Kasus Dugaan Keracunan MBG Terus Berulang, Kini 133 Pelajar-Santri di Garut Jadi Korban

oleh -66 Dilihat
BUPATI GARUT
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, meninjau kondisi para korban pasca-insiden dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Puskesmas Cibatu, Kabupaten Garut, Kamis (23/7/2026). (Foto Dok Pemkab Garut)

KabarBaik.co, Garut- Evaluasi dan evaluasi terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), ternyata belum sepenuhnya menghentikan dugaan kasus keracunan. Terbaru, puluhan hingga ratusan santri dan pelajar di Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengalami gejala sakit setelah mengonsumsi makanan dari program tersebut.

Peristiwa itupun kembali memunculkan pertanyaan tentang klaim evaluasi dan efektivitas pengawasan keamanan pangan dalam program MBG yang sebelumnya juga diterpa kasus serupa di sejumlah daerah dengan korban sudah mencapai puluhan ribu anak.

Kasus Garut menjadi rentetan terbaru setelah dugaan keracunan MBG sebelumnya mencuat di sejumlah wilayah. Di antaranya Jember, Pasuruan, dan Kulon Progo. Padahal, pemerintah sebelumnya menyebut telah melakukan berbagai evaluasi dan pengetatan prosedur, pascaterbongkarnya skandal megakorupsi yang menyeret para pucuk pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN).

Masa libur sekolah pun menjadi momentum evaluasi itu untuk memastikan pelaksanaan MBG berjalan aman bagi para penerima manfaat. Ternyata, kasus masih berulang dan entah sampai kapan.

Di Garut, jumlah korban yang mengalami gejala keracunan terus bertambah. Data sementara mencatat sebanyak 133 santri dan pelajar mengalami keluhan seperti sakit perut, pusing, mual, muntah, hingga diare. Mereka berasal dari sejumlah lembaga pendidikan di Kecamatan Cibatu, dengan distribusi makanan yang diduga berasal dari dapur penyedia atau dapur MBG yang sama. .

Camat Cibatu Budi Darmawan kepada awak media menyebut data tersebut diperoleh dari Kepala Puskesmas Cibatu. Tidak seluruh korban mendapatkan perawatan di lokasi yang sama karena kapasitas fasilitas kesehatan terbatas. Sebagian pasien kemudian ditangani di klinik maupun puskesmas lain di sekitar Kecamatan Cibatu.

Kasus ini bermula dari laporan santri Pondok Pesantren Al Mansuriah yang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi paket MBG. Gejala serupa kemudian ditemukan pada pelajar di sejumlah sekolah di wilayah Cibatu, terutama di Desa Mekarsari dan Desa Sindangsuka.

Meski demikian, pemerintah belum memastikan MBG sebagai penyebab utama kejadian tersebut. Sampel makanan masih menjalani pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti munculnya gejala pada para korban.

Menanggapi kejadian itu, Bupati Garut Abdusy Syakur Amin turun langsung meninjau kondisi korban yang menjalani perawatan di Puskesmas Cibatu, Kamis (23/7). Ia memastikan Pemerintah Kabupaten Garut bergerak cepat memberikan pelayanan kesehatan hingga seluruh pasien pulih.

“Ini adalah musibah yang terjadi, kemudian kami menyikapi dengan cara memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat supaya mereka segera pulih kembali,” ujar Abdusy Syakur dilansir dari laman resmi Pemkab Garut

Pemkab Garut juga menghentikan sementara operasional dapur penyedia MBG di SPPG  bersangkutan untuk mendukung pemeriksaan dan evaluasi menyeluruh oleh BGN. Evaluasi tersebut mencakup pemeriksaan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), perizinan operasional, hingga proses pengolahan dan distribusi makanan.

Bupati Garut mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Koordinator Wilayah BGN agar pengawasan terhadap pelaksanaan MBG diperketat sehingga kejadian serupa tidak kembali terjadi.

“Harapannya segera sembuh kembali dan BGN khususnya tadi pagi evaluasi terkait dengan SLHS, perizinan dan lain-lain. Kita juga sudah meminta agar ada perhatian lebih supaya tidak terjadi lagi,” katanya.

Selain memastikan layanan kesehatan, Pemkab Garut bersama Bank BJB dan Baznas menyalurkan bantuan awal sebesar Rp 250.000 kepada setiap korban. Bantuan lanjutan berupa paket sembako juga disiapkan untuk diberikan kepada korban dan keluarga setelah mereka diperbolehkan pulang.

Kasus Garut kini menjadi ujian lain terbaru pelaksanaan program MBG. Rentetan dugaan keracunan di beberapa daerah menunjukkan bahwa aspek pengawasan kualitas makanan, standar kebersihan dapur, serta rantai distribusi masih menjadi tantangan besar yang harus segera dibenahi sebelum nyawa anak-anak atau bahkan ibu hami terenggut. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.