KabarBaik.co, Surabaya – PT Terminal Teluk Lamong (TTL) memperkuat kolaborasi dengan Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (DPC APTRINDO) Kota Surabaya guna meningkatkan efisiensi layanan logistik dan kelancaran distribusi barang di Jawa Timur.
Komitmen tersebut mengemuka dalam forum dialog dan diskusi yang digelar di Kantor PT Terminal Teluk Lamong. Pertemuan dihadiri Ketua DPC APTRINDO Kota Surabaya I Wayan Sumadita, Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong David P. Sirait, Terminal Head TPK Teluk Lamong Pierre Rochel Tumbol, serta jajaran pengurus APTRINDO dan manajemen terminal.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas berbagai isu operasional yang kerap dihadapi di lapangan, mulai dari pola kedatangan kendaraan, kepadatan arus truk pada jam-jam tertentu, hingga upaya meningkatkan kelancaran layanan logistik di kawasan pelabuhan.
Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong David P. Sirait mengatakan APTRINDO merupakan mitra strategis dalam rantai pasok logistik nasional. Karena itu, masukan dari pelaku usaha angkutan barang menjadi bagian penting dalam evaluasi dan pengembangan layanan terminal.
“Pertumbuhan arus logistik harus diimbangi dengan koordinasi yang baik antar seluruh pemangku kepentingan. Kolaborasi menjadi kunci untuk meningkatkan kinerja dan efisiensi layanan di pelabuhan,” kata David, Jumat (5/6).
Menurutnya, dari sisi kapasitas, Terminal Petikemas Teluk Lamong masih memiliki ruang yang cukup untuk mengakomodasi pertumbuhan arus barang. Terminal tersebut memiliki kapasitas lapangan penumpukan hingga 1,4 juta TEUs per tahun yang didukung fasilitas gerbang modern dan peralatan bongkar muat berbasis otomasi.
Namun demikian, tantangan yang masih perlu dikelola bersama adalah pola kedatangan kendaraan yang belum merata. David menjelaskan, antrean berpotensi terjadi ketika sebagian besar truk datang pada waktu yang bersamaan, meskipun kapasitas terminal masih tersedia.
“Yang perlu dikelola bersama bukan hanya kapasitas terminal, tetapi juga pola kedatangan kendaraan. Kedisiplinan terhadap jadwal operasional sangat menentukan kelancaran layanan,” ujarnya.
Sebagai bagian dari transformasi operasional, TTL telah menerapkan Terminal Booking System (TBS) Stage 2 sejak Maret 2026. Sistem ini mengatur kedatangan kendaraan berdasarkan slot waktu operasional selama empat jam sehingga distribusi arus truk dapat lebih merata sepanjang hari.
Meski demikian, tingkat kepatuhan pengguna jasa terhadap jadwal yang telah dibooking masih sekitar 33 persen. Sebagian besar kendaraan masih datang lebih awal atau lebih lambat dari slot waktu yang dipilih sehingga memicu penumpukan pada jam-jam tertentu.
Karena itu, TTL bersama APTRINDO mendorong peningkatan disiplin operasional agar manfaat implementasi TBS dapat dirasakan secara optimal oleh seluruh pengguna jasa.
Melalui sistem tersebut, terminal dapat meningkatkan utilisasi peralatan, mengurangi potensi antrean di area gate, meningkatkan produktivitas layanan, serta memberikan kepastian waktu pelayanan bagi pengguna jasa.
TTL juga menyediakan Green Shelter atau area tunggu yang mampu menampung hingga 66 truk. Fasilitas ini disiapkan untuk memberikan kenyamanan bagi pengemudi yang menunggu jadwal layanan sekaligus membantu mengurangi kepadatan kendaraan di area operasional pelabuhan.
Ketua DPC APTRINDO Kota Surabaya I Wayan Sumadita menyambut baik keterbukaan manajemen TTL dalam menerima berbagai masukan dari pelaku usaha transportasi logistik.
Menurutnya, komunikasi yang terbuka penting untuk mencari solusi bersama atas berbagai tantangan operasional yang terjadi di lapangan.
Dalam kesempatan itu, APTRINDO juga menyampaikan sejumlah usulan, di antaranya kajian jalur pelayanan khusus untuk kontainer reefer guna mendukung percepatan layanan kargo berpendingin, pengembangan kapasitas buffer area untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan, serta peningkatan koordinasi dengan perusahaan pelayaran terkait ketersediaan kontainer kosong bagi pelanggan.
Menanggapi masukan tersebut, manajemen TTL menyatakan akan melakukan evaluasi lebih lanjut bersama para pemangku kepentingan terkait dengan mempertimbangkan aspek operasional, keselamatan, efisiensi layanan, serta dampaknya terhadap kelancaran rantai logistik.
Di sisi lain, perwakilan perusahaan transportasi logistik Bigtrans, Mila, menilai pelayanan Terminal Teluk Lamong terus menunjukkan perbaikan dalam beberapa tahun terakhir.
“Secara umum pelayanan dan operasional di Terminal Teluk Lamong semakin baik dan semakin tertata. Ruang dialog seperti ini juga penting karena berbagai persoalan di lapangan dapat dibahas secara terbuka dan konstruktif,” ujarnya.
Ia menambahkan, perusahaan trucking juga memiliki tanggung jawab untuk mendukung peningkatan kualitas layanan melalui kedisiplinan operasional, peningkatan kompetensi pengemudi, serta pengaturan jadwal pengiriman dan pengambilan petikemas agar kedatangan kendaraan lebih merata.
Melalui forum tersebut, TTL dan APTRINDO sepakat untuk terus memperkuat koordinasi dan komunikasi guna menciptakan sistem logistik yang lebih efisien, andal, dan berdaya saing. Kedua pihak menilai efisiensi waktu pelayanan menjadi kebutuhan bersama sehingga sinergi antara pengelola terminal dan pengguna jasa harus terus ditingkatkan untuk mendukung kelancaran arus logistik nasional. (*)






