Potret bangunan sekolah kosong, tempat ibadah yang tak lagi digunakan, kantor desa tanpa aktivitas, hingga proyek jalan tol mangkrak masih terlihat jelas 20 tahun setelah semburan lumpur Lapindo yang mengubah kawasan Porong, Sidoarjo dan sekitarnya.
Di kawasan terdampak, sejumlah bangunan pendidikan seperti TK, SD Penjarakan, hingga TK dan SDN Mindi di Kecamatan Porong kini terbengkalai. Ruang kelas yang dahulu ramai aktivitas belajar kini hanya menyisakan bangunan kusam tanpa penghuni dan dipenuhi rumput liar.
Tak hanya sekolah, sejumlah tempat ibadah seperti masjid dan mushola juga tampak sepi tanpa aktivitas jamaah. Bangunan yang dulunya menjadi pusat kegiatan warga kini berdiri kosong di tengah kawasan terdampak lumpur.

Warga sekitar, Rudi Hartono, mengatakan sejak awal bencana terjadi para siswa sudah direlokasi ke sekolah lain demi keselamatan. Aktivitas pendidikan dipindahkan ke wilayah yang dinilai aman dari ancaman lumpur.
“Dari awal adanya bencana lumpur Lapindo para siswa direlokasi ke sekolah terdekat. Kalau SD ke SDN Kesambi, sedangkan SMP dipindah ke Desa Lajuk dekat pom bensin,” ujarnya kepada KabarBaik.co, Jumat (29/5).
Dampak lumpur Lapindo juga membuat bangunan pelayanan publik ikut ditinggalkan. Kantor Desa Mindi yang dulunya menjadi pusat pelayanan warga kini kosong tanpa aktivitas setelah kawasan tersebut terdampak lumpur.
Selain itu, proyek pembangunan jalan tol Sidoarjo–Pasuruan yang sempat direncanakan melintas di area terdampak juga harus dihentikan. Sebagian konstruksi bahkan telah tertimbun lumpur dan dibiarkan mangkrak hingga sekarang.
“Rencananya dulu ada tol, Mas. Tapi bangunan itu sekarang terbengkalai yang dekat embung yang dikelola PPLS saat ini,” kata Rudi.
Warga kini mengenal proyek mangkrak tersebut dengan sebutan ’tol buntung’. Potret sekolah kosong, tempat ibadah yang sepi, kantor desa mati aktivitas, hingga jalur tol yang tak tersambung menjadi saksi bagaimana Lumpur Lapindo meninggalkan perubahan besar di kawasan Porong meski dua dekade telah berlalu.(*)







