KabarBaik.co, Jember – Di dunia yang kini dipenuhi deepfake dan editan foto yang nyaris sempurna, selembar ijazah atau dokumen tanah digital kini tak lagi bisa dipercaya begitu saja. Namun, seorang pakar dari Universitas Jember (Unej) baru saja menemukan senjata baru untuk melawan pemalsuan tersebut.
Bukan dengan teknologi rumit yang memakan daya komputer tinggi, melainkan dengan rumus matematika kuno, Persegi Ajaib (Magic Square).
Prof. Kiswara Agung Santoso, Guru Besar FMIPA Universitas Jember berhasil mengembangkan metode autentikasi gambar yang mampu melacak jejak manipulasi hingga ke level piksel terkecil.
Inspirasi riset ini ternyata datang dari hal yang sangat dekat dengan keseharian kita. Kiswara sering melihat foto-foto di media sosial di mana kepala seseorang ditempelkan ke tubuh orang lain secara mulus.
“Dari situ muncul pertanyaan: apakah ada cara untuk menunjukkan bagian mana yang sebenarnya telah dimanipulasi secara akurat?” ujar Kiswara.
Metode ini menggunakan teknik steganografi, yaitu seni menyembunyikan pesan rahasia di dalam sebuah media. Kiswara memanfaatkan konsep Magic Square berukuran 3×3 sebuah susunan angka di mana jumlah baris, kolom, dan diagonalnya selalu sama.
Berikut adalah cara kerja sistem cerdas ini :
1. Penyisipan “Sidik Jari”: Gambar dibagi menjadi blok-blok kecil (3×3 piksel). Di setiap blok, disisipkan kode matematika magic square pada komponen warna terkecil.
2. Kasat Mata: Secara visual, foto tidak berubah sama sekali. Mata manusia tidak akan bisa membedakan mana foto asli dan mana foto yang sudah “diberi pengaman”.
3. Alarm Otomatis: Saat foto dicek keasliannya, sistem akan memvalidasi apakah pola angka di tiap blok masih sesuai aturan magic square.
4. Deteksi Presisi: Jika ada perubahan sekecil apa pun—bahkan hanya sekadar mengubah kecerahan atau mengedit satu titik piksel—pola matematis tersebut akan rusak. Sistem akan langsung menandai area yang diedit dengan warna putih mencolok.
Dalam simulasinya, Kiswara mencoba melakukan manipulasi ekstrem, seperti mengganti bagian kepala atau tubuh objek dalam foto. Hasilnya mengesankan: sistem secara otomatis dan instan memutihkan area yang telah diganti, memberikan bukti tak terbantahkan bahwa gambar tersebut telah dimodifikasi.
Berbeda dengan teknik lain yang biasanya rumit dan berat secara komputasi, metode Magic Square ini jauh lebih sederhana namun lebih efektif dalam menandai lokasi manipulasi secara spesifik.
Temuan yang awalnya dipublikasikan di konferensi internasional IC-MaGeStiC ini kini telah resmi terdaftar sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Saat ini, Kiswara dan tim tengah mengubah prototipe MATLAB tersebut menjadi aplikasi praktis yang bisa digunakan oleh institusi pemerintahan maupun hukum.
Bagi Kiswara, inovasi ini adalah bukti bahwa matematika bukan sekadar angka-angka membosankan di papan tulis.
“Matematika menjadi jauh lebih bermakna ketika kita berani menerapkannya untuk menyelesaikan persoalan nyata. Di tengah maraknya manipulasi informasi, pendekatan matematis mampu memberikan solusi yang objektif dan dapat dipercaya,” tutupnya. (*)






