KabarBaik.co, Malang – Universitas Brawijaya (UB) bergerak cepat mendata mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa bumi. Verifikasi dilakukan untuk mengetahui kondisi mahasiswa dan keluarganya sekaligus memetakan kebutuhan pascabencana.
Pendataan tersebut berlangsung di Selasar Gedung Rektorat UB, Jumat (21/8) kemarin. Berdasarkan data Direktorat Teknologi Informasi UB, terdapat sekitar 200 mahasiswa yang berasal dari NTT.
Saat ditemui, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan UB, Setiawan Noerdajasakti, mengatakan dari proses pendataan awal telah terverifikasi 33 mahasiswa. Sebanyak 31 mahasiswa mengikuti verifikasi secara langsung, sementara dua lainnya mengikuti secara daring.
Menurut Setiawan, data hasil verifikasi akan menjadi dasar bagi universitas dalam menentukan bentuk bantuan yang diberikan kepada mahasiswa terdampak.
Bantuan tersebut nantinya dapat berupa biaya hidup maupun dukungan lainnya. Namun, bentuk bantuan masih dalam pembahasan dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing mahasiswa.
“Kalau misalnya kita mempertemukan mereka dengan perusahaan pemberi CSR, mereka langsung ketemu, kemudian langsung memberikan bantuan,” ujar Setiawan, Senin (24/8).
Bahkan, ia menyebut jika UB juga membuka ruang bagi perusahaan, pemberi Corporate Social Responsibility (CSR), maupun komunitas alumni untuk ikut membantu mahasiswa terdampak. Skema tersebut memungkinkan pihak eksternal memberikan bantuan secara langsung kepada mahasiswa yang membutuhkan.
Setiawan menambahkan kondisi gempa yang terjadi setelah pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) menjadi salah satu pertimbangan rektorat dalam menentukan kebijakan. Termasuk kemungkinan adanya bentuk keringanan bagi mahasiswa yang benar-benar terdampak.
Sementara itu, keterlibatan organisasi mahasiswa turut dilakukan dalam proses verifikasi. Wakil Presiden Eksekutif Mahasiswa (EM) UB 2026, Kafitan Aidil, mengatakan mahasiswa memiliki informasi yang lebih dekat mengenai kondisi teman-temannya di daerah terdampak.
“Pendataan ini penting untuk memastikan kondisi teman-teman mahasiswa yang terdampak, baik dari sisi keluarga, tempat tinggal, maupun kebutuhan mereka setelah bencana. Kami ingin memastikan mahasiswa yang terdampak tidak terlewat dalam proses pendataan,” terang Kafitan.
EM UB, lanjut dia, akan terus berkoordinasi dengan pihak universitas untuk memastikan hasil verifikasi segera ditindaklanjuti.
Lebih dari itu, Dirjen Kesejahteraan Mahasiswa EM UB 2026, Dimas Satya Saputra, menjelaskan terdapat tiga aspek utama yang menjadi perhatian dalam proses pendataan, yakni kondisi finansial, psikologis, dan tempat tinggal mahasiswa setelah bencana.
“Yang diverifikasi ada tiga aspek, mulai dari finansial, psikologis, hingga tempat tinggal pascabencana,” ujarnya.
Dampak gempa juga dirasakan langsung oleh keluarga mahasiswa. Fakhirah Na’ilah Ilham, mahasiswa Fakultas Kedokteran UB asal NTT, mengungkapkan rumah keluarganya mengalami kerusakan akibat gempa. Saat ini keluarganya terpaksa tinggal di tenda.
Kondisi tersebut membuat Fakhirah berharap adanya kebijakan keringanan UKT. Ia menyebut UKT yang harus dibayarkan saat ini mencapai Rp12 juta.
“Saya harap ke depan mungkin ada keringanan UKT. Kebetulan UKT saya Rp12 juta. Mungkin bisa ada keringanan di bawah Rp7 juta,” tuturnya.
Selain persoalan finansial dan tempat tinggal, aktivitas perkuliahan mahasiswa terdampak juga menjadi perhatian. Setiawan menjelaskan, kebijakan akademik terkait mahasiswa yang mengalami kendala mengikuti perkuliahan berada di bawah kewenangan fakultas masing-masing.
“Kalau itu teknis-teknis begitu, masalah kuliah yang menangani fakultas,” ungkapnya.
Mahasiswa yang masih berada di wilayah terdampak dan mengalami kesulitan mengikuti kegiatan akademik dapat berkoordinasi dengan fakultas untuk mendapatkan penanganan sesuai kondisi dan ketentuan yang berlaku.
Dalam proses verifikasi, UB juga memastikan kebenaran asal atau lokasi mahasiswa, kondisi keluarga yang terdampak, dampak tidak langsung yang dialami mahasiswa, serta kebutuhan mendesak yang harus segera ditangani.
Data tersebut selanjutnya diharapkan menjadi dasar bagi UB dalam menentukan langkah penanganan. Tidak hanya melalui universitas, dukungan juga dapat melibatkan fakultas, organisasi mahasiswa, alumni hingga pihak eksternal.
UB memastikan pendataan tersebut tidak sekadar menjadi pencatatan administratif, tetapi menjadi langkah awal untuk memberikan dukungan yang sesuai dengan kondisi mahasiswa asal NTT yang terdampak gempa. (*)








