Dari Kepergian Aktor Donny Kesuma, Waspadai Risiko Serangan dan Penyakit Jantung

Editor: Hardy
oleh -1002 Dilihat
Donny Kesuma (Foto IG)

KabarBaik.co- Panggung hiburan nasional kembali kehilangan insannya. Selasa (19/3) malam, Donny Kesuma telah berpulang. Aktor dan atlet softball itu meninggal dunia saat menjalani perawatan di RS St Carolus, Jakarta. Donny mengembuskan nafas terakhirnya di usia 55 tahun. Sebelumnya, Donny dirawat karena ada riwayat jantung lemah.

Kabar duka itu kali pertama dari unggahan aktor Fery Maryadi melalui unggahan di akun Instagramnya. “Pileuleuyan KangDon,” tulis Fery dengan menyertakan foto Donny. Dia juga menyampaikan kalimat doa. “Semoga husnul khotimah KangDon, pileuleuyan.”

Ucapan belasungkawa pun mengalir dari sejumlah kalangan. Baik artis maupun politisi Indonesia. ‘’Selamat jalan Doni Kusuma,’’ cuit Andi Arief, politikus Partai Demokrat di akun X (Twitter), Selasa (19/3) malam.

Sebelumnya, 6 hari lalu, Donny melalui akun IG sempat memberikan kabar kondisinya membaik dan bisa pulang dari RS. “Terima kasih para suster yang telah membantu saya tanpa henti. Semoga Tuhan selalu memberkati para suster dengan berkah yang tiada hentinya,” tulisnya dengan menunjukkan foto bersama para suster di RS St. Carolus, Jakarta.

Donny juga mengucapkan terima kasih kepada dokter jantung di rumah sakit tersebut. “Juga Dr Hendra Kuncoro dan Dr Ike, spesialis jantung. Semoga Tuhan selalu memberkahi kalian,” tulisnya dengan menggunakan bahasa Inggris.

Aktor asal Bandung itu lebih dulu terjun ke gelanggang olahraga. Ia menjadi atlet softball. Bergabung tim junior softball DKI Jakarta hingga masuk ke tim senior. Pria kelahiran Juni 1968 itu pernah turut mengharumkan nama Indonesia di bidang olahraga dengan meraih medali emas di ajang SEA Games 1997.

Kesuksesannya itupun menjadi jalan cerah untuk menekuni panggung hiburan. Mengawali karir sebagai model dan bintang iklan. Sejumlah sinetron dibintanginya. Beberapa di antaranya Bidadari yang Terluka, Bulan Bukan Perawan, Hari Berganti Hari, Ksatria Banjaran, Jelita & Juwita, Habibi dan Habibah, dan judul lainnya.

Donny juga pernah tertarik masuk dunia politik. Dia menjadi caleg DPR RI dari Partai Berkarya di Pemilu 2019. Namun, parpol itu tidak lolos ambang batas untuk bisa ke Senayan. Pada 1999, Donny menikahi Yuni Indriyati. Dari pernikahannya dikaruniai tiga orang anak. Namun, biduk rumah tangganya pecah. Keduanya bercerai pada 2017.

Kasus Kesehatan Jantung

Sebelumnya, kesehatan jantung juga sempat menjadi bahan perbincangan global ketika pemain Timnas Sepakbola Denmark Christian Eriksen, kolaps akibat cardiac arrest atau henti jantung dalam pertandingan Denmark vs Finlandia di Stadion Parken, Copenhagen, Denmark, pada 2021 silam.

Tidak berselang lama, masyarakat Indonesia juga dikejutkan dengan kabar duka meninggalnya Markis Kido, mantan pebulutangkis nasional. Markis juga meninggal karena serangan jantung. Website resmi Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) turut mengulas dua kejadian tersebut.

Dokter spesialis jantung Rumah Sakit UNS Surakarta dr Habibie Arifianto SpJP (K) MKes dalam pernyataannya mengingatkan bahwa ancaman kesehatan terhadap jantung sangat beragam dan berisiko dialami oleh sejumlah orang yang memiliki riwayat penyakit jantung.

Pada kasus kolapsnya Christian Eriksen, Habibie menyebut penyebabnya adalah penebalan otot jantung yang tidak normal atau yang dalam istilah medis disebut sebagai kardiomiopati hipertrofi. Bukan merupakan serangan jantung.

