Sedekah Bumi di Punden Mbah Ageng, Saat Alunan Tayub Satukan Warga Ngrajek Nganjuk

oleh -111 Dilihat
WhatsApp Image 2026 05 15 at 1.24.40 PM 1
Warga Dusun Ngrajek mengikuti kirab gunungan hasil bumi menuju Punden Mbah Ageng, dirangkai seni Langen Bekso dan Gembyangan (Ist)

KabarBaik.co, Nganjuk – Ruas jalan di Dusun Ngrajek, Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom, berubah menjadi lautan syukur. Ratusan warga tumpah ruah mengiringi langkah kirab gunungan hasil bumi yang menjulang tinggi. Bukan sekadar rutinitas, Nyadran tahun ini menjadi simbol kebangkitan dan keberhasilan panen raya yang dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

“Kirab hasil bumi yang diarak menuju Punden Mbah Ageng dengan berjalan kaki ini menunjukkan bahwa warga masyarakat Ngrajek tahun ini sukses dengan hasil buminya dalam panen,” ujar Awan, salah satu panitia penyelenggara di sela-sela keriuhan acara, Jumat (15/5).

Langkah kaki warga yang serempak mencerminkan semangat kebersamaan yang lebih kuat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Di bawah arahan panitia, Nyadran kali ini memang dikonsep lebih meriah.

Puncaknya, suasana sakral di Punden Mbah Ageng pecah menjadi kegembiraan saat prosesi perebutan hasil bumi dimulai, disusul dengan gelaran Langen Bekso dan ritual Gembyangan Waranggono yang memikat perhatian.

“Nyadran tahun ini lain daripada sebelumnya. Semangat warga dari berbagai kalangan hampir semuanya hadir dan mengikuti kirab serta kenduri,” jelas Awan.

Di balik kemeriahan gunungan dan gemulai penari Tayub, terselip pesan mendalam tentang toleransi. Dusun Ngrajek membuktikan bahwa perbedaan latar belakang bukanlah sekat, melainkan warna yang memperindah tatanan sosial.

WhatsApp Image 2026 05 15 at 1.24.40 PM
Warga berebut gunungan hasil bumi (Ist)

Tradisi sedekah bumi ini menjadi ruang tunggu bagi ego masing-masing untuk melebur dalam doa dan rasa syukur yang sama.

“Meskipun warga yang tinggal di kawasan tersebut memiliki latar belakang yang berbeda, namun mereka tetap hidup berdampingan dan saling menjaga ketentraman,” tuturnya menambahkan sisi humanis dari kerukunan warga setempat.

Bagi masyarakat Ngrajek, Nyadran bukan sekadar membuang sesaji atau menonton pertunjukan, melainkan cara mereka merawat warisan leluhur sekaligus mengikat tali persaudaraan.

Perayaan hari ini menjadi bukti nyata bahwa keberagaman, jika dirayakan dengan hati yang terbuka, akan melahirkan harmoni yang meneduhkan.

“Dengan adanya perbedaan tersebut, masyarakat menganggap dapat menyatukan keberagaman dan menciptakan kebersamaan. Hal itu begitu terasa saat gelaran sedekah bumi Nyadran yang berlangsung hari ini,” pungkas Awan. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Agus Karyono
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.