Tiga Generasi, Satu Perlindungan: Senyum Nenek hingga Cucu Bersama JKN  

oleh -91 Dilihat
Lik Astutik bersama anak dan cucunya saat memanfaatkan aplikasi Mobile JKN. (Foto: Andika DP)
Lik Astutik bersama anak dan cucunya saat memanfaatkan aplikasi Mobile JKN. (Foto: Andika DP)

Lintas generasi dalam satu perlindungan, Jaminan Kesehatan nasional (JKN). Manfaat nyata itulah yang dirasakan oleh keluarga kecil Lik Astutik di Dusun Kalanganyar, Desa Karangankidul, Kecamatan Benjeng, Gresik. Dari seorang nenek hingga cucunya, mereka dapat mengakses layanan kesehatan tanpa dibayangi kekhawatiran biaya.

Malam sudah larut. Jarum jam menunjuk pukul 21.00 WIB. Tapi, suasana sebuah rumah sederhana di Dusun Kalanganyar, milik Lik Astutik tidak benar-benar sepi. Suara batuk yang terdengar berat memecah kesunyian malam.

Perempuan berusia 50 tahun itu sesekali terbangun di atas kasur lusuhnya. Batuk yang kerap kambuh saat malam hari mengganggu waktu istirahat. Aktivitas ini seperti menjadi rutinitas selama beberapa tahun terakhir.

Tangannya yang mulai renta sesekali memegangi dada. Napasnya terdengar berat. Kamar berukuran 3×3 meter di rumah yang berdampingan dengan area persawahan itu menjadi saksi bisu batuk yang berat setiap waktu gelap datang.

Selain sakit batuk yang kerap kambuh, Lik bercerita, dirinya didiagnosa menderita hepatitis b kronis. Dan sudah sekitar tiga tahun terakhir menjalani pengobatan rutin. Setiap bulan, harus bolak-balik ke rumah sakit hingga ke RSU Dr. Soetomo Surabaya untuk kontrol atau sekadar mengambil obat.

Di tengah perjuangannya melawan penyakit kronis, sebagai petani dengan penghasilan tidak menentu, Lik Astutik yang terdaftar sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) itu mengaku bersyukur. Sebab, seluruh biaya pengobatan ditanggung melalui Program JKN BPJS Kesehatan. Pikiran dan hatinya pun lebih tenang.

“Kalau tidak ada JKN, saya tidak tahu harus bagaimana. Saya ini hanya petani,” tuturnya lirih, Rabu (22/7) belum lama ini. Betapa tidak, biaya pengobatan penyakit kronis bukanlah perkara ringan. Pemeriksaan rutin, kontrol berkala, hingga kemungkinan perawatan lanjutan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“Mungkin kalau berobat sendiri, saya tidak sanggup. Kan harus rutin berobatnya, pasti mahal. Alhamdulillah, bersyukur sekali ada bantuan dari pemerintah lewat BPJS Kesehatan. Semua biaya ditanggung, gratis,” katanya tersenyum.

Sembari memangku sang cucu, Lik bilang, selain biaya berobat yang gratis dia juga merasakan perubahan pelayanan BPJS Kesehatan yang semakin mudah diakses. Salah satunya, aplikasi Mobile JKN yang kini digunakan keluarganya untuk berbagai kebutuhan layanan kesehatan.

Layanan itu bisa diakses dengan handphon. Mulai dari mengecek status kepesertaan, melihat informasi fasilitas kesehatan, mengambil antrean secara daring, hingga berkonsultasi melalui layanan telehealth. Harapan sehat pun ada di genggaman tangan.

JKN Pahlawan Keluarga

“Saya juga merasakan manfaat nyata JKN,” sahut Desi Munawaroh, anak Lik Astutik yang duduk di sebelahnya. Bagi Desi, program JKN tidak hanya hadir saat ibunya membutuhkan pengobatan. Tapi pernah menyelamatkan nyawanya dan sang buah hati.

Momen itu terjadi pada 10 November 2024. Tatkala, Desi berjuang dan menanti kelahiran anak pertama. Peristiwa yang masih teringat jelas dalam benaknya hingga saat ini, dan bahkan selama hidupnya nanti.

Perempuan kelahiran tahun 2001 itu pun mengenang masa-masa melahirkan. Saat itu, kata Desi, proses persalinan berlangsung lebih lama dari perkiraan. Setelah lebih dari 12 jam sejak dini hari menahan kontraksi, bayi yang dikandungnya belum juga lahir.

Kondisi semakin mengkhawatirkan ketika ketuban pecah dan dokter memutuskan bahwa operasi sesar harus segera dilakukan. Di tengah rasa sakit dan kecemasan, satu hal lain terus menghantui pikirannya: biaya rumah sakit.

“Jujur saja, saya takut sekali waktu itu. Yang saya pikirkan bagaimana biaya operasi dan perawatannya. Saya sempat bertanya ke suami, apa tabungan cukup?. Pokoknya kondisi waktu itu antara menahan sakit dan kepikiran biaya,” kenangnya.

Waktu terus berjalan. Operasi sesar harus segera dilakukan. Di tengah kekalutan suasana, program JKN hadir menjadi penyelamat yang menyapu kekhawatiran pada diri Desi dan keluarganya. Karena, dia ternyata juga terdaftar sebagai peserta JKN segmen PBI, sama seperti ibunya.

