtiar untuk menolak bala dan menjauhkan kampung dari musibah.
“Tradisi ini sudah ada sejak zaman nenek moyang. Kalau ada gerhana pasti lesung ditabuh, supaya kampung dijauhkan dari bala,” ujar Suprapti, salah satu penabuh lesung, Rabu (4/3).
Tak hanya itu, anak-anak juga menjalani ritual yang tak kalah unik. Mereka diminta bergelantungan di tiang bambu rumah selama gerhana berlangsung. Kepercayaan setempat menyebutkan, kebiasaan itu dapat membantu menambah tinggi badan anak.
Di sisi lain, para ibu hamil turut melakukan ritual khusus. Mereka membawa sapu lidi dan nasi putih lengkap dengan telur ayam rebus. Dengan duduk di teras rumah beralaskan sapu lidi, para ibu menyantap nasi liwetan sambil mengelus perut.
Ritual tersebut dipercaya dapat melindungi ibu dan janin dari gangguan serta memudahkan proses persalinan kelak.
“Saya ikut tradisi ini supaya bayi sehat dan persalinannya nanti dimudahkan,” kata Rika Rahmawati, salah satu ibu hamil.
Meski zaman terus berkembang, warga Desa Munungkerep tetap mempertahankan tradisi tersebut.
Bagi mereka, ritual saat gerhana bukan sekadar soal kepercayaan, tetapi juga wujud penghormatan kepada leluhur sekaligus sarana mempererat kebersamaan antar warga. (*)






