Nyadran Unik Sukomoro Nganjuk, Doa Dimulai Menunggu Isyarat Angin Utara atau Timur

oleh -151 Dilihat
WhatsApp Image 2026 05 15 at 1.21.25 PM
Ribuan warga Desa Sukomoro padati punden dalam tradisi Nyadran, dengan gunungan hasil bumi warga menunggu isyarat angin utara/timur sebelum berdoa (Tangkapan Layar)

KabarBaik.co, Nganjuk – Desa Sukomoro kembali bersolek. Aroma kemenyan dan masakan khas pedesaan menyeruak di udara, menandai tibanya bulan Selo dalam penanggalan Jawa.

Bagi warga setempat, ini bukan sekadar pergantian bulan, melainkan waktu untuk pulang ke akar tradisi melalui ritual nyadran. Sebuah selebrasi syukur yang memadukan doa khusyuk, riuhnya kesenian tradisional, dan sebuah penantian unik atas isyarat alam.

“Di bulan Selo hari Jumat Pahing ini, rangkaiannya sudah dimulai sejak Kamis kemarin. Ada Istigasah di punden atau kramatan yang kami sebut istilahnya manggulan,” ungkap Suprihatin, salah satu warga setempat yang nampak antusias mengikuti prosesi ini, Jumat (15/5).

Sejak pagi, area punden tidak pernah sepi. Warga berbondong-bondong datang membawa sesaji untuk mengadakan selamatan mandiri. Ini adalah momen personal antara hamba dan sang pencipta, di mana setiap doa yang dirapalkan merupakan wujud sedekah atas kelimpahan rezeki dan kesehatan yang telah diterima selama setahun terakhir.

“Di hari Kamis kemarin sebelum hari H sekarang ini, banyak warga mengadakan slametan sendiri-sendiri di punden. Itu adalah sedekah sebagai rasa syukur kepada Allah,” tambah Suprihatin menjelaskan esensi spiritual di balik keramaian tersebut.

Puncak acara terjadi pada Jumat Pahing. Punden berubah menjadi lautan manusia. Ribuan warga membawa berkat atau ambeng (nasi kotak khas kenduri), sementara perangkat desa mengusung Tumpeng Sedekah Bumi yang megah. Namun, ada satu hal unik yang membuat semua orang terdiam sejenak sebelum acara dimulai menunggu arah angin.

“Saat akan memulai acara, Modin yang memimpin doa tidak langsung berucap. Beliau harus menunggu isyarat angin dari arah utara atau timur, barulah doa mulai dipanjatkan,” jelasnya mengenai tradisi turun-temurun ini.

Setelah doa pamungkas diamini oleh ribuan warga, suasana khidmat seketika berubah menjadi pesta rakyat yang meriah. Alunan musik gamelan mulai bertalu-talu, menandai dimulainya hiburan yang dinanti-nanti.

Tidak tanggung-tanggung, panggung kesenian akan terus bergema hingga fajar menyingsing. “Hiburan Wayang Golek atau Timplong dan Kledek atau Tayub dimulai dari siang ini sampai pagi hari besok,” pungkas Suprihatin.

Nyadran di Desa Sukomoro bukan sekadar pesta pora. Ini adalah pengingat bahwa manusia, alam, dan Tuhan berada dalam satu garis harmoni yang indah. Di bawah embusan angin utara timur, warga Sukomoro melabuhkan harap agar bumi tetap subur dan kerukunan tetap terjaga hingga Nyadran tahun depan kembali menyapa. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Agus Karyono
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.