KabarBaik.co, Sidoarjo – Angin siang berembus pelan di atas tanggul Lumpur Lapindo, Sidoarjo. Dari ketinggian itu, Sulisno memandang hamparan lumpur yang membentang seperti tanpa ujung. Sesekali ia menunjuk ke satu arah, lalu ke arah lain. Di sana, katanya, dulu berdiri rumah-rumah warga.
Tak jauh dari situ ada jalan kampung. Sedikit ke selatan terdapat sawah yang dahulu menghijau setiap musim tanam. Kini semuanya telah hilang, tertutup lumpur yang tak pernah benar-benar berhenti mengingatkan warga pada peristiwa pada 29 mei 2006 Silam yang saat ini sudah lebih dari 20 tahun lumpur Lapindo.
Bagi para wisatawan, kawasan Lumpur Lapindo adalah lokasi yang menarik untuk dikunjungi. Mereka datang untuk melihat langsung jejak bencana yang pernah menjadi perhatian dunia. Namun bagi Sulisno, tempat itu bukan objek wisata. Di bawah hamparan lumpur itulah kampung halamannya, Desa Jatirejo, terkubur bersama ribuan cerita yang tak sempat diselamatkan.
Sebagai warga asli Jatirejo, Kecamatan Porong, Sulisno masih mengingat suasana desa sebelum semburan lumpur muncul. Ia bercerita bahwa jauh sebelumnya, kawasan itu mulai ramai didatangi orang-orang asing.
Mereka keluar masuk area perkebunan dan lahan milik warga. Kabar yang beredar saat itu menyebutkan adanya pencarian sumber minyak di wilayah tersebut.
Ingatan yang paling membekas justru datang dari sebuah peristiwa sederhana ketika hujan turun. Saat itu Sulisno melihat sesuatu yang menurutnya tidak biasa terjadi di belakang rumahnya.
“Waktu hujan, air yang jatuh di belakang rumah saya itu aneh, air hujannya campur dengan minyak, di permukaan tanah” ungkapnya pada KabarBaik.co, Sabtu (30/5).
Peristiwa itu memang tidak langsung dipahami sebagai pertanda. Namun seiring waktu, Sulisno merasa ada sesuatu yang sedang berubah di bawah tanah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.
Di Jatirejo saat itu tinggal seorang ulama KH Anas Al-Ayubi, seorang ulama yang dihormati warga yang saat ini tinggal makamnya yang berdiri di atas hamparan lumpur. Rumah dan pondok pesantrennya berada tidak jauh dari kediaman Sulisno.
Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat, sang kiai termasuk sosok yang tidak setuju jika kawasan tersebut digunakan untuk aktivitas pengeboran.
“Sama Pak Kiai, tidak boleh ada pembebasan lahan di kampung kami. Sepertinya beliau ngerti kalau ada pengeboran di desanya, akan ada bencana,” tutur Sulisno.
Ketika pengeboran akhirnya dilakukan di wilayah Renokenongo, warga Jatirejo mengira kampung mereka akan aman. Namun harapan itu tidak bertahan lama. Sulisno mengaku pernah mendengar penjelasan dari sejumlah orang teknis bahwa arah pengeboran diduga bergerak miring hingga masuk ke bawah wilayah Jatirejo.
“Ngebornya di Ronokenongo, tapi miring masuk ke bawah desa Jatirejo. Katakanlah seperti mencuri di dalam,” ujarnya.
Apa yang terjadi setelah itu kini menjadi bagian dari sejarah. Lumpur panas menyembur dan terus meluas. Rumah-rumah, sekolah, tempat ibadah, jalan desa, hingga lahan pertanian perlahan hilang dari permukaan. Jatirejo yang dulu hidup dengan segala aktivitas warganya berubah menjadi nama yang hanya tersisa dalam peta kenangan.
Dua puluh tahun berlalu, Sulisno memilih tetap berada di sekitar kawasan tersebut. Ia kini bekerja sebagai pemandu wisata Lumpur Lapindo. Hampir setiap hari ia mengantar pengunjung menyusuri tanggul, menunjukkan titik-titik yang dahulu menjadi bagian penting dari kehidupannya.
Di tengah lautan lumpur yang menenggelamkan begitu banyak bangunan, terdapat satu tempat yang masih berdiri, yakni kompleks Makam KH Anas Al-Ayubi. Tempat itu menjadi tujuan peziarah sekaligus simbol yang tak pernah lepas dari cerita warga Jatirejo.
Bagi Sulisno, makam tersebut bukan sekadar lokasi ziarah. Di sanalah tersimpan pengingat tentang kampung yang hilang dan orang-orang yang pernah hidup di dalamnya. Setiap kali berdiri di atas tanggul dan memandang hamparan lumpur, ia seolah kembali melihat Jatirejo yang dahulu ramai. Sebuah desa yang kini memang telah tenggelam, tetapi belum pernah benar-benar hilang dari ingatan mereka yang pernah menyebutnya rumah.(*)







