KabarBaik.co – Wali Kota Mataram Mohon Roliskana menekankan bahwa kerukunan umat beragama tidak cukup dimaknai sebatas ketiadaan konflik atau rutinitas seremonial semata. Lebih dari itu, kerukunan harus diwujudkan dalam bentuk sinergi produktif yang melahirkan kekuatan kolaboratif demi kemajuan bersama.
Penegasan itu disampaikan Mohan yang bertindak sebagai Inspektur Upacara dan membacakan amanat tertulis Menteri Agama RI pada Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia di Lapangan Sangkareang Mataram, Sabtu (3/1) kemarin.
Peringatan HAB ke-80 Kemenag RI di Mataram menjadi peneguhan peran Kementerian Agama sebagai perekat kerukunan, penggerak sinergi, dan pelopor peradaban Indonesia yang damai, maju, dan berdaya saing di era digital.
HAB juga dimaknai sebagai momentum menghadirkan layanan publik yang bersih, cepat, dan adil bagi seluruh golongan, sekaligus memperkuat persatuan di tengah masyarakat majemuk. Peringatan HAB ke-80 tahun ini mengusung tagline “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”.
“Perbedaan identitas, keyakinan, dan latar belakang sosial harus dirajut menjadi kekuatan bersama. Republik ini dibangun di atas fondasi kemajemukan, dan Kementerian Agama hadir untuk memastikan perbedaan itu menjadi energi untuk memajukan bangsa,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Agama juga memaparkan capaian pengabdian sepanjang tahun 2025 melalui gerakan “Kemenag Berdampak” sebagai bentuk ikhtiar agar kehadiran negara benar-benar dirasakan hingga ke seluruh lapisan masyarakat.
Capaian strategis tersebut meliputi transformasi digital inklusif yang menghadirkan layanan keagamaan yang transparan, cepat, dan mudah diakses; penguatan kemandirian ekonomi umat melalui optimalisasi dana sosial keagamaan; revolusi pendidikan keagamaan dengan peningkatan mutu madrasah dan perguruan tinggi keagamaan agar sejajar dengan standar nasional; serta penguatan harmoni di tingkat akar rumput melalui Program Desa Sadar Kerukunan yang mendorong moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari.
Ke depan, Kementerian Agama juga menegaskan komitmennya untuk berdaulat di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Di tengah tantangan dunia yang dinamis dan penuh ketidakpastian, ASN Kemenag dituntut tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga penjaga nilai.
“Kita tidak boleh sekadar menjadi penonton. ASN Kementerian Agama harus mampu mewarnai substansi AI dengan konten keagamaan yang otoritatif, moderat, dan mencerahkan,” ujar Mohan mengutip amanat Menteri Agama RI.(*)






