KabarBaik.co, Nganjuk – Ruas jalan di Dusun Ngrajek, Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom, berubah menjadi lautan syukur. Ratusan warga tumpah ruah mengiringi langkah kirab gunungan hasil bumi yang menjulang tinggi. Bukan sekadar rutinitas, Nyadran tahun ini menjadi simbol kebangkitan dan keberhasilan panen raya yang dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
“Kirab hasil bumi yang diarak menuju Punden Mbah Ageng dengan berjalan kaki ini menunjukkan bahwa warga masyarakat Ngrajek tahun ini sukses dengan hasil buminya dalam panen,” ujar Awan, salah satu panitia penyelenggara di sela-sela keriuhan acara, Jumat (15/5).
Langkah kaki warga yang serempak mencerminkan semangat kebersamaan yang lebih kuat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Di bawah arahan panitia, Nyadran kali ini memang dikonsep lebih meriah.
Puncaknya, suasana sakral di Punden Mbah Ageng pecah menjadi kegembiraan saat prosesi perebutan hasil bumi dimulai, disusul dengan gelaran Langen Bekso dan ritual Gembyangan Waranggono yang memikat perhatian.
“Nyadran tahun ini lain daripada sebelumnya. Semangat warga dari berbagai kalangan hampir semuanya hadir dan mengikuti kirab serta kenduri,” jelas Awan.
Di balik kemeriahan gunungan dan gemulai penari Tayub, terselip pesan mendalam tentang toleransi. Dusun Ngrajek membuktikan bahwa perbedaan latar belakang bukanlah sekat, melainkan warna yang memperindah tatanan sosial.

Tradisi sedekah bumi ini menjadi ruang tunggu bagi ego masing-masing untuk melebur dalam doa dan rasa syukur yang sama.
“Meskipun warga yang tinggal di kawasan tersebut memiliki latar belakang yang berbeda, namun mereka tetap hidup berdampingan dan saling menjaga ketentraman,” tuturnya menambahkan sisi humanis dari kerukunan warga setempat.
Bagi masyarakat Ngrajek, Nyadran bukan sekadar membuang sesaji atau menonton pertunjukan, melainkan cara mereka merawat warisan leluhur sekaligus mengikat tali persaudaraan.
Perayaan hari ini menjadi bukti nyata bahwa keberagaman, jika dirayakan dengan hati yang terbuka, akan melahirkan harmoni yang meneduhkan.
“Dengan adanya perbedaan tersebut, masyarakat menganggap dapat menyatukan keberagaman dan menciptakan kebersamaan. Hal itu begitu terasa saat gelaran sedekah bumi Nyadran yang berlangsung hari ini,” pungkas Awan. (*)






