KabarBaik.co, Surabaya – Suasana Ramadan yang biasanya identik dengan meningkatnya aktivitas belanja justru terasa berbeda di Darmo Trade Center, Surabaya, tahun ini.
Pusat perbelanjaan yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu sentra busana tersebut tampak lebih lengang dibandingkan Ramadan pada tahun-tahun sebelumnya.
Pantauan di lokasi pada pekan kedua Ramadan menunjukkan lorong-lorong pusat perbelanjaan terlihat sepi, terutama pada siang hingga sore hari.
Sejumlah kios pakaian yang biasanya ramai oleh pembeli kini tampak lebih sunyi. Bahkan, beberapa pedagang mengaku harus menunggu cukup lama sebelum ada pelanggan yang datang ke tokonya.
Salah satu pedagang busana muslim, Siti Fatimah, 45 tahun, mengungkapkan bahwa kondisi tahun ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Ia menyebut omzet penjualannya turun cukup tajam.
“Dulu menjelang Lebaran seperti ini sudah ramai. Sekarang pembeli jauh berkurang. Kadang sehari tidak sampai sepuluh orang yang masuk toko,” ujarnya saat ditemui di kiosnya, Jumat (6/3).
Kondisi sepinya pengunjung di DTC juga sempat menjadi perbincangan di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah video yang memperlihatkan lorong pusat perbelanjaan yang lengang beredar luas dan memicu berbagai komentar warganet.
Sebagian warganet menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi pedagang, sementara lainnya membandingkan suasana tersebut dengan pusat perbelanjaan modern di Surabaya yang masih dipadati pengunjung selama Ramadan.
Para pedagang menilai perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu faktor utama turunnya jumlah pembeli. Masyarakat kini semakin terbiasa berbelanja secara daring melalui berbagai platform e-commerce yang menawarkan kemudahan transaksi, diskon menarik, hingga layanan pengiriman langsung ke rumah.
Di sisi lain, sebagian konsumen juga mulai beralih ke pusat perbelanjaan modern yang dinilai lebih nyaman. Fasilitas pendingin ruangan yang lebih baik, area parkir luas, serta keberadaan berbagai merek ternama membuat tempat-tempat tersebut menjadi alternatif pilihan untuk berbelanja sekaligus bersantai.
Menghadapi perubahan tersebut, sejumlah pedagang di DTC mulai berupaya beradaptasi. Beberapa di antaranya membuka toko daring di marketplace, memanfaatkan promosi melalui media sosial, hingga menawarkan potongan harga khusus selama Ramadan untuk menarik minat pembeli.
Meski demikian, harapan masih tersisa. Menjelang Idul Fitri, para pedagang berharap lonjakan belanja pada hari-hari terakhir Ramadan tetap terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Biasanya H-7 sampai H-3 Lebaran ada peningkatan. Kami masih berharap pembeli datang,” tutur Siti Fatimah.
Sementara itu, Dosen Sosiologi dari Universitas Muhammadiyah Malang saat dikonfirmasi, Aan Sugiharto menilai fenomena ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor daya beli masyarakat, tetapi juga perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan.
Menurutnya, aktivitas belanja saat ini tidak lagi sekadar transaksi ekonomi, melainkan juga bagian dari pengalaman sosial.
“Masyarakat cenderung memilih tempat yang menawarkan kenyamanan, hiburan, dan citra modern. Di sisi lain, kemudahan teknologi membuat belanja online semakin diminati,” ujarnya.
Ia menambahkan, pusat perbelanjaan konvensional perlu beradaptasi dengan perubahan tersebut agar tetap relevan di tengah persaingan dengan platform digital maupun pusat perbelanjaan modern.







