KabarBaik.co- Publik digegerkan dengan penemuan 7 mayat remaja mengambang di Kali Bekasi, Minggu (22/9). Kuat dugaan mayat-mayat itu terkait aksi tawuran antarkelompok di wilayah setempat. Namun, polisi masih melakukan penyelidikan. Termasuk mengungkap identitas mereka.
Informasi yang dihimpun KabarBaik.co dari berbagai sumber, Polres Metro Bekasi Kota telah mengamankan 22 orang terkait kasus penemuan 7 jenazah tersebut. Dari jumlah itu, bbeberapa di antaranya telah ditetapkan sebagai tersangka atas kepemilikan senjata tajam. Selain itu, polisi juga mengamakan 30 motor.
Meski demikian, sejauh ini beragam senjata tajam itu bukan digunakan untuk membunuh 7 jenazah yang ditemukan di Kali Bekasi. Namun, diduga akan digunakan oleh kelompok tersebut untuk tawuran.
Kejadian itu makin menguatkan bahwa fenomena tawuran antarkelompok di Indonesia makin mengerikan dan meresahkan. Betapa tidak, bukan hanya di wilayah hukum Bekasi, melainkan kerap mengemuka di banyak lokasi. Tidak terkecuali di Jatim. Karena itu, sangat dibutuhkan atensi serius dan sungguh-sungguh dari semua elemen masyarakat.
Psikolog klinis anak dan remaja dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (UI) Vera Itabiliana Hadiwidjojo mengemukakan bahwa tawuran remaja semakin menjadi fenomena rutin dengan alasan relatif sama sejak dulu hingga sekarang.”Semakin menjadi fenomena rutin dengan keparahan yang semakin mengerikan,” katanya seperti dilansir Antara (18/2/2024)
Menurut Vera, ada dua faktor yang menjadi alasan para remaja melakukan tawuran, yakni internal dan eksternal.Faktor internal, yaitu fungsi otak yang belum optimal dari remaja membuat mereka kurang dapat memikirkan konsekuensi jangka panjang. Mereka juga masih didominasi emosi dalam berperilaku atau mengambil keputusan.
“Remaja ingin merasa menjadi bagian dari satu kelompok dan jika merasa diterima oleh kelompok tersebut maka remaja akan cenderung mengikuti nilai (value) dari kelompok tersebut termasuk jika nilainya mengandung kekerasan,” katanya
Sementara dari faktor eksternal, Vera berpendapat adanya tradisi tawuran di sekolah dan lingkungan. Sekolah dekat dengan lingkungan yang berisiko kekerasan seperti pasar, terminal, tongkrongan geng, menjadi alasan para remaja melakukan tawuran.Alasan eksternal lainnya termasuk tidak ada pengamanan atau pencegahan di lingkungan dan tidak ada wadah yang dapat menyalurkan energi mereka.
Berbicara fenomena tawuran remaja masa kini, Vera menyoroti adanya peran media sosial yang dapat mengakomodir kebutuhan mereka salah satunya menjadi perhatian banyak orang.”Media sosial menjadi alat yang dapat mengakomodir kebutuhan remaja yang cenderung suka terhadap sensasi, ingin dianggap berani, rebel serta keren dan menjadi perhatian orang banyak,” ujarnya. (*)