Dan momen yang dinantikan pun tiba. Sekitar pukul 19.37 WIB, pada 10 November 2024, tepat bertepatan dengan Hari Pahlawan, putra pertamanya lahir dengan selamat di RS Wates Husada. Dan langsung bisa didaftarkan menjadi peserta JKN segmen PBI seperti keluarganya.

Tidak berhenti di situ, sang bayi juga harus mendapat perawatan lebih lanjut dan dirujuk ke NICU RS Siti Khadijah, Sidoarjo. Dan lagi-lagi, seluruh proses pelayanan tetap ditanggung BPJS Kesehatan tanpa biaya tambahan.

“Alhamdulillah semuanya gratis. Dari operasi sampai rujukan, tidak keluar uang sepeser pun,” ujar Desi dengan mata berbinar. Sederet pengalaman keluarganya itu menguatkan kesadaran betapa penting jaminan kesehatan bagi masyarakat. Apalagi bagi mereka yang ekonominya pas-pasan.

Kelahiran anak sulungnya yang diberi nama Dareen Elgiri R. Adhitama di tanggal 10 November dan dibantu progam JKN BPJS Kesehatan memberikan kesan tersendiri. “Anak saya kebetulan lahir tepat Hari Pahlawan. Bagi saya, JKN pantas juga disebut sebagai pahlawan keluarga saya,” tutupnya semringah.

Di sisi lain, hingga kini Desi juga masih memanfaatkan layanan JKN untuk pengobatan mata. Setiap bulan dia menjalani pemeriksaan secara gratis. Mulai dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) hingga Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL).

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Gresik Janoe Tegoeh Prasetijo saat menjenguk pasien JKN di rumah sakit. (Foto: Ist)
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Gresik Janoe Tegoeh Prasetijo saat menjenguk pasien JKN di rumah sakit. (Foto: Ist)

Terlindungi JKN Sejak Lahir

Kisah bayi Desi Munawaroh yang lahir dan langsung bisa didaftarkan menjadi peserta JKN menjadi angin segar bagi masyarakat. Kepala BPJS Kesehatan Cabang Gresik Janoe Tegoeh Prasetijo mengatakan bahwa saat ini kebijakan mengenai pendaftaran bayi baru lahir menjadi peserta program JKN masih mengacu pada regulasi yang berlaku.

“Secara aturan, bayi tersebut harus didaftarkan dulu oleh keluarganya ke BPJS Kesehatan. Aturan tersebut sudah lama berlaku. Sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 Pasal 16, bayi baru lahir wajib didaftarkan menjadi peserta Program JKN paling lama 28 hari sejak kelahirannya. Bayi yang didaftarkan pada periode waktu tersebut, status kepesertaan JKN-nya akan langsung aktif,” jelas Janoe, dalam keterangan tertulisnya.

Pendaftaran bayi baru lahir pun cukup mudah. Bisa dilakukan melalui chat WhatsApp PANDAWA di nomor 08118165165 dengan menyertakan foto KTP ibu, foto Kartu Keluarga, dan foto Surat Keterangan Lahir bayi tersebut. Apabila bayi baru lahir tersebut didaftarkan lewat dari 28 hari sejak kelahirannya, maka iuran JKN-nya akan ditagihkan terhitung sejak kelahiran bayi.

Warga Gresik Terlindungi UHC

Data kepesertaan JKN di Kabupaten Gresik seolah menjadi penegas bahwa perlindungan kesehatan kini bukan lagi sekadar cita-cita. Hingga awal Juli 2026, cakupan Universal Health Coverage (UHC) di kota industri ini telah mencapai 99,87 persen.

Tercatat, peserta JKN di Gresik didominasi oleh segmen PBI APBN sebanyak 592.546 jiwa. Kemudian disusul PPU sebanyak 381.615 jiwa, lalu PBI APBD sebanyak 232.977 jiwa, PBPU sebanyak 113.309 jiwa. Dan terakhir segmen BP sebanyak 21.211 jiwa.

Wabup Gresik Asluchul Alif (tengah) bersama Kepala BPJS Kesehatan Gresik Janoe Tegoeh Prasetijo (dua dari kanan) usai menerima penghargaan madya UHC Awards 2026. (Foto: Ist)
Wabup Gresik Asluchul Alif (tengah) bersama Kepala BPJS Kesehatan Gresik Janoe Tegoeh Prasetijo (dua dari kanan) usai menerima penghargaan kategori madya UHC Awards 2026. (Foto: Ist)

Artinya, hampir seluruh penduduk Kabupaten Gresik telah terdaftar sebagai peserta JKN. Hanya menyisakan sekitar 1.807 jiwa yang belum terlindungi dari total lebih dari 1,34 juta penduduk. Capaian ini mengantarkan Pemkab Gresik mendapat penghargaan Kategori Madya UHC Awards 2026.

Namun yang lebih penting, angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada jutaan warga yang kini memiliki kepastian akses terhadap layanan kesehatan tanpa harus dibayangi kekhawatiran biaya pengobatan. Mulai dari pekerja formal, aparatur sipil negara, pelaku usaha, hingga masyarakat kurang mampu. Seluruhnya menjadi bagian dari sistem perlindungan kesehatan yang sama.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Andika DP
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.