Linggis Menjelang Sahur: Misteri Pembunuhan Aktivis Buruh Ermanto Terkuak

oleh -84 Dilihat
ERMANTO USMAN
Ermanto Usman (korban) dan Sudriman terduga pelaku (kanan)

KabarBaik.co, Jakarta- Malam di Pondok Gede, Bekasi, itu berubah menjadi mimpi buruk ketika seorang aktivis yang vokal membongkar dugaan korupsi di sektor pelabuhan ditemukan bersimbah darah di rumahnya sendiri. Kematian Ermanto Usman, mantan anggota serikat pekerja PT Jakarta International Container Terminal (JICT) sempat memunculkan spekulasi pembunuhan berencana.

Namun, belakangan Polda Metro Jaya akhirnya mengungkap fakta berbeda. Ternyata, terduga pelaku yang telah dibekuk mengaku datang hanya untuk merampok. Bukan motif lain berkaitan dengan kasus korupsi yang mengemuka ke ruang publik.

Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menyatakan pembunuhan terhadap Ermanto Usman bermotif murni perampokan. Tersangka berinisial S alias Sudirman, 28, menurut polisi, tidak memiliki hubungan pribadi dengan korban.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Iman Imanuddin menjelaskan bahwa tersangka telah beberapa kali melakukan pencurian di berbagai lokasi sebelum mendatangi rumah korban. “Jadi dua sampai tiga kali mencuri di tempat berbeda. Pernah juga mengambil motor,” kata Iman dalam konferensi pers di Markas Polda Metro Jaya, Rabu (11/3).

Menurut keterangan polisi, tersangka memilih rumah Ermanto karena bangunannya tampak paling mencolok dibanding rumah lain di sekitar lokasi. Saat beraksi, S menggunakan sebuah linggis untuk membobol jendela rumah korban.

Namun aksi pencurian itu berubah menjadi tragedi. Ketika dipergoki pemilik rumah, tersangka panik dan memukul Ermanto serta istrinya dengan linggis yang dibawanya. Alat tersebut bahkan diketahui merupakan hasil curian dari lokasi lain.

Setelah melakukan penganiayaan, tersangka membawa sejumlah barang milik korban, antara lain perhiasan, dua unit ponsel, sebuah laptop, serta uang tunai sekitar Rp500 ribu. Salah satu ponsel korban sempat dijual ke sebuah konter sebelum akhirnya diamankan oleh polisi.

Penyidik saat ini masih melakukan pemeriksaan digital terhadap perangkat tersebut untuk memastikan kemungkinan adanya informasi penting lain yang berkaitan dengan kasus ini.

“Kami masih melakukan pemeriksaan digital. Jika ada fakta hukum lain yang muncul, tentu akan kami sampaikan agar kasus ini terang benderang,” ujar Iman.

Peristiwa tragis itu terjadi pada Senin, 2 Maret 2026, di rumah korban di kawasan Pondok Gede, Bekasi. Ermanto ditemukan bersimbah darah di samping istrinya yang hingga kini masih menjalani perawatan dalam kondisi kritis.

Meski polisi menyatakan motif perampokan, keluarga korban sempat mencurigai adanya unsur pembunuhan berencana. Kakak kandung korban, Dalsaf Usman, menilai kematian adiknya patut didalami lebih jauh karena latar belakang Ermanto sebagai aktivis yang aktif mengungkap dugaan korupsi di sektor pelabuhan.

“Apalagi kalau dikaitkan dengan almarhum sebagai aktivis,” kata Dalsaf kepada awak media.

Sebelum meninggal, Ermanto diketahui kerap mengangkat isu dugaan penyimpangan di PT Jakarta International Container Terminal (JICT) dan PT Pelabuhan Indonesia II. Ia bahkan sempat menjadi narasumber dalam sebuah podcast yang membahas kontroversi perpanjangan kontrak JICT dengan perusahaan asal Hong Kong, Hutchinson Port Holding.

Ermanto juga tercatat sebagai mantan karyawan JICT yang dipecat setelah ikut menolak perpanjangan kontrak tersebut. Ia menilai nilai perpanjangan kontrak tidak mencerminkan nilai yang seharusnya diterima negara.

Dalam sebuah forum rapat panitia khusus Pelindo II pada 2015, Ermanto pernah menyuarakan keprihatinannya terhadap pengelolaan pelabuhan. “Banyak hal di pelabuhan ini dari dulu menyimpang, dan kami merasa JICT sudah seharusnya dikelola oleh bangsa sendiri,” ujarnya saat itu.

Kini, di tengah penyelidikan yang masih berjalan, polisi memastikan akan terus menelusuri setiap kemungkinan yang muncul dari proses penyidikan kasus kematian aktivis tersebut.

Kronologi Kejadian 

Ermanto Usman, 65, tewas setelah menjadi korban pembunuhan. Sementara itu, istrinya berinisial P,  60, mengalami luka-luka akibat serangan pelaku. Peristiwa ini kali pertama diketahui oleh anak perempuan korban pada Senin (2/3) dini hari menjelang waktu sahur. Saat kejadian, sang anak berada di kamar lantai dua rumah, sedangkan kedua orang tuanya berada di lantai bawah.

Menurut Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota Kompol Andi Muhammad Iqbal, biasanya anak korban dibangunkan oleh ibunya untuk membantu persiapan memasak sahur. Namun hingga mendekati pukul 04.00 WIB, tidak ada yang membangunkannya.

Merasa curiga, anak korban kemudian turun ke lantai bawah untuk mengecek kondisi orang tuanya. Saat itulah ia menemukan kedua orang tuanya telah menjadi korban penyerangan. Sang ayah, Ermanto Usman, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di lokasi kejadian. Sementara ibunya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.

Setelah mengetahui kejadian itu, laporan kemudian disampaikan kepada warga sekitar dan diteruskan ke pihak kepolisian setempat. Dari hasil pemeriksaan awal, polisi menduga rumah pasangan suami istri tersebut menjadi sasaran perampokan. Beberapa barang milik korban dilaporkan hilang, di antaranya gelang emas yang dikenakan korban serta dua kunci mobil.

Sebelumnya, kasus ini sempat menjadi atensi banyak tokoh. Termasuk anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Rieke Diah Pitaloka. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Jumat (6/3), Rieke menyampaikan bahwa kematian Ermanto perlu mendapat perhatian serius dari aparat penegak hukum. Dia menilai terdapat indikasi kuat bahwa peristiwa tersebut berkaitan dengan upaya membungkam suara kritis.

“Saya melihat ada indikasi kuat ini bukan sekadar pembunuhan, melainkan bentuk pembungkaman terhadap seseorang yang bersuara soal dugaan korupsi di sektor pelabuhan,” ujar Rieke.

Menurutnya, almarhum dikenal sebagai sosok yang berani menyuarakan dugaan penyimpangan yang terjadi di sektor strategis, khususnya di bidang kepelabuhanan. Sikap tersebut, kata Rieke, muncul dari dorongan hati nurani, bukan karena kepentingan pribadi.

Ia juga menilai kematian Ermanto menjadi kehilangan besar bagi upaya mengungkap praktik-praktik korupsi di tanah air. Bagi Rieke, keberanian orang-orang seperti Ermanto sangat penting dalam mendorong transparansi dan akuntabilitas publik. “Orang bisa saja dibungkam, tetapi kebenaran tidak boleh ikut dikubur,” tegasnya.

Rieke pun mendorong aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus tersebut secara transparan agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.  (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F. Noval
Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.