“Kardiomiopati hipertrofi diakibatkan adanya jaringan ikat pada otot jantung, hal ini berakibat otot jantung menjadi sangat tebal dan berisiko mengalami gangguan irama pada saat aktivitas yang berlebihan, dalam hal ini olahraga, hingga mampu memicu henti jantung mendadak,” jelas Habibie dilansir dari website UNS, Selasa (15/6/2021).

Cardiac arrest yang dialami Eriksen biasa terjadi sejak usia remaja hingga tua. Dia mengingatkan, kelainan bawaan seperti kardiomiopati hipertrofi yang dapat mengakibatkan cardiac arrest, bisa terjadi sejak usia anak-anak. “Semakin bertambah usia akan semakin menebal hingga berisiko henti jantung mendadak saat usia remaja,” ucapnya. Pada kasus lain, lanjut dia, cardiac arrest juga dapat disebabkan oleh aritmia atau gangguan irama pada jantung.

Nah, pada kasus meninggalnya Markis Kido, Habibie menyampaikan terjadi serangan jantung disebabkan karena penyakit jantung koroner. Penyebabnya aliran darah terhenti di pembuluh darah koroner secara tiba-tiba sehingga otot jantung tidak mendapatkan pasokan oksigen.

“Risiko serangan jantung bagi atlet sama dengan risiko serangan jantung atau henti jantung mendadak pada populasi umum. Apalagi bagi yang sudah ada faktor risiko penyakit jantung koroner atau risiko keluarga dengan henti jantung mendadak,” ujarnya.

Beda Serangan Jantung dan Penyakit Jantung

Habibie mengatakan ancaman kesehatan terhadap jantung punya cakupan yang luas. Jika dilihat dari cakupan penyakit jantung, dapat ditemukan kasus penyakit jantung koroner, penyakit jantung katup, penyakit gagal jantung, sampai gangguan irama.

Adapun serangan jantung adalah episode kurangnya oksigen dalam otot jantung yang diakibatkan karena tersumbatnya pembuluh darah koroner secara tiba-tiba. Dalam hal ini, pasien akan merasakan nyeri dada hebat, ampeg, dan panas yang mendadak.

“Terminologi henti jantung mendadak, yaitu keadaan jantung secara tiba-tiba berhenti melakukan fungsi pompa sehingga darah tidak dapat tersirkulasi. Henti jantung mendadak inilah yang sering menyebabkan kematian mendadak,” ujarnya.

Habibie membeberkan sejumlah cara pencegahan cardiac arrest dan penanganan pertama pada orang yang mengalami serangan jantung. Untuk cardiac arrest, pertama yang harus ditelusuri adalah riwayat keluarga yang meninggal mendadak di usia muda.

Dengan begitu, jika terjadi kasus demikian maka cara pencegahannya adalah dengan melakukan medical check up ke dokter jantung. Tujuannya, untuk dinilai apakah orang bersangkutan memiliki risiko tinggi terjadinya cardiac arrest mendadak di masa depan atau tidak.

Cara penanganan pertama pada orang yang mengalami serangan jantung, yang dapat dilakukan adalah segera mencari pertolongan. Habibie mengatakan penolong juga dapat mengecek kesadaran orang yang terkena serangan jantung dengan meraba nadi di pergelangan tangan atau leher.

“Apabila tidak didapatkan nadi, bisa memulai resusitasi jantung paru atau pijat jantung luar dan bantuan napas, sembari penolong lain bisa menghubungi ambulans untuk dapat segera membawa korban ke rumah sakit,” ujar Habibie.

Selain itu, jika penolong ingin memposisikan orang yang terkena serangan jantung, posisi yang benar adalah telentang dengan alas yang keras. Posisi ini memungkinkan dilakukannya pijat jantung luar.

Jika orang yang terkena serangan jantung dalam posisi duduk, ia mengkhawatirkan pompa darah dari jantung ke otak semakin sulit. Hal ini dapat membuat orang yang terkena serangan jantung akan semakin tidak sadar dan mempersulit pertolongan pijat jantung luar.

Habibie juga menyampaikan bagi orang-orang yang hobi berolahraga harus mawas terhadap kondisi tubuhnya sendiri. Apabila memiliki risiko penyakit jantung atau serangan jantung, ia menyarankan menghindari olahraga yang bersifat kompetitif.

“Pasien harus tahu kapan harus berhenti apabila mulai dirasakan dada tidak nyaman. Durasi olahraga yang aman bagi pasien jantung yang berisiko mengalami serangan jantung harus ditentukan berdasarkan uji latih jantung yang dilakukan oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah,” pungkasnya

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News


No More Posts Available.

No more pages to load.