KabarBaik.co, Klaten – PTPN I Regional 5 mulai mengembangkan kembali komoditas tembakau di Klaten, Jawa Tengah. Langkah tersebut ditandai dengan kegiatan tanam perdana tembakau tahun tanam 2026 di Kecamatan Kebonarum yang dibarengi penyaluran bantuan sumur bor dan mesin pompa air bagi petani setempat.
Kegiatan yang dipimpin Region Head PTPN I Regional 5, Subagiyo, itu dihadiri jajaran manajemen perusahaan, kepala desa, tokoh masyarakat, serta kelompok tani penerima manfaat.
Subagiyo mengatakan perluasan areal tanam menjadi salah satu upaya perusahaan menghidupkan kembali potensi tembakau Klaten. Pada tahun ini, luas tanam ditingkatkan dari 25 hektare menjadi 50 hektare.
“Tanam perdana tahun ini menjadi momentum penting bagi pengembangan tembakau Klaten. Dengan peningkatan luas tanam dari 25 hektare menjadi 50 hektare, kami optimistis komoditas ini dapat terus berkembang, membuka lapangan kerja, serta memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” kata Subagiyo dalam keterangannya, Sabtu (6/6).
Pada musim tanam 2026, PTPN I Regional 5 mengembangkan tembakau jenis Besuki Na-Oogst yang ditanam di bawah naungan (TBN). Komoditas ini merupakan salah satu produk unggulan perusahaan yang menyasar pasar ekspor dengan nilai ekonomi tinggi.
Perusahaan menargetkan produktivitas mencapai 1.700 kilogram per hektare. Masa budidaya berlangsung sekitar tujuh bulan dengan frekuensi panen satu kali dalam setahun. Hasil produksinya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan industri cerutu premium dengan pasar utama Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa.
Menurut Subagiyo, tantangan utama budidaya
tembakau saat ini adalah kondisi cuaca yang tidak menentu serta keterbatasan tenaga kerja di lapangan. Meski demikian, perusahaan terus melakukan berbagai upaya untuk menjaga kualitas produksi.
Beberapa langkah yang dilakukan antara lain pengaturan naungan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, pemupukan berimbang, hingga optimalisasi pengelolaan air agar produktivitas tetap terjaga.
Selain fokus pada pengembangan komoditas, PTPN I Regional 5 juga menyalurkan bantuan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Bantuan yang diberikan berupa 38 titik sumur bor dan tujuh unit mesin pompa air untuk mendukung kebutuhan air pertanian masyarakat.
Bantuan tersebut tersebar di tujuh desa, yakni Towangsan, Sukorejo, Jetis, Pluneng, Nglinggi, Manjung, dan Karanglo dengan total nilai program mencapai Rp 99,9 juta.
Salah satu petani penerima manfaat dari Desa Sukorejo, Dalino, mengaku bantuan tersebut sangat membantu petani, terutama saat musim kemarau.
“Adanya bantuan sumur bor dan mesin pompa air dari PTPN I ini sangat meringankan beban para petani yang sebelumnya kesulitan mendapatkan akses air untuk lahan pertanian,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bagian Sekretariat dan Umum PTPN I Regional 5, Reggy Irawan Setiyobudi, mengatakan program tersebut diharapkan mampu meningkatkan ketersediaan air bagi sektor pertanian sehingga petani dapat meningkatkan intensitas tanam.
Menurutnya, program TJSL tersebut dijalankan dengan pendekatan Creating Shared Value (CSV), yakni menciptakan manfaat bersama antara perusahaan dan masyarakat secara berkelanjutan.
Berdasarkan evaluasi perusahaan, program itu mencatat Social Return on Investment (SROI) sebesar 16,19. Nilai tersebut menunjukkan manfaat yang diterima masyarakat dinilai jauh lebih besar dibandingkan investasi yang dikeluarkan perusahaan.
PTPN I Regional 5 berharap perluasan areal tanam tembakau di Klaten tidak hanya meningkatkan produksi komoditas ekspor, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja baru dan menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. (*)






